Carina Damayanti James. Begitulah orang tuaku memberiku nama. Gara-gara punya nama belakang James, orang seringkali mengiraku setengah bule. Memang wajahku mirip bule meski kulitku itu sangat cokelat seolah-olah aku pergi ke pantai setiap hari. Banyak yang bilang aku cantik, dan aku rasa aku lumayan. Potongan rambutku biasanya kubiarkan panjang. Terkadang aku mengganti warna rambutku, tetapi warna aslinya adalah cokelat tua seperti warna mataku.

James itu nama bapakku. Kalau ibuku namanya Polly. Mereka berdua berasal dari suku Manado. Bapakku bilang kalau ayah dari kakek buyutku memang merupakan orang Belanda. Jadi ya aku seperenambelas bule. Bapak dan ibuku sendiri tidak terlihat seperti orang bule meski wajah bapakku sangat mirip denganku.

Aku tidak memiliki saudara kandung. Kami bertiga tinggal di sebuah rumah yang kecil namun sangat nyaman. Ayahku adalah seorang arsitek, sementara ibuku berprofesi sebagai jurnalis. Ibuku menyukai hal-hal mengenai politik atau sejarah. Aku tidak peduli sama sekali mengenai hal itu. Aku rasa aku lebih mirip ayahku yang menyukai keindahan sebuah benda meski di area yang berbeda. Ayahku suka gedung-gedung bagus, sementara aku suka baju dan sepatu bagus.

Hubunganku dengan kedua orang tuaku sangat dekat. Mereka tergolong muda saat melahirkan aku. Ibuku saat itu 20 tahun dan ayahku 24. Mereka jatuh cinta dengan cepat, berteman baik selama 6 bulan, dan tanpa banyak berpikir panjang, ayahku langsung melamar ibuku. Gaya hidup mereka cukup santai dan mereka senang jalan-jalan.

Sewaktu kecil aku sering dibawa mereka bepergian keliling Indonesia dengan budget minimum. Mereka bukanlah orang kaya raya, tetapi kami sangat berkecukupan. Orang tuaku tidak pernah membelikanku baju yang mahal apalagi gadget yang canggih. Aku selalu bersekolah di sekolah negeri. Ada masanya aku minder melihat teman-temanku yang lebih berada daripada aku.

Kamu cantik deh. Kita main yuk!”, kata seorang anak perempuan di sekolahku ketika aku masih SD. Masa minderku cepat berlalu karena uang sebanyak apa pun nyatanya tetap memiliki keterbatasan untuk memperindah tampilan fisik seseorang. Menjadi teman dekatku mungkin, mungkin lho, membuat beberapa orang merasa lebih baik soal dirinya.

Sepertinya kecantikan membuat hidupku  mudah. Aku tidak pernah memaksakan diri membeli barang yang aku tidak mampu beli. Aku tidak pernah berusaha mengimbangi gaya hidup orang lain yang orang tuaku tidak bisa penuhi. Awalnya karena aku cukup percaya diri dengan kondisi diriku, tetapi lama kelamaan para lelaki mulai membelikanku berbagai benda dan membayariku macam-macam hanya untuk menarik perhatianku. Aku hampir tidak pernah minta lho!

Tidak ada ceritanya aku pernah berusaha untuk diterima sebuah lingkaran pertemanan tertentu. Keadaannya selalu orang lain yang ingin masuk ke lingkaran pertemananku. Aku diundang ke semua pesta dan meski aku bukan peringkat tiga teratas, nilai-nilaiku lumayan. Lalu salah satu yang aku banggakan, aku  berhasil menjadi prom queen saat SMU.

Aku kemudian melanjutkan sekolah di La Salle jurusan Fashion Business. Semasa kuliah aku sempat magang di sebuah majalah remaja untuk rubrik fashion. Sehabis lulus, aku menjadi pegawai tetap di majalah tersebut. Meskipun pekerjaannya menyenangkan, gajinya hanya sedikit. Aku pada dasarnya ingin menjadi seorang designer. Aku memiliki gambar desain baju yang kusimpan sendiri. Enaknya bekerja di media, aku dapat bertemu banyak orang. Network-ku sangat luas dan kita harus pintar-pintar memanfaatkan hal itu. Aku selalu membawa gambar desain bajuku karena aku tidak pernah tau momen-momen yang tepat untuk ‘jual diri’. Beruntung suatu hari ada satu brand fashion lokal cukup terkenal yang menawariku untuk bekerja sebagai designer. Tetapi syaratnya aku harus bisa menjahit. Dasar gaya, aku memutuskan untuk belajar ‘menjahit’ di Esmod dan keluar dari majalah tempatku bekerja, meskipun aku baru bekerja beberapa bulan. Aku mengambil program satu tahun untuk jurusan fashion design and pattern drafting. Daaaan jadilah aku sebagai designer tetap untuk brand tersebut. Brand tersebut sayangnya hanya menjual pakaian batik. Sebenarnya kurang sesuai dengan selera fashionku yang berkiblat ke Eropa. Tetapi untuk awal karir ini cukup bagus dan batik pun bisa dibuat sangat trendy.

Cukup cerita soal karirku. Mengenai pergaulanku, aku punya real friends dan fake friends. Aku punya seribu cerita mengenai fake friends yang aku miliki, sedangkan real friendsku tidak terlalu banyak. Yang aku sebut real friends adalah orang-orang yang tidak membuatku memiliki kebutuhan untuk membuat mereka terkesan. Dahulu aku punya sahabat yang sangat dekat, namanya Arman. Namun semakin dewasa sepertinya aku membutuhkan sahabat perempuan, dan aku mulai dekat dengan Arya, adik kembar dari Arman. Arya adalah sahabat perempuan paling baik yang bisa dimiliki seorang wanita. Aku merasa tidak pernah ada persaingan di antara kami dan aku yakin Arya tidak pernah membicarakan aku di belakangku. Aku percaya karena  selama ini ia selalu memuntahkan semua hal yang tidak ia sukai di depan mukaku.

Saat ini aku tinggal di sebuah paviliun kecil bersama Arya dan Lego, teman baikku yang lain. Alasanku keluar dari rumah bukan karena aku tidak betah berada di rumah bersama kedua orang tuaku. Aku hanya ingin mampu mengurus diriku sendiri dan tidak hidup dari biaya mereka.

Aku menganggap bahwa hubunganku dengan kedua orang tuaku sangat harmonis. Setidaknya dua minggu sekali aku masih pulang ke rumah orang tuaku. Aku cukup senang dengan keadaan ini karena sekarang orang tuaku kembali menikmati masa pacaran. Mereka berdua super keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s