Nama saya Hagan Arman. Saya merupakan lulusan S1 jurusan arsitektur dari Universitas Parahyangan. Saat ini saya bekerja tetap sebagai seorang lighting designer di sebuah perusahaan bernama Lumona. Pekerjaan saya terkadang membuat saya harus mendekam beberapa hari di kantor atau di kamar saya untuk menyelesaikan desain. Saya memang tidak selalu harus mengerjakan pekerjaan saya di kantor, yang penting projek-projek kantor dapat selesai.

Jika tidak mengerjakan projek dari kantor, saya tetap senang mendekam di kamar saya untuk mengerjakan komposisi musik saya, mendengarkan lagu, atau bermain gitar dan piano. Saya les komposisi secara privat dengan salah satu konduktor yang saya kenal. Ada juga keinginan untuk menjadi seorang konduktor, namun untuk saat ini sepertinya saya ingin fokus untuk belajar komposisi dahulu saja. Ini pun sudah sangat menyita waktu.

Kamar saya terletak di bawah tanah dari rumah utama yang dimiliki adik saya, Arla. Kamar tersebut merupakan tempat ternyaman di dunia bagi saya. Di luar ruang pribadi saya tersebut, saya menemukan banyak drama dengan intensitas yang bermacam-macam. Anehnya saya sendiri stagnan dengan realita sosial. Saya berusaha untuk tidak terseret ke dalam drama yang ada. Kalau dunia ini adalah panggung sandiwara, sepertinya banyak orang berebutan ingin mengambil peran dalam lakon-lakonnya. Alasan itu membuat saya memutuskan untuk lebih sering menjadi penonton.

Ngomong-ngomong ini contoh drama yang terjadi di sekitar saya. Atasan saya harus pergi keluar negeri. Ternyata di hari ia akan berangkat, ia baru menyadari kalau passport-nya akan expired keesokan harinya. Semua orang lalu kena ‘jatah’ akan kecerobohan dia. Reaksi orang bermacam-macam. Saya sih memilih untuk membantunya mengubah jadwal keberangkatan dia dan berkata “Biarpun Bapak tidak sempurna, Bapak tetap bos saya”.

Contoh lain adalah kolega saya yang hampir meninggal karena tersedak biji salak, kemudian menganggap bahwa dirinya kini harus menjadi lebih religius. Tak cukup dengan rajin sholat 5 waktu, teman saya berkeinginan untuk membuat orang lain menjadi umat Islam yang sangat taat. Pemaksaan-pemaksaan nilai pun dimulai. Ada orang-orang yang kagum terhadapnya, dan ada orang-orang yang membencinya. Kubu pun terbentuk, sementara saya hanya berada di tengah-tengah namun seringkali dihasut untuk memihak salah satu.

Sekarang contoh terakhir. Dua rekan kerja saya yang berpacaran tiba-tiba putus. Salah satu dari mereka menangis-nangis kepada saya sewaktu saya sedang mengejar deadline. Akhirnya saya membiarkannya menangis sambil saya multitasking untuk mendengarkan dia sambil mengedit desain. Dan juga sambil ditonton oleh bos saya. Hal-hal semacam itulah yang terkadang membuat saya menginginkan ketenangan. Kadang ada orang yang menganggap saya dingin atau cuek. Err kalau saya cuek, kenapa kalian sering sekali curhat ke saya ya? Apakah pendengar yang terbaik adalah pendengar yang cuek? Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pendengar yang tidak ada kepentingan dengan masalah yang bersangkutan.

Namun secuek-cueknya, saya bisa melupakan segala prinsip moral jika ada yang berusaha menyakiti keluarga saya atau orang-orang terdekat saya. Terutama kedua adik saya Arla dan Arya. Saya mempercayai mereka berdua lebih dari siapa pun. Kalau mereka berkata ada yang menyakiti atau mengancam mereka, saya tidak akan repot-repot mencari tau apakah mereka pihak yang benar atau bukan karena saya percaya bahwa mereka berdua memiliki penilaian yang baik terhadap berbagai hal. Saya tidak akan berpikir dua kali untuk membuat mereka tetap aman. Apa pun caranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s