2.02 Yeah Bro

“Duh ini album Paris ya”, Arya berkomentar saat mendengar musik yang sedang dipasang di kamar Arman, kakak kembarnya.

“ya Sonatine: III: Clair”, ujar Arman yang sedang berada di depan komputer yang terletak di kamarnya. Arya merebahkan diri di tempat tidur di kamar Arman. Arya dapat melihat punggung kakak kembarnya yang duduk di kursi. Kakaknya mengenakan sweater berwarna biru tua.

“Kangen juga”, sahut Arya mengomentari lagu yang diputar di komputer kakak kembarnya.

“Udah lama nggak main musik ya?”, ujar Arman sambil pandangannya tetap fokus ke layar komputer.

“Iya.”

“Coba aja main lagi.”

“Nggak bakat Bang.”

“Bukan buat profesional. Supaya otak lebih aktif aja. Sama buat kedamaian perasaan lo Dek. Mumpung sekarang nggak ada beban profesional di musik, lo bisa main musik yang lo suka aja.”

“Kapan-kapan deh. Terakhir main pitch gue udah nggak karuan.”

“Sebulan main juga udah fit lagi.”

“Yeah.”

“Joker kemana?”, tanya Arman.

“Di rumahnya.”

“Nggak ke sini?”. Joker yang sekarang berpacaran dengan Arya hampir setiap hari absen mampir ke tempat tinggal mereka.

“Nggak. Gue mau ngerjain thesis. Kalau ada dia alamat nggak ngerjain apa-apa”, jawab Arya yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan S2nya.

“Lo seneng Dek pacaran sama dia?”, tanya Arman

“Seneng. Gue suka Bang rasanya punya harapan”, jawab Arya sambil matanya memandang ke arah langit-langit.

Arman menaikkan ujung bibir sebelah kanannya. Cara tersenyum Arman yang biasanya hanya menyungging sebelah.

“Joker? Harapan untuk apa?’, tanya Arman.

“Untuk bahagia?”, kata Arya.

“Masih harapan? Atau sekarang lo udah bahagia Dek?”

“Sekarang happy. Harapan dan kepositifan. Harapan kalo perasaan bahagia ini bisa selamanya. Naik turun pasti ada, tapi overall happy. Seneng sih gue ada yang nemenin. Ada yang bisa gue whatsapp setiap hari”, Arya menjelaskan sambil tersenyum senang. Arman tersenyum juga meskipun Arya tidak melihatnya.

“What about Mojo?”, tanya Arman mengenai mantan pacar Arya yang sejauh ini paling berkesan.

“I still love him.”

“What about Lego?”, Arman menanyakan mengenai sahabat Arya sejak kecil yang tinggal satu rumah bersama mereka.

“I love him too.”

Arman menaikkan sudut bibirnya kembali dan mengeluarkan senyum iritnya.

“Bagus kalau lo sadar Dek”, kata Arman.

“Yeah. And Joker is enough for me. He is good enough.”

“Yeah. Cinta kayak pengetahuan. The more you give the more you have. Terlalu pelit kalau cinta lo cuma lo kasih ke satu orang. Bukan berarti lo selingkuh ya”, kata Arman.

“Yeah.”, Arya menyetujui.

“Yeah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s