Ritme Hidup

Silahkan klik kalau mau membaca cerita mereka dari Pertama

Silahkan baca Actual Love dan Berkembang Perlahan Gpp, yang Penting Realistis  kalau mau membaca obrolan Arya dan Joker sebelumnya

Silahkan klik kalau mau membaca cerita Joker dan Arya lainnya

 

 

okay2

Ini adalah malam yang aneh bagi Arya. Joker bersikap agak manis kepadanya dan mereka saling bergandengan tangan. Kalau Lego yang menggandeng tangannya mungkin Arya akan merasa biasa saja. Tapi ini Joker!

Sudah bertahun-tahun Arya terbiasa saling ejek dengan Joker. Cara mereka saling mengejek berbeda dengan cara ia dahulu saling mengejek dengan Mojo. Arya mengetahui kalau Mojo sedang mengejeknya, tandanya ia sedang ingin berinteraksi dengan dirinya, sedang kangen, dan merupakan bentuk perhatian. Tapi Joker? Arya yakin ia serius dengan setiap ejekannya.

Buncit, ceroboh, aneh.

Arya sudah yakin bahwa Joker tidak melihatnya sebagai perempuan yang layak dikencani. Waktu di mana mereka sempat berpacaran adalah murni kekhilafan Joker belaka.

Arya merasakan Joker meremas tangannya semakin erat. Arya balas mempererat genggamannya.

“Sini”, Joker melepaskan genggamannya dan memegang pundak Arya sembari mendekatkan Arya kepada tubuhnya.

“Wah lo aneh ah!”, Arya langsung menjauh dari Joker.

“Dih kenapa sik? Sini!”, Joker berusaha menarik Arya.

“Aneh lo. Sumpah aneh!”, Arya masih menolak Joker.

“Dih tadi kan lu yang minta digandeng duluan!”, balas Joker.

“Nah ini baru bener nih. Kita tu kodratnya emang berantem Ker. Nggak pantes gandeng-gandengan sambil senyum-senyum kayak tadi.”

“Emang lu senyum-senyum?”

“Iya.”

“Kenapa?”, Joker tersenyum geli.

“Seneng.”

“Lu seneng gua gandeng?”

“Iya.”

“Ya udah sini”, Joker mencoba mengambil tangan Arya lagi. Kali ini Arya membiarkan Joker menggandeng tangannya.

“Eh Ker, lo lagi nggak mencoba ngedeketin gue kan?”

“I don’t know. Emang kenapa?”

“You’re not trying to …”

“Apa?”

“You’re not trying to…to…f**k me right?”

“What? Arya!”

“Hey I’m asking. Kalau enggak ya jawab aja enggak.”

“Enggak!”, Joker dapat merasakan dirinya sedikit tersinggung. Rupanya Arya juga menganggapnya brengsek.

“Liar!”

“Yeee enggak!”

“Nggak mungkin cowok nggak mikir gitu!”

“Okee mungkin sedikit. But I’m not holding your hand because I’m trying to get into your p*nts! Idiot! What kind of question is that?! Aneh lu! Gesrek banget jadi orang!”

Nah ini baru Joker yang Arya kenal.

“The kind of question every girl you’ve dated should ask”, jawab Arya.

“But they didn’t. Salah sendiri”, balas Joker.

Arya hanya tertawa kecil.

“Sini”, Joker berusaha merangkul pundak Arya lagi. Kali ini Arya membiarkan Joker merangkulnya. Arya tidak bisa menahan senyumnya saat ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Joker. Joker berusaha tidak tersenyum.

“Menurut lu hubungan kita bisa baik selamanya nggak?”, tanya Joker sambil tetap merangkul Arya dan berjalan kaki.

“Ya Oloh! Susah banget pertanyaan lo”, jawab Arya.

“Emang susah? Kan opini. Mana ada bener atau salah? Nggak susah dong?”, tantang Joker yang ingin mendapat jawaban dari Arya.

“Ker! Gila! Lo beneran sekarang jadi pinteran ya. Kayaknya otak gue nular deh ke elo. Itu adalah pertanyaan dan kalimat yang harusnya keluar dari mulut gue tau. Bukan dari mulut orang kaya elo!”, Arya menepuk dada Joker dengan keras. . Joker meringis kesakitan.

“Iya. Emang gua kayaknya berkembang jadi orang yang lebih baik. Atau mungkin jadi orang yang lebih gesrek.”

“Gila gue bangga!”, Arya berkata girang kemudian tertawa riang.

“Jawab. Jangan ngalihin topik. Kan lu orang yang paling suka kesel kalo pertanyaan lu nggak langsung dijawab”, Joker meminta pertanggung jawaban Arya.

“Jieeee gue banget tuh kalimatnya!!!!”

“Iya udah jawab buruan”, Joker berusaha supaya Arya menjawab pertanyaannya.

“Kalo bisa sih bisa-bisa aja. Tapi nggak bebas konflik. Menurut gue waktu itu sangat menentukan. Tergantung apa yang lagi terjadi di kehidupan kita. Kehidupan gue kan nggak cuma berteman sama lo doang. Begitu juga dengan elo. Kehidupan elo nggak cuma menjaga hubungan sama gue doang. Ada hubungan lo dengan keluarga lo, ada kerjaan lo, dan lain sebagainya. Nah di saat ini kayaknya frekuensi kita lagi bagus. Kalo kita perhatiin, belakangan kita lagi sering ngobrol berdua. Malah gue lagi jarang main berdua sama Lego.

Ini sih masalah ritme aja ya Ker. Siapa yang ritmenya lagi pas satu sama lain. Kebetulan ritme gue sekarang lagi paling pas sama ritme lo.

Dulu lo kan sohib banget sama Arman. Sekarang Arman nggak main sama siapa-siapa, lebih sering sendirian di kamarnya. Nggak berarti kalian musuhan kan? Emang ritme hidupnya lagi beda aja. Nanti ritmenya mungkin bisa pas lagi. Mungkin juga enggak. Hubungan kita juga bukannya baik selamanya Ker. Pas habis putus kita kan sempet jaga jarak dulu”, Arya menjelaskan.

“Iya tapi kan cuma sebentar. Seminggu doang kayaknya. Lebih-lebih dikit deh”, kata Joker.

“Kebetulan kita bisa cepet baiknya. Tapi waktu kita jaga jarak

“Tapi akhirnya kan kita main lagi.”

“Nggak tau juga kan bakal bisa main bareng sampe kapan?Akhirnya itu kapan?”

“Arrghhh!!! Ribet banget pemikiran lu!!!!!!”, Joker mengacak-acak rambut Arya.

“Ya makanya tadeee gue bilang pertanyaan lo ribet banget cumi!!!!!!”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s