Berkembang Perlahan Gpp, Yang Penting Realistis

Silahkan klik kalau mau membaca cerita mereka dari Pertama

Silahkan klik kalau mau membaca cerita Joker dan Arya lainnya

 

Image

(Diambil dari : http://www.foodmarketdesigns.com/assets/img/slides/slide-7.jpg)

“Yooooo!!”, panggil Joker kepada Arya saat ia baru memasuki sebuah mini market yang juga berfungsi sebagai tempat makan. Arya yang sedang duduk di meja mini market tersebut menengok ke arah Joker yang baru saja masuk.

“Oi. Darimana?”, tanya Arya kepada Joker yang menghampiri meja tempatnya duduk. Joker menarik kursi dan duduk di depan Arya.

“Dari Rumah Lor. Tadi nyariin lu di rumah nggak ada. Kata Carine lu di sini. Ngapain lu?”, tanya Joker.

“Lagi ngetik laporan kasus nih”, jawab Arya yang saat ini sedang menjalani program profesi di bidang psikologi.

“Kenapa di sini? Di Starbucks kek”, kata Joker yang menganggap coffee shop sebagai tempat yang lebih nyaman untuk mengerjakan tugas.

“Deket rumah gue nggak ada Starbucks. Adanya ini. Dan ini 24 jam. And it’s quite nice here”, jawab Arya sambil melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 10 malam.

“Kenapa nggak di rumah aja?”, tanya Joker lagi.

“Ganti suasana aja.”

“Lo jalan kaki?”

“Iya. Bawel banget sih lo!”, kata Arya kepada Joker yang banyak bertanya.

“Capek juga ya jalan kaki dari Rumah Lor ke sini”, komentar Joker yang baru saja berjalan kaki dari Rumah Lor ke mini market tersebut.

“Deket kali. Lo aja anak orang kaya, jarang jalan kaki.”

“Iyalah. Ada mobil ngapain jalan kaki.”

“Karena gue males nyetir.”

“Alah bilang aja nggak bisa nyetir”, ejek Joker yang mengetahui kalau Arya memang tidak bisa mengemudikan mobil.

“Lebih tepatnya karena gue juga nggak punya mobil”, jawab Arya. “Abis darimana sih lo? Wangi amat”, tanya Arya kemudian kepada Joker yang terlihat rapi.

“Abis diputusin cewek”, jawab Joker yang langsung kaget karena tiba-tiba kepalanya disundul oleh Arya.

“Eh! Gue tuh nanya ‘Abis darimana?’! Bukan ‘Lo abis ngalamin kejadian apa?’ tauk!”, kata Arya sambil melotot. Joker memicingkan matanya tanda kesal karena ditoyor.

Anyway..Whaaaaaaaa????”, teriak Arya sebagai respon yang terlambat dari cerita Joker mengenai putusnya dia dengan seorang perempuan. “

“Iyeee gua tadi abis ke rumah dia”, sahut Joker sambil mengelus-elus kepalanya yang tidak sakit.

“Yang lo maksud dia tuh siapa? Kapan lo jadian lagi juga gue nggak tau.”

“Adalah cewek. Nggak jadian sih. Cuma sempet jalan, makan bareng….”

“Cium-ciuman.”

“Iyeee…”

“Terus?”

“Ya pas dia lagi iseng liat-liat HP gua, tau-tau ada ‘pesan’ dari cewek lain”, jawab Joker. Arya langsung memonyongkan bibirnya.

“Ker gue tuh susah-susah kuliah psikologi kenapa terpaparnya sama kasus-kasus ginian sih? Kalo nggak elu yang ketauan selingkuh, ada Carine yang bete karena nggak sabar ngegebet cowok, atau kesel karena dikejar sama cowok yang dia nggak suka. Atau dengerin Fahri yang mulai depresi karena jomblo kelamaan, atau kalo berat badannya naik. Kenapa sih gue nggak temenan sama pembunuh berantai? Atau agen CIA yang lagi nyamar? Atau karyawan kantoran yang sebenernya adalah super hero. Atau apaan kek yang kerenan dikit. Udah gitu cerita lo dari dulu nggak berkembang. Itu-ituuuu lagi. Kalo gini terus kapan pinternya gue?”, kata Arya frustrasi.

“Yeee ini masalah umum! Kalau lu bisa menghadapi ini, lu bisa jadi psikolog yang handal! Justru buat latian!”

“Oh iya. Syit kok lo jadi pinter sih. Dan gue ternyata juga belom bisa membuat kalian berkembang yah?”, kata Arya sadar.

“Yaaa ini lu sedikit bikin gue jadi pinter. Adalah perkembangan yang lu ciptakan”, kata Joker.

“Cie muji.”

“Sekali-kalilah”, jawab Joker. Arya kemudian kembali memperhatikan laptopnya dan sibuk dengan tugasnya. Arya dan Joker berhenti bercakap-cakap selama beberapa saat.

“Eh Ker lo mau cerita soal kejadian tadi?”, tanya Arya setelah beberapa saat mendiamkan Joker.

“Nggak sih”, jawab Joker sambil memainkan game yang ada di HPnya.

“Alhamdulillah. Gue males dengernya soalnya”, Arya mengelus dada. “Lo nggak pergi lagi? Masih jam segini nih. Buat ukuran lo di waktu weekend, ini masih pagilah. Nyari cewek lagi sana! Ke klub gih!”, Arya mengusir Joker.

“Males ah”, jawab Joker pendek sambil menghempaskan badannya di sandaran bangku kayu. “Lagian gua belakangan kalo weekend sering di Rumah Lor. Udah sejak lebaran 2013 kemaren”, jelas Joker.

“Iya ya?”

“Iya.”

“Kenapa gitu?”

“Mau hemat aja.”

“Cieeee tae banget looo hemat. Ngapain lo hemat! Orang kaya lo mana perlu hemat?”

“Pengen nabung buat nikah”, kata Joker. Arya tersedak.

“Lo udah gila ya?”, tanya Arya heran.

“Nggaklah. Nabung aja buat punya tempat sendiri, kaya lu. Tapi gua rasa udah waktunya gua nyicil rumah.

“Cieeee. Gila loooo. Bagus itu!”, Arya menepuk-nepuk pundak Joker.

“Iya. Kan nanti gua lebih gampang kalo mau bawa cewek pulang. Daripada bayar hotel terus”, jawab Joker.

“Ahahaha ini baru elo. Tapi lumayanlah. Setidaknya ada perkembangan. Daripada stagnan melulu.”

“Iya pelan-pelan aja gua berubahnya nggak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apalah. Emang kalo berkembang yang realistis-realistis aja. Daripada maunya berkembang cepet-cepet tapi nggak siap. Baguslah lo sekarang udah kepingin investasi buat rumah. Nanti gantianlah kita-kita yang main ke tempat lo.”

“Sama kalo ada cewek yang susah diusir, lu bisa pura-pura jadi istri gua ya?”

“Ahahah Carine aja kalo itu. Gue kalo dijadiin fake wife sih nggak oke. Nggak mengintimidasi”, ujar Arya yang menyadari kalau tampilan fisiknya memang tidak cantik dan seksi seperti teman serumahnya, Carine.

“Nggak ah. Lu aja.”

“Nggak mau.”

“Lu aja pokoknya.”

“Nggak mau.”

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s