Orang Sakit Butuh Dokter. Dokter Butuh Orang Sakit (?)

*Silahkan dibaca dulu post sebelumnya yaaa. Thaanks🙂

 

 “HAHH!!!? Kok lo bisa tau rumah bokap gue!!?”, teriak Arya saat menemukan Joker berada di depan rumah ayahnya.

“Dikasih tau Carine dong.”

“Brengsek. Bales dendam tu anak. Arggh menyebalkan!!”

“Siapa Kak?”, tanya seorang anak kecil perempuan di sebelah Arya.

“Pit hitam lagi nyamar.”

“Hiiiiiii takuuuuutt!!!!!”, Sidney berlari terbirit-birit ke dalam rumah.

“Masuk men”, Arya memutuskan untuk mempersingkat usahanya mengusir Joker. Ia tau bahwa usahanya tidak akan berhasil.

“Eh halo Arla”, Joker tersipu saat melihat Arla.

“Halo. Why is Joker here?”, Arla terheran heran melihat Joker berada di rumah ayahnya.

“Dibuang sama keluarganya”, jawab Arya asal.

“Oh”, Arla menjawab pendek.

“Dia dibuang karena dia adalah Pit Hitam!!!!!”, Sidney yang bersembunyi di belakang Arla berteriak.

“Kamu kelas berapa sih?”, Joker berusaha merebut hatinya Sidney.

“Hiii takuuut!!”, gagalnya usaha Joker ditandai dengan Sidney yang langsung memeluk pinggul Arla dan bersembunyi di belakangnya. Dalam hati Joker berharap bahwa saat ini ia bisa bertukar tempat dengan Sidney.

“Sidney baru kelas 1 SD”, Arla mewakili Sidney untuk menjawab pertanyaan Joker.

“Sini Sidney. Pit hitam takut sama kakak kok”, Arya memanggil Sidney. Sidney langsung berlari ke pelukan Arya.  Selepasnya Sidney memeluknyaArla masuk ke dalam, meninggalkan ruang tamu. Joker sedikit kecewa. Kekecewaannya berganti menjadi rasa dongkol lagi saat melihat seseorang yang berjalan ke ruang tamu.

“Kok ada Joker? Maaf lahir batin ya.”

“Kok ada elu!!”, Joker membalas sengit kepada Lego.

“Emang gue biasanya ke sini kalau lebaran”, jawab Lego membuat Joker sebal. Lebih sebal lagi saat Sidney berlari ke arah Lego.

“Sidney raportnya bagus nih Kak Joker”, kata Lego.

“Matematikaku 10!!”, Sidney berteriak.

“Hah pinter amat! Kamu kayak Arla ya?”, Joker memuji Sidney.

“Iya nih. Mau jadi jenius kayak Arla ya?”, Lego berkata manis kepada Sidney sambil mengelus rambutnya.

“Sidney kayak Arya lagi”, sahut Arman yang baru saja memasuki ruang tamu.  “Minal aidin bro!”, ucap Arman kemudian. Joker merasa lega karena ada Arman di ruangan tersebut. Kalau laki-laki di ruangan itu hanya dirinya dan Lego bisa-bisa ia berkelahi.

“Sama-sama Man! Maafin gua ya!”, Joker memeluk Arman ala laki-laki. Lego sedikit mendelik mengingat Joker hanya menggubris ucapan maaf lahir batin dari Arman.

“Kok kayak Arya sih? Emang Arya pinter? Bukannya raport lo dari dulu pas-pasan? Anak IPS juga kan lo?”, Joker menyanggah komentar Arman.

“Raport SMU pas-pasan, tapi nilai matematika gue 9 di raport. Pas UAS nilai matematika gua 10 hahaha”, kata Arya bangga.

“Arya mahir di satu bidang aja. Tapi bidang-bidang yang dia nggak suka nilainya jeblok”, Arman memberikan penjelasan.

 “Tapi lu anak IPS kan?”, Joker masih tidak percaya.

“Iya. Soalnya Fisika sama Kimia gue jeblok. Merah jek! Tapi Sidney sebenernya beda sama gue. Raportnya bagus semua. Nggak matematika doang. Mungkin dia bisa jadi sepinter Arla. Meski sifat sih kayak gue.”, Arya menekankan.

“Kalau udah gede mau jadi apa?”, Joker mencoba mengobrol lagi dengan Sidney.

“Jadi jagoan!”, Sidney yang sudah tidak takut lagi pada Joker akhirnya menjawab. “Kemaren aku menang lawan Badu! Hebat kaaan?”

“Adek gue ngegebukin anak laki di sekolahnya. Hahahaha!”, Arya berkata bangga.

“Eh kok nakal!”, Joker shock mendengar Arya yang justru bangga.

“Soalnya Badu gangguin Salmon”, Sidney menyebutkan nama kakak kembarnya.

“Persis kayak Arya. Dulu Arya juga pernah berantem gara-gara ada anak yang ngatain gue”, Arman bercerita kejadian sewaktu mereka masih SD.

 “Nggak boleh mukul orang  lagi ya Sidney”, Lego menasehati Sidney dengan halus.

“Kenapa Kak Lego protes? Kan Kak Lego dokter. Kalau ada yang luka kan Kak Lego bisa dapet uang”, tantang Sidney. Lego yang tidak siap mendapat pertanyaan tersebut tergagap untuk menjawab.

“Huahahahahaha huahahaha anjerrrr, gua cinta adek loooo”, Joker senang bukan main. Ia tertawa gembira karena Sidney bisa membuat Lego salah tingkah. Joker memang tidak suka dengan Lego yang menurutnya sering bersikap sok baik.

“Dijawab itu pertanyaan Sidney!”, Joker ingin membuat Lego makin salah tingkah. Dalam hatinya ia berkata bahwa anak kecil memang tidak bisa dibohongi oleh sikap palsu.

“Kak Lego ingin jadi dokter karena pingin menyelamatkan nyawa orang. Bukan ingin supaya banyak orang yang terluka”, jawab Lego kepada Sidney.

“Bukan itu pertanyaanku! Pertanyaanku itu kenapa Kak Lego protes kalau ada yang luka? Kalau nggak ada orang yang sakit gimana Kak Lego tetep bisa jadi dokter? “, layaknya Arya, Sidney menuntut seseorang untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditanya.

“Kenapa protes Kak?Kenapa protes Kak?Kenapa protes Kak?Kenapa protes Kak?”, Sidney merongrong Lego yang kesulitan menjawab.

“Oh My God gua cinta banget sama adek lo!!”, Joker langsung memeluk Sidney yang ada di dekat Joker. Sidney yang nampaknya sudah tidak takut lagi kepada Joker membiarkan dirinya dipeluk.

 “Karena biar bagaimana pun Kak Lego nggak suka kalau ada orang yang terluka. Memang mungkin penghasilan Kak Lego jadi berkurang kalau orang yang sakit semakin sedikit, tapi buat Kak Lego nggak masalah. Asal orang yang sehat semakin banyak”, Lego akhirnya menjawab pertanyaan Sidney.

“Bohong!”

“Kok bohong?”

“Tadi bukannya Kak Lego cerita sama Papa kalau Kak Lego kepingin punya bisnis rumah sakit? Kak Lego cerita kira-kira gimana membangun dan mempertahankan bisnis rumah sakit. Kalau benar Kak Lego kepingin banyak orang yang sehat, harusnya Kak Lego itu bikin rencana supaya rumah sakit itu cepat tutup. Kalau perlu bikin rencana supaya rumah sakitnya nggak pernah buka. Atau kalau buka, ya pasiennya sedikitlah. Kalau banyak orang sehat kan berarti rumah sakitnya nggak laku”, jawab Sidney asal.

Oh man oh man! Gua boleh ngelamar adek lo sekarang nggak?”, Joker tergelak lagi. Ia benar-benar terpesona oleh Sidney yang ternyata juga sedikit memiliki sifat Arla.

“Orang sakit akan selalu ada Sidney. Tanpa Kak Lego berdoa supaya banyak orang sakit, hukum alamnya memang begitu”, balas Lego.

“Tuh kan bener. Biar gimana pun Kak Lego kepingin ada orang sakit. Kenapa nggak bilang aja sih Kak kalau kepingin ada orang sakit? Aku nggak suka sama orang sok baik”, jawab Sidney tanpa tedeng aling-aling. Joker serasa ingin terbang. Ia merasa bahwa ini adalah salah satu momen terbaiknya.

“Kak Lego bukannya kepingin, Sidney. Tapi di lapangan sekarang banyak fasilitas kesehatan masih kurang. Masih banyak orang sakit yang nggak bisa berobat.  Jadi kebutuhan akan dokter emang masih tinggi. Nanti kalau orang sakit udah sedikit, baru deh Sidney tanya lagi ke Kak Lego soal bisnis rumah sakitnya. Mungkin Kak Lego jawabnya bakal beda”, Arya membantu Lego.

“Ahh elo Ya. Biarin aja nih kunyuk jawab”, Joker kecewa karena penyiksaan terhadap Lego harus berhenti.

“Lebaran oi! Damai dikit napa sih!”, Arya memukul pundak Joker.

“Nyuruh damai tapi pake mukul! Contoh yang nggak baek neh!”, Joker mengelus pundaknya. Sidney tertawa. Arman tersenyum tipis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s