A Close Look to the Triplet

*Silahkan dibaca post sebelumnya. Terima kasiiih🙂

“Oh iya ngomong-ngomong menurut kamu apa akibat dari perbuatan kamu mukul Badu ”, sehabis masalah Lego tuntas, Arman kini mengajak Sidney berbicara mengenai insiden perkelahian yang membuat Sidney terkena masalah.

“Dimarahin bu Guru!”, jawab Sidney lantang.

“Dan…?”

“Dan bisa ngebela Salmon.”

“Kalo perasaannya Badu kira-kira gimana ya?”

“Kapok! Badu sempet mau mukul Salmon karena dikalahin main basket. Kan curang! Sekarang dia nggak berani lagi.”

“Akibatnya buat Salmon apa?”

“Akibatnya Salmon nggak digangguin lagi sama Badu!”

“Yakin kamu?”

“Yakin! Orang sekarang nggak digangguin lagi kok.”

“Sikap Badu ke kamu gimana?”

“Sempet mau bales dendam. Dia ngajak beberapa temennya untuk gangguin aku. Tapi seru deh Bang. Aku malah dibelain temen sekelasku sama kelas lain. Kalah lagi si Badu. Hahahaha.”

Arman terlihat cemas.

“Kok bisa kamu dibelain temen sekelas?”, tanya Arman.

“Karena Badu anak orang kaya yang sombong. Siapa yang suka sama dia?”

“Perasaan kamu gimana pas Badu mau bales dendam?”

“Kesel! Pengen berantemin juga!”

“Kira-kira ada cara yang lebih baik nggak?”

“Nggak tuh. Emang menurut Abang ada?”

“Kira-kira ada cara yang bisa kamu lakuin untuk melindungi Salmon tanpa harus melukai Badu nggak?”

“Ngadu ke Bu guru.”

 “Man adek kita kekecilan buat lo ajakin diskusi macam ngono!”, Arya mengomentari Arman yang sering membuat orang berpikir saat menghadapi sebuah masalah.

“Gue mau dia liat akibat perbuatannya secara menyeluruh. Perihal dia mau lanjut mukulin orang atau enggak ya terserah dia. Lagian Sidney pinter banget. Udah bisa dia diajak diskusi kayak begini”, jawab Arman.

“Aku cuma mukul orang yang ganggu temen-temenku. Kalau ngadu sama Bu guru itu lama. Kalau kemarin aku ngadu dulu, pasti Salmon udah kena pukul. Lagian kalau aku ngadu, nanti aku dibilang tukang ngadu. Badu tetap aja bakal kesel sama aku. ”

“Selain ngadu ke Bu guru ada lagi nggak cara lain?”

“Nggak tuh kayaknya”, jawab Sidney sambil berputar-putar.Rambutnya yang dipotong bob pendek melayang-layang.

“Kan Sidney bisa bilang baik-baik ke Badu”, Lego menambahkan.

“Ah aku nggak bisa ngomong yang manis-manis kayak Kak Lego. Nanti kucari deh temenku yang bisa ngomong manis ke Badu. Biar bisa aku suruh”, kata Sidney setengah terengah-engah karena asik berputar-putar.

 “Bang Arman takutnya nanti kamu kena masalah kalo mukul orang. Kan bisa aja suatu hari Badu jadi jahatin kamu”, Arya mencoba menjelaskan maksud Arman.

“Makanya aku serius kalo latian karate. Biar bisa lebih kuat”, Sidney mengepalkan tinjunya.

“Wow Sidney karate?”, Joker terbelalak.

“Baru ban putih!”, kata Sidney bersemangat.

            “Sidney punya pacar nggak?”, tanya Joker tanpa basa basi.

            “Haaaaahhh??? Pacar?? Ihhh!! Jijik!”, Sidney kemudian memperagakan seseorang yang sedang muntah.

Get lost pervert!”, Arya  memperingatkan Joker supaya jangan keterlaluan. Masa anak masih SD digebet juga.

“Kok jijik?”, Joker tak menyerah.

“Kan masih kecil. Tapi kalau aku udah gede, aku maunya punya pacar yang kayak Kak Mojo”, cetus Sidney.

“Tuh kan Arya banget dia”, kata Arman.

            “Kan emang Arya is my favorite sister!”, Sidney melompat dan memeluk leher Arya. Arya menyambut pelukan Sidney dengan bahagia.

Thank you sayang. You just became mine too!”, Arya mengecup pipi Sidney.

“Kalau Gloria?”, Joker iseng bertanya mengenai kakak perempuan tertua mereka yang tidak disukai Arya.

Gloria is a b*tch!”, teriak Sidney sambil terkikik geli. Joker terkaget lagi.

Sidney! I’m so proud of you!!”, mata Arya berbinar-binar. Joker shock dan sedikit bersyukur dahulu putus dengan Arya. Ia tak habis pikir kalau memiliki anak bersama Arya. Akan diajarkan apa anak tersebut?

“Sidney jangan ngomong kotor!”, Lego menasehati Sidney.

“Kenapa?”

“Nggak sopan.”

“Kak Arya sering ngomong gitu”

“Kak Arya kan udah gede.”

“Berarti kamu mendewasa lebih cepat!”, Arya membela perilaku Sidney.

“Kira-kira kalau Gloria denger kamu ngomong gitu akibatnya apa?”

“ARMAN! Woy! Buset deh! Makan ketupat sono! Kalo mau intervensi lihat usia audience juga Man”, tukas Arya.

“Gloria bakal nangisssssssss!!! Hihihihihi!”, Sidney melompat turun dari gendongan Arya dan berlari berputar-putar meninggalkan mereka.

“Lo kayanya mesti lebih ati-ati deh sama Sidney”, Lego mengkhawatirkan perilaku Sidney.

“Ah Arya is Arya. Perannya Arya memang begitu, ngajarin Sidney supaya nggak selalu ikut aturan. Kalau Arla dapat peran memberi contoh perilaku orang yang taat aturan.  Kalau gue bagian ngajak diskusi aja. Sidney mau jadi kayak apa terserah aja, asal udah punya referensi dan udah tau akibatnya.  But Sidney seems already picked her role model”, Arman menjelaskan dan kemudian melihat ke arah Arya.

“Ngikut sifatnya kayak Arya, pinternya kayak Arla ya”, Joker mencoba menerka.

“Arya sebenernya juga nggak kalah pinter. Cuma malesnya lebih juara”, Arman mengomentari Arya yang ada di depannya.

“Kalah jauhlah pinternya Arla sama lu! Arla pernah menang lomba ilmuwan muda bukan?”, ejek Joker.

“Juara dua”, jawab Arman

“Ya keren bangetlah juara dua. Tingkat nasional kan?”

“Asia”, ralat Arman.

“Busett!”, celetuk Joker semakin kagum dengan Arla. Maklum sebelum-sebelumnya Joker tidak pernah kencan dengan perempuan yang nilai akademisnya sangat cemerlang.

“Kak Aryaaa sini doooong!!!”, teriakan Sidney memotong percakapan Arman dan Joker.

“Iyaaaaaaa!!!”, Arya berjalan ke arah Sidney, diikuti dengan Lego, meninggalkan Arman dan Joker di ruang tamu. Joker yang sempat melihat ke arah Arya saat menghampiri Sidney kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke arah Arman.

 “Lo mau tau orang yang ngalahin Arla nggak?”, tanya Arman melanjutkan pembicaraan mereka.

“Emang siapa?”, Joker bertanya ingin tau sambil membayangkan seseorang yang lebih pintar dari Arla. Joker membayangkan seseorang dengan stereotype kutu buku.

“Objektif dari lomba ilmuwan muda waktu itu adalah untuk membuat proposal inovasi. Arla itu sistematis, realistis, tapi nggak begitu kreatif. Orang yang ngalahin Arla secara perencanaan memang nggak sistematis, bahkan agak nggak realistis. Tapi entah gimana, juri suka sama ide gilanya. Konon ide inovasi dari orang itu akhirnya dijalankan oleh institusi yang menyelenggarakan lomba tersebut. Yang nemu idenya malah nggak turun tangan”, jelas Arman mengenai kompetitor Arla. Joker menyimak acuh tak acuh. Ia menyinggung lomba tersebut karena Arla pernah menjadi juara. Ia sendiri tidak tertarik terhadap hal-hal lain dari lomba tersebut.

“Ah udah jaman kuliah juga. Nggak peduli gua sama  pemenang lomba-lomba gituan. Nerd banget man! Kalo lomba band baru deh gua mau tau”, kata Joker tidak peduli dengan keseluruhan kompetisi tersebut.  Joker sendiri heran mengapa Arman harus memberinya informasi soal pemenang lomba yang lain. Ia menaikkan alisnya tanda bingung sembari melihat ke arah Arman. Arman membalas tatapan Joker.

“Masih nggak peduli, kalo lo tau yang ngalahin Arla di lomba itu adalah Arya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s