Nggak Selalu Kejujuran yang Ingin Didengar

Silahkan membaca post sebelumnya soal Arya dan Mojo

https://rumahlor.wordpress.com/category/mojo/

 

“Noh buat lu! Buat utang-utang gua selama gua nebeng di sini”, Joker melempar kantong belanjaan kepada Arya yang berada di kamar Carine.

“Wuaahhh ini keren Ker. Bagus juga selera baju lo”, Carine mengeluarkan sebuah tunic dress warna merah.

“Cuma beli yang cewek-cewek gua biasanya pada suka. Tapi itu masih Aryalah.”

“Enak aja utang lo lunas cuma dengan satu baju!”

“Yeee mahal nih!”

“Udah-udah buruan ganti baju lo. Udah cakep muka dan rambut lo”, Carine menyuruh Arya ke kamarnya.

“Boleh gue tontonin nggak ganti bajunya?”, kata Joker yang segera ditempeleng kepalanya oleh Arya. “Udah ngatain gue buncit taunya masih bisa nafsu juga.”

“Ya masihlaahhh. Ikut ya”, Joker merangkul Arya dari belakang. Arya menggigit lengan Joker.

“Adooooooh gilaaaa”, Joker berteriak kesakitan dan mengibas-ngibaskan lengannya. Arya tak melepas gigitannya. “Woyyy argggghhh ehhhh sakit bangettttt parahh”, Joker berusaha mendorong Arya. Ada warna biru di lengan Joker saat Arya melepas gigitannya.

“Gue belum suntik rabies. Mampus lo”, Arya berkata sengit sebelum masuk ke kamarnya.

“Tu anak udah gila beneran kayaknya”, Joker berkata sambil duduk di tempat tidur Carine. “Buat lu gua beliin junkfood.”

“Nggak mauuuu.”

“Sekali-kali. Daripada lu makan cake dan cokelat.”

Cake dan cokelat kan obat patah hati. Junk food dapet gendut doang.”

“Ah ngapain patah hati patah hati segala.”

“Bukannya ngapain. Kadang kejadian aja. “

“Besok paling patah hati lagi”, Joker mengungkit Carine yang akan pergi dengan Zack.

“Jangan didoain dong!”

“Ya lu nyari cowoknya model begitu. Kalau nggak mau patah hati nyari cowoknya yang bedalah. Yang emang pingin nikah. Jangan cari yang model gua”, nasehat Joker.

“Nahh bicara soal lo, gue penasaran deh. Lo kenapa nggak pernah mencoba ngegebet gue sih? Kalau gue liat-liat, gue nggak kalah cantik sama cewek-cewek lo”, tanya Carine tiba-tiba.

“Kalo lu mau gua sikat sih gua sikat sekarang juga”, Joker berkata tanpa basa basi.

“Ewww Joker!”

“Ya lu nanya. Gua sih nggak nolak kesempatan.”

“Kesempatan darimana? Gue cuma penasaran, kenapa gue nggak lo deketin? Karena kita temen?”

“Karena Arman temen gua.”

“Hah? Apa hubungannya sama Arman?”, Carine bertanya heran.

“Semua cowok ngeliat lu pertama kali pasti naksir. Kalau bandingannya Arya sama Arla, dari fisik gua dulu juga ngeliatnya elu. Cantik banget nih cewek. Kapan gua bisa tidur sama dia?”

Plaaakkk! Joker ditempeleng oleh Carine.

“Lu mau denger alesannya apa nggak sih. Mending nggak usah nanya sekalian!”, Joker berkata kesal.

“Ya udah lanjut”, Carine berkata judes.

“Jakarta nih penuh sama cewek kayak elu tau nggak . Emosional. Insecure. Baik sama penampilan maupun sama kesendirian.”

“Iiiiihh malah ceramah. Tadi belum selesai.”

“Belum lagi dengan ketidak jelasan keinginan. Tadi nanya, begitu dijawab marah. Nanti dibohongin juga marah”, Joker melanjutkan komentarnya.

“Udah ah pergi sana lo”, Carine sekarang ngambek.

“Ya udah”, Joker berdiri dari duduknya.

“Eh emang Arman kenapa?”, Carine bertanya ingin tau.

“Ini yang gua bilang nggak jelas maunya apa”, Joker geram. “Jadi mau diterusin apa mau gua pergi?”

“Jangan pake ceramah.”

“Hihhhh”, Joker mengacak-ngacak rambutnya. “Gua dan Arman itu satu tongkrongan. Dan lu dulu bagian dari temen tongkrongan Arman. Gua nggak mau hilang dari tongkrongan itu. Kalau lu gua sikat, kemungkinan itu bisa terjadi. Kita bisa berantem. Lu bisa benci gua. Terus Arman jadi nggak bisa nongkrong bareng kita berdua sekaligus. Gua seneng selama ini bisa nahan diri dari cewek secantik lu. Gua juga seneng karena kita sekarang jadi temen.”

“Tapi lo dulu jadian sama Arya. Arya kan bisa dibilang satu tongkrongan juga. Sodaranya Arman malah. Jaman-jaman kalian pacaran kan lu masih sering-seringnya jalan sama Arman.”

“Gua naksir berat sama Arya. Gua mau ambil resiko itu.”

“Jadi kalau gue nggak pantes dengan resiko itu?”

Yes. Untuk gua, you’re not worth that much.

Get out!”, Carine sekarang merasa marah. Joker sudah memprediksinya.

“Kita ngobrol lagi kalau lu udah lebih waras”, Joker keluar dari kamar Carine. Carine membanting pintu kamarnya. Joker bahkan tidak merasa kesal lagi. Hal tersebut sudah ia alami seribu kali dengan berbagai perempuan berbeda.

Joker hendak keluar dari rumah lor saat ia bertemu Arya yang sudah siap akan pergi dengan Mojo.

“Keren juga lu”, puji Joker saat melihat Arya.

I know right? Hahahahaha. Thanks btw. Buat bajunya”, Arya berseru girang. “Cabut yaa Ker. Lo masih mau di sini?”

“Pulang gua. Si Carine marah ama gua.”

“Hehhh lo apaiiin temen gue?”, Arya berkacak pinggang.

“Justru karena nggak gua apa-apain makanya marah.”

Oh my God dia naksir lo ya? Hahahahahahahaha. Carineee lo naksir Joker yaa?”, Arya berteriak menuju kamar Carine. Joker menarik baju Arya.

“Ude ude lu jangan nambah masalah. Pergi dah lu. Kencan sana. Ciuman. Ngapain kek.”

“Lo naksir Carine nggak?”

“Nggak. Naksir lu.”

“Yahhhhhhhhhh.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s