Menjawab Pertanyaan dengan Pertanyaan

Baca kisah sebelumnya soal Projek Cari Pacar u/ Arla :

https://rumahlor.wordpress.com/category/projek-cari-pacar-untuk-arla/

dan juga bisa cari kisah Carine menggebet zack di :

https://rumahlor.wordpress.com/category/dunia-carine/

Carine sibuk membongkar lemari pakaian Arla. Hari ini Arla akan kencan dengan calon ketiganya. Kesempatan terakhir Carine untuk membuat Arla berhasil dapat pacar.

“Gue tau kesalahan gue. Selama ini gue nyariin lo cowok dari lingkaran pertemanan gue. Mungkin bukan selera lo. Kali ini gue dapet yang lebih deket sama kehidupan lo. Udah S2 cowoknya. Nggak usah tanya gimana gue bisa kenal”, kata Carine saat mempromosikan kandidat terakhirnya. Di hari ini juga, Carine akan berkencan untuk pertama kalinya dengan Zack.

“Baju lo keren-keren sebenernya. Tapi warnanya item, putih, sama pastel semua. Nggak ada yang merah atau warna hangat?”

“Yang ada cuma yang di lemari ini saja.”

“Baju kerja semua. Nggak ada yang slutty dikit apa? Punya jeans nggak sih lo?”

“Ada cuma satu.”

“Mana?”. Arla kemudian mengambil jeansnya dan memberikan kepada Carine.

“Ah udah ini aja deh”, Carine akhirnya mengambil satu buah little black dress tanpa lengan berpotongan Sabrina.  “Pake gitu aja. Nggak usah ditambahin blazer di luarnya. Ntar gue pinjemin  kalung yang pas deh. Bukan mutiara yang pasti. Pake lipstick yang merah banget ya. Pake punya gue”, cerocos Carine. Arla diam saja.

“Eh ya ampun si Zack udah dateng. Eh gue ganti baju dulu. Dia gue suruh masuk sini dulu ya La. Lo temenin dia nggak papa kan?”, Carine mulai panik. Ia bergegas menggandeng Arla turun untuk membukakan pintu.

“Zack ini Arla. Gue tinggal lo sama Arla dulu ya. Bentar ya. Maaf nih tadi lagi milihin Arla baju”, Carine memperkenalkan Arla pada Zack. Arla melambaikan tangannya dan berkata halo.

“Jangan aneh-aneh lo”, Carine berbisik kepada Arla dan bergegas ke rumah lor .

“Silahkan duduk”, Arla mempersilahkan Zack duduk saat Carine sudah pergi. Zack tidak menggubris perkataan Arla. Ia berjalan ke arah rak buku Arla dan melihat-lihat buku yang ada.

Arla menghampiri Zack dan mencolek pundak Zack dengan telunjuknya. Zack menoleh.

“Aku mempersilahkanmu untuk duduk di sofa”, Arla mengulangi perkataannya.

“Oh nggak usah. Gue mau liat-liat buku lo”

“Oh boleh kalau mau lihat-lihat. Tadi kamu nggak bilang makanya aku persilahkan ulang”

“Huh?”, Zack tidak mengerti.

“Sewaktu aku mempersilahkan kamu duduk, kamu tidak bilang kalau kamu tidak mau duduk. Kan mungkin saja kamu tidak dengar kalau aku sudah mempersilahkan”, Arla menjelaskan.

“Gue denger kok”, jawab Zack cuek.

“Kenapa nggak jawab?”

“Karena tadi kepingin lihat rak buku ini dan gue nggak kepingin duduk”, jawab Zack sedikit kesal.

“Oh gitu. Ya udah kalau kamu nggak bilang, soalnya aku nggak ngerti. Lain kali kalau aku tanya dijawab ya.”

“Lo cerewet ya.”

“Karena kamu pura-pura tuli.”

Zack mencibir. Ia kemudian mengambil satu buku dari rak buku.

“Aku tidak bilang kamu boleh ambil”, kata Arla. Zack langsung menaruh buku yang diambilnya kembali ke rak.

“Aku tidak bilang kamu tidak boleh ambil juga. Maksudku, aku akan memperbolehkannya jika kamu sudah minta izin terlebih dahulu”, Arla menjelaskan.

“Gue boleh liat bukunya nggak?”, Zack akhirnya minta izin dengan nada kesal.

“Boleh. Nah sekarang kamu boleh ambil bukunya.”

“Gue boleh buka halamannya nggak?”, Zack bertanya mengejek.

“Semua halamannya boleh dibuka dan dibaca. Tapi buku itu tidak boleh dibawa keluar dari rumah ini. Tidak boleh disobek atau mendapat perlakuan yang memungkinkan kondisinya berubah menjadi lebih jelek”, Arla menjelaskan tanpa merasa diejek.

“Oke Buu. Sekarang gue boleh nafas nggak?”

“Boleh. Kenapa tidak?”

“Gue pikir harus minta izin dulu”

“Kalau nafas tidak harus minta izin, sebab udara terhitung sebagai benda yang gratis. Bukan milik rumahku. Kalau menurut aturanku, tamu harus meminta izin kepada pemiliki rumah saat dia akan menggunakan barang-barang di rumah si tuan rumah, atau melakukan kegiatan yang dapat mengubah kondisi rumah tersebut. Misalnya main bola di dalam ruangan. Bolanya bisa saja kamu bawa sendiri, tapi kan kegiatannya mengandung resiko bahwa ada perabotanku yang mungkin pecah“, Arla menjelaskan dengan detil.

“Lo aneh.”

“Banyak yang bilang begitu sih”, Arla menjawab tanpa rasa tersinggung.

“Lo dokter?”, Zack menunjukkan buku physical chemistry yang diambilnya dari rak.

“Bukan. Aku dihitung ilmuwan. Kuliahnya bioteknologi.”

“Biotechnician?”

“Belum. Disebut biotechnician kalau sudah S3.”

“Bikin nano patch?”

“Bukan. DNA Protein.”

“Buat vaksin? Atau buat hal lain?”

“Vaksin pencegah kanker jaringan ikat”

“Kanker jaringan ikat bukannya baru ada 6 orang ya?”

“Tujuh. Baru tahun kemarin ada lagi penderitanya. Dari Indonesia.”

“Serius?”, Zack bertanya. Arla mengangguk.

“Kalau penderitanya sedikit kenapa banyak yang mengkonsumsi vaksinnya?”

“Belum ada yang mengkonsumsi. Vaksinnya kan belum jadi. Vaksin ini hanya untuk proteksi. Bukan untuk membunuh kankernya. Siapa pun dapat melakukan proteksi. Kanker tersebut belum ada penanganan penyembuhannya. Soalnya kan tidak mungkin dilakukan pengambilan organ jaringan ikat.”

“Hmm ya ya. Orang kalau ditakut-takutin mau aja ngeluarin duit”, Zack mengangguk-angguk. Arla tidak menanggapi.

“Kalau kamu? Bekerja? Atau kuliah?”, tanya Arla.

“Sekarang kerja sih. Main band. Kuliah belum selesai.”

“Oh. Kuliah apa?”

“Manajemen”, jawab Zack.

“Kok belum lulus?”

“Mandek di skripsi. Males. Pembimbing skripsi gue rese soalnya”

“Karena kamu tidak suka pembimbing skripsinya, maka kamu memperlama penyelesaiannya?”, tanya Arla.

“Iya gue nggak termotivasi.”

You’re not as smart as I thought.”

“Kenapa gitu?”

“Aneh aja kenapa pembimbing skripsi yang nyebelin justru jadi memperlama penyelesaian skripsinya”, kata Arla.

“Lo mau nasehatin gue?”

“Bukan. Aku mencoba mengerti kamu.”

“Gue nggak suka pembimbing skripsi gue. Gue males bimbingan sama dia. Jarang bimbingan sama dia, skripsi gue juga nggak disetuju-setujuin. Bagian mana yang kurang jelas?”

“Bukannya kalau orang nggak suka akan sesuatu itu maka dia ingin cepat-cepat menjauh dari hal itu ya? Misalnya aku harus minum obat yang rasanya pahit. Aku akan menelannya cepat-cepat supaya pahitnya tidak terasa lagi. Atau kalau tanganku kena api dan rasanya terlalu panas, maka aku akan cepat-cepat menjauhkan tanganku dari api itu. Kalau dalam kasusmu, bukannya lebih enak kalau kamu cepat-cepat lulus? Jadi bisa lebih cepat putus hubungan dengan pembimbing skripsimu yang tidak enak itu. Kalau sekarang kan memang kamu menghindari dia, tetapi ikatannya masih ada kan?”, Arla menjelaskan. Zack mati kutu tidak bisa membantah Arla.

“Hmm you’re not as stupid as I thought”, Zack akhirnya berkata.

“Kenapa kamu  tadinya pikir aku bodoh?”, tanya Arla.

“Kenapa kamu tadinya pikir aku pintar?”, Zack balik bertanya.

“Karena tadi kamu mengatakan banyak fakta yang benar. Kenapa sih orang suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain?”

“Karena mereka butuh informasi lanjutan untuk menjawab pertanyaan sebelumnya. Atau karena mereka tidak benar-benar tahu jawaban pertanyaan tersebut. Atau karena mereka malu menjawabnya, sehingga bertanya pertanyaan lain untuk menghindari pertanyaan sebelumnya.”

“Kamu yang mana?”

“Menurut analisamu?”

“Bertanya lagi”

“Memang”

“Mulai mirip orang-orang yang dikeluhkan Arya”

“Siapa?”

“Arya itu saudara kembarku. Dia suka kesal kalau ada orang yang berputar-putar menjawab kalau ditanya. Apalagi kalau malah bertanya balik.”

“Oh”, Zack menjawab singkat.

“Apakah memang seharusnya begitu?”

“Apaan?”

“Pertanyaan memang seharusnya dijawab dengan pertanyaan dahulu.”

“Terserah aja sebenernya mau dijawab pake apa.”

“Oh”, Arla menjawab pendek.

“Kenapa orang bilang kamu badass?”, Arla bertanya lagi.

“Haaaahh?????”, Zack terkejut dengan tulus.

“Carine bilang kamu badass. Joker juga setuju. Dari cerita Carine soal kamu, Arya sepertinya setuju meski belum pernah bertemu kamu.  Aku yakin itu istilah yang tidak literal. Because you have a quite symmetrical ass”, Arla melihat ke arah bokong Zack.

Zack  tertawa. Ia lalu membungkuk dan meneruskan tertawa dan tertawa. Zack menenangkan dirinya setelah tawanya sedikit reda. “Gue yakin sih lo udah google arti dari badass.”

“Belum. Tapi nanti akan aku google.”

Zack bingung harus tertawa lagi atau tidak.

“Menurut lo gue badass nggak?”, Zack bertanya.

“Kenapa kamu menghindari pertanyaanku? Benar seperti itu nggak kalau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?”

“Hmm bebas aja sih kayaknya.”

“Oh gitu. Soal pertanyaan yang tadi, kan aku belum google. Kalau belum paham betul definisinya bagaimana aku bisa menilai?”

“Gimana ya?”

“Kenapa kamu ingin tahu?”

“Lo kenapa mau tau duluan soal badass?”

“Kira-kira kenapa?”

“Hahaha”, mereka tertawa. Arla tertawa. Arla jarang tertawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s