Karun Banget!

“Lagi ada masalah Ya?”, ujar Lego.

“Masalah kalau dicari sih pasti ada aja”, jawab Arya.

You’ve been ‘urrggh’-ing a lot since morning”, kata Lego.

“Urggghhhh!!!”, Arya membenamkan mukanya di sofa.

“Nah lagi tuh.”

“Urggghhhh!!!!”

Lego terkekeh.

“Kemaren gue ketemu Mojo Leg. Urggghh!! Besok juga rencananya ketemu lagi. Urgghh urgghh!!!”

“Oh”, Lego menjawab pendek.

“Udah 3 minggu di Jakarta tapi nggak ngabarin gue. Itu juga gara-gara gue telpon kemaren. Rese kan? Urggh! Kemaren udah baek-baek aja sih pas ketemu dia. Tapi pagi ini gue merasa urggh lagi. ”

“Ya udahlah. At least now we know that he’s the stupidest person in the world. Kalau gue sekolah ke luar negeri dan ada waktu balik ke Indo sih gue bakal ketemu lo sesering mungkin.”

“Awwh Leg. You’re truly a guy. You lie”, kata Arya dengan santai.

“Nggak bohong kok. Pas gue PTT di Wakatobi aja kita sering banget kontakan. Gue usaha nyari internet, padahal di sana susah dapet internet.”

Liar liar liar liar.”

What did I do wrong?”

“Waktu lo pacaran sama Margia, lo jaraaangg banget ketemu gue. Padahal kita satu kota. And now you’re saying like you would like to spend every single f*ckin time with me”, kata Arya dengan nada yang sebenarnya cukup santai.

“Ya gue ngomongin kalau gue pergi keluar Jakarta. Soal Margia, I thought we’re through that. Bukannya lo nggak pernah masalah soal ini ya? Dan kalau ini membuat lo merasa lebih baik, itu adalah masanya gue menjadi orang paling bego di dunia. Kalau disuruh rewind gue kepingin dapetin hari-hari pas gue nggak main sama lo”, Lego menjelaskan.

Well Leg, I believe you’re a good guy. Dan gue males mengkaji lebih dalam. Jadi gue percaya aja. Thanks, I guess”, kata Arya dengan santai. Lego menghela nafas.

What?”

“I have the sense that you’re pissed.”

To Mojo. Not to you Leg. Sebenarnya lebih sebel sama situasi sih.”, Arya menyenderkan kepalanya ke pundak Lego. “Maaf deh bro. Maap ye. Ampun. Sori sori jadi sensi soal Margia. Sori deh sori ye. Udah damai beneran kok gue soal itu. Sori-sori lo jadi kena imbasnya. ” Lego mau tak mau tersenyum juga.

“Gue nggak kesel soal Margia atau soal dia nggak ngabarin. Well awalnya kesel sama Mojo. Tapi sejak kemaren sebenernya gue udah damai soal itu. It’s just…….urggghhhh”, Arya mengeluarkan suara urggh lagi.

“Kenapa?”

It’s just… kemaren pas gue ngeliat Mojo, gue kayak mules lagi. Damn it gue tuh udah pernah jadian lama sama dia. Udah agak lama putus, udah baek-baek aja abis putus. Masa masih mules sih.  Agak nggak biasa aja sih. Mungkin itu ye. Nggak biasa lagi ngerasa gini. Woohoo. Hehehe. Woohoo. Sorry for the urgggh. It’s not a bad urggh. Well depends. Tergantung persepsi maksudnya. Haha. Haha”, Arya meracau. Lego nyengir maklum.

“Ya boleh komentar nggak?”

“Ngomong aja.”

“Mungkin penilaian gue salah krn saat lo lagi pacaran sama Mojo, gue juga pacaran sama Margia. At that time I’m not around THAT much. But based on my slight observation, I don’t really like you when you’re with Mojo. Elo itu cewek paling cool yang gue kenal. Bahkan dibandingkan dengan temen-temen cowok gue pun, elo itungannya juga cool. Meskipun lo meledak-meledak, tetapi elo rasional. Saat lo meledak itu karena elo bersemangat. Bukan karena masalah hormonal. Tapi kalau ada urusan sama Mojo, you become…apa yah….you become… a girl. Still a cool girl, but a girl.”

Well I am a girl.”

“Sometimes I forgot that you are.”

“Haha ya mungkin gue ada senangnya juga karena dengan begitu gue merasa…uhmmm..normal I guess?”

“Nggak adalah orang yang bener-bener normal. You know better. Gimana ya, maksud gue biasanya elo orangnya simpel aja. Nggak punya kepala yang memberatkan masalah ringan. Kalau lo kesel itu pasti lo punya alasan bagus. Pas sama Mojo, lo tuh bisa cemburu. Dengan Joker kayanya nggak pernah tuh lo cemburu-cemburuan, karena lo percaya diri banget. Gue bahkan punya sedikit pikiran kalau elo bersikap naggy dengan sengaja ke Joker. Sikap yang membuat kalian akhirnya putus. Elo naggy cuma sekali, Joker merasa terganggu, dia mengeluarkan ide putus, elo kayaknya lebih banyak senengnya dibanding sedihnya sewaktu kalian putus, and you’re not the bad guy. Gue nggak tau motif di belakang kesengajaan lo, tapi gue merasa demikian”, Lego melirik menyelidik ke Arya.

“Haha”, Arya tidak menanggapi analisa Lego.

“Gue percaya Mojo itu cowok baik, but he absorbs your confidence somehow.”

“Hmmh ya I guess I really like him.”

“You really like me right? But I don’t absorb your confidence”, Lego terkekeh.

Nice move bro. Yaaa gara-gara Mojo cinta pertama kayaknya. Belom jago gue berhadapan dengan urusan cinta-cintaan. Ntarlah belajar lagi. Dan nggak harus sama Mojo juga.”

I thought I’m your first love”, Lego terkekeh lagi.

“Bisa jadi. I do love you anyway. But Mojo is the first person I really want to be mine. I care if he’s mine or not. Mungkin di situ salahnya. Karena seseorang sebenernya cuma milik dirinya sendiri. Perasaan berhak untuk memiliki orang lain kayaknya salah.”

“Bisa jadi. Lalu kalo kita sayang sama seseorang baiknya gimana ya, kalau ingin memiliki itu nggak baik?”

“Leg, you’ve been really nice this day. Dan maafff banget, gue lagi tidak mood untuk berfilosofi membahas hal itu. Maap ya. But I appreciate it.”

“Haha nggak apa-apa banget. I’m actually relief. I don’t really want to analyze it either. Capek.”

“Mungkin elo juga harus belajar bilang enggak. Belajar nggak terlalu usaha buat nyenengin orang. Kayak tadi. Lo sebenernya males bahas, tetapi elo tetep nanyain itu karena lo pikir gue ingin membahasnya”, kata Arya.

“In that area, gue masih level beginner”, Lego melihat ke arah langit-langit.

“Main aja yuk Leg!”
Couldn’t find a better idea.

“Oh iya balik ke topik tadi lagi dikit. Nyisa nih. Maybe you are my first love. Jadi elo cinta pertama yang tidak disadari, dan Mojo jadinya cinta kedua tetapi yang pertama disadari. Nah loh.”

“Nah loh”, Lego mengulangi ucapan Arya.

“Ahahaha. Ya udah sekarang kita main.”

“Ayo. Ada mainan baru apa kita?”

“Gue mau kita nyari kotak, terus kita isi harta karun, terus kita kubur, terus kita bikin petanya, terus petanya kita masukin botol. Jadi kayak message in a bottle gitu deh. Iyeeeeee.”

“Hahaha boleh-boleh. Mau dikubur di mana?”

“Cari taman umum aja. Kalau tanah kosong, kemudian tau-tau dibangun sesuatu, nanti harta karunnya nggak ketemu. Kasian yang udah capek-capek nyari.”

“Bisa. Tapi nanti malem banget kalo gitu. Kalo jam segini masih banyak yang ngeliatin”, Lego melihat jam yang menunjukkan pukul 8 malam.

“Iya. Nah masalah selanjutnya, kita mau ngisi harta karunnya pake apa?”

“Biasanya lo lebih pinter soal gini-ginian.”

“Gue pingin ngisi pake pengetahuan. Jadi elo dan gue menuliskan sesuatu di sebuah kertas. Isinya haruslah pengetahuan yang berharga. Atau sok-sok nulis petuah bijak. Apaan kek. Gimana? Any better idea?”

“Boleh aja. Yuk kita mulai nulis. Masing-masing aja kan nulisnya?”

“Yup”, kata Arya seraya ke kamarnya dan mengambil kertas plus alat tulis. Lego dan Arya menerawang selama beberapa saat sambil mencoret-coret kertasnya. Mereka sangat asyik dengan tulisannya masing-masing.

“Gue udah selesai.”

“Buset cepet amat.”

“Gue cuma nulis hal yang terinspirasi dari obrolan kita hari ini”, kata Arya seraya menunjukkan kertas yang baru saja ditulisnya.

Normal itu asik. Beda juga asik. Yang normal nggak perlu pingin beda. Yang beda nggak perlu pingin normal. Soalnya orang normal kepingin beda, dan orang beda kepingin normal. Jadi santai ajalah yawww. Nggak ada orang beda dunia ga asik. Nggak ada orang normal, yang beda jadi nggak asik. Hahaha.

 

Gimana?Karun banget nggak nih?”, tanya Arya.

“Buat orang yang lagi kepingin normal/beda sih bakal karun. Haha. Ah jadi bingung gue mau nulis apa. Bentar yak.”

“Ok. Gue juga nulis lagi deh”, kata Arya sambil mencoret-coret kertasnya.

“Nih gue udah jadi 1 lagi”, kata Arya menunjukkan kertasnya kepada Lego.

“Cepet banget sih Ya.”

“Kalau nulis-nulis rada sok gini sih gue jago”, kata Arya bangga. Ia menulis :

Ngeliat masalah jangan terlalu zoom in. Sekali-kali zoom out. Jieh.

 

Boleh lo jelaskan lebih rinci?”

“Kalau dari hari ini sih kan seharian gue ber-‘urrgghhhh’-ria. Gue zoom in banget sama masalah gue dan Mojo. Pas gue zoom out, gue bisa liat kalau di sekitar gue ternyata ada elo yang bikin hari gue asik. Terus kemaren gue zoom in banget karena bete pas tau si Mojo nggak bilang-bilang pas kesini. Pas nyoba zoom out, gue bisa coba pahamin alasan dia kenapa melakukan hal itu. Dia bilang karena gue yang mutusin dia. Dia kayak takut ganggu gue gitu. Gue ngeraa mendingan, meski dikiit. Kira-kira gitu deh. Males jelasin panjang lebar. Lo dokter kan Leg? Pinter dong. Ngertilah maksud gue. Lagi males jelasin nih”, kata Arya.

“Ngerti. Kira-kira. Lucu kok pesannya. Biarin aja gitu. Nggak usah dijelasin soal zoom in dan zoom out. Biar yang nemuin bisa ngartiinnya macem-macem. Siapa tau mereka punya pengertian yang karun banget. Kita mulai pakai istilah itu kali ya sekarang.”

“Karun lo Leg!”

“Hahaha. Bolehlah. Nih punya gue BTW. Nggak sekeren punya lo sih”, Lego menunjukkan kertasnya kepada Arya.

Gue punya temen namanya Arya. Kalau bareng dia gue nggak peduli hal-hal lain selain kita. Nggak peduli sama pencapaian hidup gue, nggak peduli kompetisi dengan orang lain, bahkan kadang nggak peduli udah seberapa banyak gue beramal. Gue terlalu seru mengobrol atau bermain dengan dia. Ada dunia yang hanya gue dan dia yang bisa ngerti. Kalau capek menempatkan diri di dunia, mungkin lo bisa bikin dunia lo sendiri.

 

“Gue nggak pandai menulis Arya. Mudah-mudahan yang baca bisa ngerti”, kata Lego.

“Iya ini jelek. Tapi nggak apa-apa. Tulisan gue jadi keliatan keren gyahaha. Tapi makasih lho. Kepinginnya sih terharu.”

Good enough kok respon dari lo”, Lego melipat kertasnya.

“Tinggal nunggu tengah malam”, Arya melipat tangannya.

“Demi kekarunan.”

“Untuk kekarunan!!!!”

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s