The Ex

Notes : Lebih enak kalau membaca semua post dengan kategori Mojo

 

“Bang maaf menginvasi”, sahut Arya di suatu malam saat Arman membuka pintu kamarnya. Arya langsung melompat ke tempat tidur Arman.

“Ada apa dek?”, tanya Arman seraya duduk di kursi meja kerjanya.

“It’s  Mojo”, kata Arya menyebutkan nama mantannya yang terakhir.

Mojo the love of your life?”, tanya Arman.

Not quite sure if he is. But I bet you know which Mojo.”

“Asumsikan saja gue tidak salah menerka orang. Ada apa dengan Mojo?”

He’s in Jakarta”, Arya menghela nafas. Mojo dan Arya sama-sama mengambil jurusan psikologi saat s1. Mereka berpacaran di tahun ketiga kuliah mereka. Sewaktu lulus, Mojo pergi melanjutkan studinya ke London, sementara Arya memutuskan untuk bekerja di Bali selama setahun lamanya. Mereka putus setelah menjalani satu tahun pacaran jarak jauh.

“Daaan….bukannya berita bagus tuh? Lo lagi nggak deket sama siapa-siapa kan Dek?”, tanya Arman.

“Masalahnya dia nggak bilang Bang kalau di Jakarta. Gue tau dari temen kuliah kita yang dulu suka main bareng.What a jerk!”

“Emang udah berapa lama dia di sini?”

“3 minggu Bang. Anj*ng nggak tuh! 3 weeks!! Not a word!!! And now I’m behaving like Carine. Urrghh!”

So don’t be like Carine. Ask him why”, kata Arman. Arya tidak berkata apa-apa. Matanya melihat ke langit-langit.

You really like that guy don’t you?”, tanya Arman yang cukup mengetahui diri Arya.

“Mojo? Ya iya. He’s my first love.” Arya memang selalu menganggap Mojo adalah cinta pertamanya meskipun Mojo bukan pacar pertamanya. Bahkan dengan Joker, Arya tidak merasakan rasa sayang sebesar dengan yang ia rasakan dengan Mojo.

“Nah sebenarnya masih misteri tuh buat gue. Kenapa sih lo putus sama dia dek?”, Arman bertanya sebuah pertanyaan yang anehnya tidak pernah ditanyakan teman-teman Arya yang lain. Sepertinya semua orang berasumsi bahwa mereka putus karena jarak.

“Karena jarak”, jawab Arya. Layaknya semua asumsi orang.

“Masa?”

“Iya.”

“Jelasin ke gue gimana jarak jadi penyebab kalian putus.”

“Sejak kapan lo jadi kepo Bang?”

“Gue perlu mengerti situasinya dulu. Bukankah lebih baik kalau orang yang dicurhatin paham mengenai kejadian yang sebenarnya? Sehingga penilaian bisa lebih objektif dan akurat”, Arman menjelaskan maksudnya.

“Iyaa sebenarnya lebih karena bosen sih Bang. Bosen. Tiap hari cuma nanya hari ini ngapain aja, lagi apa. Kita nggak bisa mengalami sebuah hal bersama lagi. Kalau dulu kan kita suka main bareng. Kayak susah aja untuk share perasaan sama dia Bang. Soalnya sedetil apa pun cerita gue, dia nggak di sini. Nggak bisa ngerasain. Dan gue waktu itu lagi excited sama kehidupan gue di Bali. Punya pacar saat itu kayak cuma tempelan aja. Cuma nambahin kewajiban untuk nanya hari ini ngapain. Gue jahat nih ya, tapi keseharian dia itu ya gitu-gitu aja. Gue bosen Bang. Mojo  juga waktu itu nggak ada kejelasan bakal balik ke Indonesia apa enggak, atau mungkin malah kepingin tinggal di sana. Gue pikir juga masih terlalu dinilah untuk mikirin masa depan bersama, jadi ya mending kita eksplorasi dunia masing-masing aja. Nggak usah menjadikan gue faktor dia untuk mengambil keputusan. Dan gue juga nggak menjadikan dia faktor untuk mengambil keputusan jalan hidup gue.  Kalau jodoh ya tinggal balik lagi”, jelas Arya panjang lebar.

Then Lego came along”, sahut Arman sambil tersenyum jahil. Bukan senyumnya yang biasanya membuat hati para perempuan meleleh. Biasanya Arman kalau tersenyum hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Irit.

“Bang kok lo jadi norak sih”, ketus Arya. Arman hanya tertawa kecil. “I’m not losing my sense of being a brother. Just so you know”.

I always know Bang. I know you still love us even though you’re not always around. Relax!!”, Arya masih ketus. Arman tersenyum kecil. Seperti yang biasa dilakukannya.

“Oke maaf. Oke oke kalian masih sering kontak nggak abis putus?”, tanya Arman.

“Mmmm nggak sih. Awal-awal putus ya masih. Tapi udah lama banget enggak.”

“Lama bangetnya tuh kapan?”

“Sejak gue di rumah lor pernah  sesekali untuk catch up aja. Yang intens itu pas gue masih di Bali.”

“Jaman lo udah tinggal di sini itu lo nyebut nggak kalau udah di Jakarta? Jangan-jangan dia masih mikir lo itu tinggal di Bali.”

“Tau die Bang.  Tau die kalau gue tinggal sama Carine. Pas Lego pindah ke sini dia juga tau. Dia juga tau kalau gue ngelanjutin s2.”

“Lo punya masalah pride untuk nanya hal ini ke dia nggak?  Kalau gue soalnya cuma bisa berasumsi Dek. Diskusi kita paling mentok ya cuma sampai kemungkinan.  Kalau lo mau denger asumsi gue sih gue kasih tau.”

“Apa asumsi lo Bang?”

“Mungkin dia nggak merasa perlu untuk ngasih tau elo, karena saat ini elo bukanlah orang terdekat dia. Gue nggak tau dia itu punya waktu berapa lama di Jakarta. Orang dari luar negeri gitu kalau pulang suka punya banyak kewajiban harus ketemu sana sini. Keluargalah, teman-teman ini itulah, banyak kan. Jaman Arla masih kuliah di Brisbane, dia aja sibuk harus ketemu orang. Padahal dia kan nggak banyak temennya. Tapi dia kudu keliling sodara sana sini, meskipun nggak deket. Bisa jadi kewajiban dia ketemu orang masih banyak. Bisa jadi dia itu BELUM ngasih tau elo, karena emang belum ada waktunya. Elo mungkin tidak dikasih tau awal-awal karena saat ini elo bukan orang yang harus diprioritaskan. Mojo keluarganya gimana? Keluarga besarnya masih deket nggak?”, tanya Arman.

“Iya sih. Keluarga dia emang akur banget. Dan cukup besar. ”

“Nah kan. Asumsi gue yang lain itu karena elo yang mutusin dia. Eh bener kan lo yang mutusin?”, Arman mengkonfirmasi.

“Iya Bang. Gue yang mutusin.”

“Ya mungkin dia gengsi atau takut ganggu. Elo kan suka punya tendensi berperilaku tidak ingin diganggu. Dia mungkin ngajak lo pergi karena  takut disalah artikan sebagai ‘usaha’”, Arman menggerakkan dua buah jari pada masing-masing tangannya untuk mengutip kata usaha. “Bisa jadi juga kalau sekarang ini dia keki juga karena elo nggak kunjung ngajak dia pergi.”

“Rrrggghh. Mau keki gimana???? Dia kan bisa mikir kalau gue nggak tau dia di sini.”

“Ya kalau nggak mau penasaran sih tanya aja Dek. Konsekuensi terjelek apa sih kalau lo nanya? Seinget gue lo nggak peduli gengsi toh?”

“Iy..iyeee siiiiih. Ya udah gue telpon deh. Mudah-mudahan si kampret belom ganti nomor.  Lo di sini ya Bang?”

“Iya Dek. Emang mau kemana gue. Kalau nomornya ganti ya message aja di facebook.”

“Maksudnya awasin gue nelpooon.  Kasih kode kalau gue melakukan tindakan-tindakan atau mengucapkan perkataan yang tidak semestinya”, ujar Arya. Arman mengacungkan jempolnya.

Shit I’m calling him. Shit I’m pressing his number. Stay with me Bang. STAY WITH ME!!!”, Arya mendadak panik. Arman mengacungkan jempolnya lagi. Kali ini kedua jari jempolnya.

Tuuuuut tuuuuut tuuuuuuut

“Halo?”

 

Itu…Suara…

Mojo…..

The Love in Arya’s life…….

 

Well Probably

“Hey Modjo”, sahut Arya saat mendengar suara Mojo mengatakan ‘Halo’. Ternyata ia lebih tenang daripada yang diperkirakan.

“Arya! Finally you called!”, sahut Mojo yang terdengar senang. Darah Arya langsung mendidih.

“Heh temen doraka!!!!Kok kamu nggak bilang sih kalau di Jakarta? Finally you called dari Hong Kong!!!!Emang kamu bilang-bilang kalau mau ke sini!!? Yeeeee, Pas pacaran sama kamu, aku tuh nggak punya indera keenam wek!! Dan sekarang juga tetep nggak punya! *sshole!!!!!”, Arya berteriak kepada Mojo. Ia masih terbiasa menggunakan aku kamu. Sebutan yang entah kenapa menggantikan sebutan gue dan elo saat seseorang berpacaran.

“Kamu nggak nanya”, jawab Mojo. Arya semakin kesal.

“Dengerin aku nggak siiiih!!!!!!! Aku nggak punya indera keenam!AKU NGGAK PUNYA INDERA KEENAM!!”

“Tapi tau caranya bikin pertanyaan kaan?”

How should I know when to ask?Idiot!!!”

“Well you could check my facebook or twitter. Everyone knows. Except you.”

“I’m sorry for not being a die hard fans of Mojo! Urggh!!!!!!”

Hahaha sorry Arya. Sorry. I’m really sorry. I thought you knew. I’m really sorry.Sebenarnya aku seneng banget kamu telepon. Kapan kita bisa ketemu?”

“YOU HAVEN’T ANSWERED MY QUESTION!!!!!”

“Yang mana?”

“KOK KAMU NGGAK BILANG KALAU DI JAKARTA!!! HAAAH????”

“Ooh haha. Sorry Arya. Kan tadi aku bilang. Karena kamu nggak nanya. Ok. Sorry. Mungkin karena aku berharap kamu nanya ke aku. Aku setiap hari nungguin telepon dari kamu. Sumpah.”

Lame excuse.”

Now you’re not answering my question. Kapan kita bisa ketemu Ya?”

Weekend *sshole!! Kapan balik?”, tanya Arya yang melirik kalender yang menunjukkan bahwa hari ini adalah hari Rabu.

Weekend depan Ya. Bisalah kita ketemu weekend ini.”

“WUATTTTT!!!!!!!!!! Mojo you really really suck you know that?? You really really suck. You really really suck. Really really suck!!!!!!!!!!!! Kamu udah mau pulang dan kamu masih nggak ngabarin???? What the F*CK!! Kalau aku nggak nelepon kamu, kamu bakalan nggak ngabarin  sampai nanti udah balik? Hahh????? Hah???”, Arya ngomel-ngomel.

“Mmmmhh sebenarnya itu perdebatan batin aku juga sih.”

“PERDEBATAN BATIN MBAH LO!!!”, Arya melupakan kata ganti kamu.

Ya can I come to your house? Like right now? I want to see you.”

F*CKING LIARRR!!!!!!!!”

“Arya you haven’t changed a bit ya. It’s a good thing. Serious. I’m glad you still act like that. No Arya. Listen. Listen. Are you listening?”

“Ngomong buruan! And what kind of act are you talking about?

“Aku uhmm. Actually I didn’t expect that you want to see me”, Mojo akhirnya mengaku.

Of course I do *sshole! Why wouldn’t I?” , Arya sedikit melunak tetapi masih kesal.

Well you broke up with me. BTW it’s your ungengsiness to spill your feelings into words. And quite straight to the point. I’m talking about the kind of act that I was talking about.

“Apa hubungannyyaaaa??? The break up. Not the act that you were talking about. Thanks btw. I take that as a compliment.

It’s a compliment. Oke balik ke soal putusnya kita. Aku takut ganggu aja. Dan lo punya tendensi untuk menampilkan perilaku tidak ingin diganggu”, sahut Mojo persis seperti perkataan Arman.

D*mn it world!! Why people think like that!!”

Mojo menghela nafas. “It’s been quite some time since we broke up. And now you’re living with Lego. I don’t think it’s appropriate for me to call you. But I swear I really want to. I swear Arya. I swear”, Mojo sekarang terdengar serius.

“Lego? I’ve been friends with him like forever. You don’t think that we’re couple, do you???

Actually when you said that Lego is moving in with you, I thought you guys are dating.”

J*ckass. No we’re not!!! And I have Carine as a housemate too. It doesn’t mean anything!! And even though Lego and I are dating, it’s still a lame excuse for not calling me! Damn it Mojo! I haven’t seen you in years!! You suck you know??

“Takut ganggu hubungan orang aja”, Mojo berkata pelan.

Well we’re not dating. And you still suck!”

“Well I have pride. Shit I am suck”, kata Mojo kemudian. “By the way, there is a rule that a dumpee shouldn’t call the dumper. Never. You can’t really blame me Arya. Blame the theory”, ujar Mojo.

Urrgh John Green. Damn it honey, why do you write about that”, Arya berpura-pura berbicara kepada John Green, pengarang favoritnya.

Ahh you read An Abundance of Katherines.

You read that too?”

“That guy is a genius.”

“So damn genius.”

“Hazel Grace reminds me of you.”

“Ahh The Fault in Our Stars. Funny. I see myself in Hazel Grace too.”

“We still have the same taste ya”, ujar Mojo.

Glad that we do”, balas Arya.

So can I come to your house Hazel Grace? Sebentar aja. I’ll go with you on Saturday too. Is that OK?

FRIDAY! Who said that I’m free on Saturday? I told you I’m free on weekend not exactly that I am free on Saturday. Weekend could be Friday, Saturday, or Sunday. You j*ck*ss!! I like that you call me Hazel Grace btw.

“Ok ok Jumat. Dan Sabtu juga kalau lo mau Hazel Grace.”

“Tergantung seberapa menyenangkan kamu di hari ini dan hari Jumat.”

“Jadi artinya aku boleh dateng?”

You don’t know my address *sshole!”

I was going to ask you to text me the address, Hazel but doesn’t really fit a Grace.”

“Ya udah ntar aku sms. Waktu kamu di sini sejam aja ya! Plus sejam untuk perjalanan. Nggak jauh kok dari rumah kamu yang di Cilandak.”

“Oke. Tunggu ya. Bye.”

Bye”, Arya mematikan telepon.

Happy dear sister?”, tanya Arman yang daritadi memperhatikan adiknya.

Actually I’m nervous”, sahut Arya. Arman mendekat dan memegang kedua tangan Arya.

“I’m nervous”, kata Arya lagi.

I got you”, sahut Arman menenangkan. Ia menggoyang goyangkan tangan adiknya.

I got you. You’re gonna be okay”, kata Aman kepada Arya.

I’m still nervous.”

“I got you.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s