Saat Joker Pergi Berdua dengan Arla (Part 2)

 

Lanjutan dari :https://rumahlor.wordpress.com/2013/06/14/saat-joker-pergi-berdua-dengan-arla-part-1/

 

“Manusia senangnya membuat hal menjadi kompleks. Jadi rumit. Makanya mencari intrik. Benar nggak?”, tanya Arla.

“Nggak juga. Buktinya gua nggak mau pacaran karena justru nggak mau ribet.”

“Bukannya sejauh ini perempuan-perempuan kamu itu justru yang sering bikin kamu pusing ya?”

“Pusing kalau mereka udah rewel. Kalau mereka bukan pacar, kan gua bisa kabur kapan aja. Kalau kayak gua sekarang, gua cuma mikir gimana caranya bisa ngilang dari mereka”, jelas Joker.

“Kalau waktu sama Arya, lebih simpel mana sama sekarang?”

“Ngapain nanya-nanya soal Arya?”

“Untuk menelaah hipotesamu bahwa  dengan tidak berpacaran itu adalah hidup yang lebih baik. Caranya dengan membandingkan kehidupan kamu sesudah dan sebelum berpacaran dengan”, Arya menjelaskan dengan sabar.

Joker  mengambil waktu sejenak sebelum bercerita. Ia kemudian berkata “Sama Arya itu nggak simpel. Lu taulah kelakuan dia yang ajaib-ajaib. Gua udah usaha romantis pasti diketawain melulu. Gua suruh dandan nggak pernah mau kecuali ke kondangan. Gua ancem tinggalin, dia juga ketawa-ketawa. Kayak semua tindakan gua itu nggak bisa bikin gua ngedapetin yang gua mau. Selalu gua ngikutin maunya dia. Tapi dia bisa bikin gua ngikutin maunya dia tanpa perlu nyuruh gua. ”

“Oh. Makanya jadi lebih enak sekarang?”

“Nggak juga sih.”

“Lho?”, Arla tambah bingung.

Joker menghela nafas. “ Sama Arya itu gua seneng. Pokoknya gua seneng kalau ada dia. Sampe sekarang juga seneng kalo ada dia. Dan seseneng senengnya gua ngeliat Arya dandan cantik, gua sebenernya lebih seneng ngeliat dia pake sneaker dan kemeja kotak-kotak yang udah jelek. Ya kayak sekarang gua juga seneng ngobrol sama lu”, Joker berusaha mengalihkan fokus Arla dari hubungannya dengan Arya.

“Senang dengan aku sama dengan senang dengan Arya?”, tanya Arla.

“Ya bedalah. Gua seneng karena kita bisa ngomongin hal yang kita berdua suka.”

“Hmm. Sebenarnya pertanyaan yang tadi belum terjawab sih.  Jadinya benar dong kalau manusia memang lebih suka sesuatu yang kompleks. Intriklah, dramalah. Dengan Arya yang tidak simpel, kamu kan senang.”

“Iya awalnya gitu. Cukup lama sih. Cuma ya abis itu dia jadi nggak gitu nyenengin lagi. Mulai suka marah, mulai suka nyuruh. Arya dulu nggak gitu. Dulunya nggak simpel tapi nyenengin. Abis itu tetep nggak simpel, tapi nggak nyenengin lagi. Kira-kira gitu.”

“Ooh pas dia marah apakah itu bisa disebut sebagai intrik?”

“Iya kali.

“Jadinya lebih suka waktu masih berpacaran sama Arya apa sekarang?”

“Lebih seneng sama Arya waktu dia belum suka marah-marah.”

“Kalau sewaktu sudah marah-marah?”

“Hmm. Nggak tau ah”, Joker mulai kewalahan.

“Jadi kamu ini sebenarnya suka sama intrik apa enggak?”

“Kalau dalam urusan pacar-pacaran nggak suka. Tapi kalau dalam sejarah perang dunia, gua suka intriknya.”

“Emang bisa gitu ya?”

“Gitu gimana?”

“Berubah kesukaan. Misalnya aku di Indonesia suka makan apel. Kalau aku keluar negeri seperti Singapura, aku tetap bakal suka apel. Kalau kamu bisa berubah-ubah? Kadang suka intrik, kadang suka dengan hal yang simpel.”

“Iya gitu kali. Tau ah!”

“Pusing.”

“Kenapa lagi. Ya gitu aja. Jadinya gua suka intrik, dan gua suka simpel”

“Aku jadi bingung karena kamu terkadang bisa tidak suka intrik. Maksudnya aku bisa suka makan manis, dan juga suka makan asin. Manis dan asin memang dua hal yang berbeda. Tetapi aku suka dua-duanya Tetapi hanya karena aku suka asin, tidak berarti aku tidak suka makan manis. Kalau kamu, suka intrik dan suka hal yang simpel. Tetapi kadang-kadang bisa benci dengan intrik. Kan aneh? Jadinya suka intrik atau tidak? Aku malah jadi bingung kamu maunya apa? Kayak belum yakin sebenarnya mau cari dua-duanya apa cuma ingin salah satu saja?”

“Argggh”

“Maaf.”

“Noo. Sekarang lu jadi bikin gua mikir”

“Mikir apa?”

“Ya tadi gua pingin intrik apa simpel. Atau emang belum tau maunya apa di idup.”

“Sejujurnya aku sendiri tadi nggak mengerti pertanyaanku. Kalau disuruh ulang juga tidak bisa. Entahlah kalau sudah berhubungan dengan emosi manusia, otakku sulit memformulasikan”, ujar Arla.

“Iya emang ribet kok”

“Soal Arya, kalau waktu itu dia jadi nggak nyenengin lagi, kenapa nggak kamu bikin kalian jadi menyenangkan lagi?”

“Hmm pertanyaan bagus. Mungkin nggak ada kesempatannya.”

“Ooooo ya ya. Tapi emang susah sih. Aku sendiri nggak pernah pandai menebak maunya orang. Nggak tau apa yang bisa membuat seseorang marah atau senang. Kadang aku pikir aku tau, tetapi di lain kesempatan penyebab mereka marah bisa berbeda. Mungkin karena itu ya jadi ribet? Kemungkinan erornya  besar.”

“Heh?”

“Di statistik kan selalu ada eror. Meskipun mengukur hal kuantitatif sekalipun. Kayak misalnya obat pilek merk A bisa berhasil di satu orang, tetapi nggak di orang yang lainnya. Cuma kalau urusannya sama emosi manusia, kayaknya kemungkinan ada kasus ‘khusus’ itu lebih banyak saja.”

“Iyee orang kadang susah tau maunya apa. Orangnya sendiri aja nggak tau, gimana orang lain  bisa tau?”, kata Joker. Arla mengangguk-angguk.

“Kecuali Arman mungkin”, ujar Arla. “Dia selalu tau harus apa kalau lagi menghadapi situasi apa saja.”

“Kecuali Arya sih menurut gua. Arya selalu punya cara untuk bikin orang nggak sedih. Dan kadang dia udah bisa prediksi perasaan orang sebelum orangnya sendiri nyadar”, ujar Joker.

Why don’t you get back together and solve the problem that you haven’t solved before?”, tanya Arla.

“Nggak sesimpel itu La.”

“Kenapa? Kan kalian berdua masih hidup. Kenapa dibilang nggak ada kesempatan? Emang yang dihitung kesempatan itu keadaan yang kayak gimana sih?”, tanya Arla.

“Kadang hal itu suka terlintas sih di pikiran gua. Kalau dipikir emang masa dia bikin kita kisruh itu nggak lama dan dulu gua emang nggak berusaha apa-apa untuk memperbaiki itu. Kadang gua mikir kekisruhan itu sebenarnya sepadan dengan kesenangan yang gua dapatkan. Tapi saat itu Aryanya juga nggak kelihatan mau berjuang. Ya udah gua balik lagi ke gaya pacaran sebelumnya. Terus gua udah terlalu nyaman dengan kehidupan gua sekarang. Gua belum tau apakah pas gua pacaran dengan Arya dulu itu adalah keadaan yang lebih baik daripada sekarang. Hubungan gua baik-baik aja sekarang sama dia. Gua nggak tau apakah perlu mengubah keadaan kita sekarang. Selain itu ada kemungkinan gua udah suka sama orang lain”, Joker melirik ke arah Arla yang masih menatap lurus ke arah matanya. Joker menunduk salah tingkah.

“Errgh terlalu membingungkan untuk aku. Bisakah kita kembali membicarakan perang dunia saja?”, sahut Arla yang sudah sangat kebingungan.

“Iya. Mari ganti topik”, Joker tersenyum lega.

2 thoughts on “Saat Joker Pergi Berdua dengan Arla (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s