Saat Joker Pergi Berdua dengan Arla (part 1)

Bakal lebih asik kalau membaca cerita-cerita sebelumnya

https://rumahlor.wordpress.com/category/projek-cari-pacar-untuk-arla/

https://rumahlor.wordpress.com/2013/05/19/anorexia-isnt-sexy/

Joker sudah duduk dalam diam selama setengah jam lamanya. Setelah kehebohan kencan pertama dengan Arla, rupanya kencan kedua dia dan Arla tidak berjalan mulus. Arla tidak banyak mengetahui mengenai musik apalagi digital marketing. Sementara pengetahuan Joker mengenai bio teknologi nyaris nol. Jadilah mereka hanya makan sambil menatap piring masing-masing. Yang lebih buruk lagi, Arla sepertinya cuek saja jika mereka tidak mengobrol. Untungnya Joker tiba-tiba teringat mengenai metode ciptaan Arya untuk mengatasi silent moment yang tidak dikehendaki.

“La mau main kenali aku nggak?”, tanya Joker.
“Apa itu?”, Arla mengalihkan pandangannya dari piring.
“Permainan bikinan Arya. Jadi nanti gua nanya pertanyaan soal diri lo. Abis itu gua bakal jawab pertanyaan yang sama. Misalnya gua nanya nih ya. Warna kesukaan lu apa?”
“Hitam, putih, pastel, abu-abu. Yang netral”, jawab Arya.
“Naah terus gua jawab juga warna kesukaan gua. Gua sukanya warna hitam. Kalau gua udah jawab, gantian lu yang mikirin pertanyaan selanjutnya. Ngerti nggak?”, tanya Joker. Arla mengangguk-angguk.
“Ngerti.”
“Nah sekarang giliran lu”, Joker mempersilahkan Arla bertanya.
“Apakah ibumu marah kepadaku?”, tanya Arla.
“Nggak dia nggak marah. Mungkin kaget aja”, kata Joker tidak menyangka bahwa Arla akan bertanya hal tersebut.. Arla hanya mengangkat alisnya.
“Ibuku tidak marah kepadamu”, kata Arla kemudian.
“Emang kenapa nyokap lu bisa marah sama gua?”, Joker berkata bingung.
“Ya kan kita harus menjawab pertanyaan yang kita lontarkan.”
“Oh iya benar juga”, kata Joker. “Oke sekarang pertanyaan berikutnya ya. Film favorit lo apa?’, tanya Joker.
“The Valkyrie.”
“Suka Tom Cruise?”
“Lebih suka The Valkyrie versi Eropa. Yang main bukan Tom Cruise, tapi cucunya si kolonel Stauffenberg. Aku suka film itu karena aku tertarik terhadap hal-hal mengenai perang dunia II.”
“Lu suka perang dunia?”
“Suka perang dunia II saja Kalau yang perang dunia pertama tidak semenarik yang kedua. Kalau kamu?”
“Gua juga suka banget perang dunia II. Kalau filmnya gua suka Saving Private Ryan sama Defiance.”
“Ya itu juga bagus. Kalau Band of Brothers?”
“Band of Brothers mah wajibbbb!!!!”, Joker menjawab dengan bersemangat.
“Kamu kenapa suka Perang dunia II? Eh belum giliranku bertanya ya? Kan aku baru bertanya soal Band of Brothers”, tanya Arla.
“Nggak apa-apa kok.”
“Kan peraturannya nggak gitu. Kamu tanya dulu deh, baru jawab pertanyaan tadi.”
“Mmmm tapi kan tadi gua udah nanya dua pertanyaan berurutan. Yang pertama gua nanya soal film kesukaan, yang kedua gua nanya apakah lo suka perang dunia atau tidak”, kata Joker.
“Oooh boleh gitu ya?”
“Fleksibel jugalah La”, komentar Joker.
“Udah tiga pertanyaan dong kalau gitu. Kamu kan tadi bertanya ‘suka Tom Cruise?’ Jadi aku harus mengajukan dua pertanyaan ya?”
“Inget aja.”
“Ya ingat. Orang baru beberapa menit yang lalu.”
“Iya sih. Ya udah kita lanjutin aja ya. Kenapa gua suka perang dunia II? Karena itu adalah perang gentleman terakhir di dunia. Kalau sekarang perangnya menggunakan spionase. Itu sama sekali tidak gentleman. Kalau lu?”
“Kan aku masih harus bertanya sekali lagi?”
“Fleksibel La. Fleksibel.”
“Hhh fleksibel sama tidak ada peraturan sama sekali nggak jelas bedanya”, kata Arla.
“Ude nggak usah terlalu dipikirin. Nggak bakal masuk penjara juga kok.”
“Ya sudah nanti kasih tau saja kalau sudah waktunya aku bertanya. Aku suka perang dunia II salah satunya karena aku tertarik dengan pemikiran Hitler. Memang ada tindakan dia yang buruk, tetapi ada juga yang bagus. Misalnya, Hitler itu anti rokok. Pada masa itu di Jerman orang tidak boleh merokok. Kalau ketahuan akan dihukum oleh negara. Dan di sana peraturan itu dijalankan. Tidak basa basi seperti di Indonesia. Selain itu sanksinya cukup berat, tidak sekedar denda saja. Menurutku kalau sanksi merokok hanya denda itu tidak efektif. Sementara kalau di Jerman dulu, kamu bisa ditangkap kalau ketahuan merokok oleh prajurit ss atau Gestapo.”
“Emang gitu? Di film-film perang dunia kan suka ada tentara yang ngerokok?”
“Yang merokok itu tentara sekutu. Kalau tentara Jerman itu harusnya tidak ada yang merokok. Kecuali mereka sembunyi-sembunyi atau merokok tidak di negara Jerman. Kalau ada film yang menayangkan tentara Jerman merokok di Jerman, berarti risetnya kurang. Kalau kamu lihat film Downfall, asap rokok di Jerman itu baru keluar saat Hitler meninggal.”
“Emang kenapa kalau dia anti rokok? Lu nggak suka orang ngerokok?”, tanya Joker seraya melirik bungkus rokok yang ada di kantong celananya.
“Nggak suka perilaku merokoknya. Bukan tidak suka orangnya”, Arla menjelaskan.
“Terus selain karena dia anti rokok, apalagi yang lu suka dari dia?”, Joker melanjutkan obrolan mereka.
“Hitler itu hebat karena dia berusaha melunasi hutang Jerman akibat kalah dari perang dunia pertama. And he decided to pay back. Kata orang itu namanya military jokes. Dia membayar hutang dengan cara menyerang. Dia kemudian berusaha menyatukan rakyat Jerman sehingga kokoh. Sama seperti Gajah Mada yang berusaha menyatukan nusantara. Tadinya Jerman kan kepecah-pecah. Banyak kelompok oportunis yang merupakan orang borjuis. Waktu itu orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin. Seperti di Indonesia sekarang. Dan Hitler itu berhasil mengambil hati orang miskin. Menurutku hebat karena dia bisa bikin Jerman jadi kuat di saat sebelumnya sudah terpuruk.”
“Gua nggak tau tuh soal itu.”
“Iya jadi sebelum perang dunia kedua terjadi, ada perang kelompok dulu di Jerman”, jelas Arla.
“Nggak pernah kepikiran sebelumnya untuk mengagumi Hitler. Mungkin gara-gara terbiasa dengan pandangan kalau dia itu jahat ya”, ujar Joker.
“Dibilang jahat ya bisa juga. Dia menyerang Yahudi, dan juga menyerang negara tetangga seperti Perancis, Polandia, Belanda, dan sebagainya. Hampir semua Eropa diduduki Jerman, kecuali Inggris dan Uni Soviet. Dia melanggar perjanjian Sevres.”
“Kenapa sih dia nggak suka Yahudi?”
“Nggak tau deh. Aku nggak sempat tanya sama dia. Tapi kalau boleh berasumsi, pada zaman itu memang Yahudi suka merampas harta-harta orang Jerman. Misalnya kamu lagi di rumah, tiba-tiba bisa ada orang Yahudi masuk dan berkata kalau rumah itu bukan rumah kamu lagi. Dan Bapak tiri Hitler adalah orang Yahudi. Mungkin hubungan mereka nggak terlalu harmonis. Kalau soal itu aku kurang tau. Tetapi mungkin saja itu menjadi penyebab Hitler tidak suka Yahudi.”
“Ih gila intrik-intriknya seru banget ya”
“Aku sih tidak terlalu peduli dengan intrik. Tetapi lebih suka melihat fakta mengenai cara-cara dia yang efektif dan tidak. Karena tentunya perlu perencanaan yang matang untuk bisa segitu berkuasanya. Jangan lupa Nazi juga sebenarnya melakukan banyak penelitian yang berguna, meski metodenya sangat tidak manusiawi. Misalnya penelitian dia mengenai hypothermia atau dampak berbagai racun kepada manusia.”
“Ah ngeri gua kalau baca soal eksperimen-eksperimennya Nazi”, ujar Joker.
“Ya memang. Ya sudahlah gantian kamu yang cerita”, Arla mempersilahkan Joker.
“Gua itu kepingin banget ke Pantai Salerno. Waktu itu Jerman sama Amerika sempat mau berperang di situ. Tetapi saking indahnya mereka sampai nggak jadi perang. Itu kan luar biasa banget. Dan yang gua kagumi, di perang itu semua pihak menghargai tata karma. Orang Jerman aja punya aturan untuk nggak nembak pasukan medis atau parasut.
Terus salah satu kejadian yang keren banget. Di Jerman kan ada penghargaan namanya iron cross. Itu cukup terkenal di kalangan militer Jerman. Kalo punya itu beuuh, derajat lu tinggi banget. Lu bisa dapet itu kalau menjatuhkan pesawat bomber setidaknya 4 buah. Nah ada nih pejuang dia udah jatuhin 3 bomber. Tiba-tiba di tengah jalan dia liat ada bomber Inggris udah berantakan banget. Di situ ada 11 orang. Pesawatnya udah bolong2. Cuma tau ga diapain? Pilotnya disuruh mendarat. Bomber inggrisnya ga mau kan. Akhirnya dikawal sampai pantai Inggris. Trus akhirnya disalutin sama orang Inggrisnya. Keren banget kann!!”
“Kenapa keren? Kan dia jadi tidak mendapat iron cross. Sudah gitu memperbesar kemungkinan kalah karena menyelamatkan musuh. Meski cuma 1 bomber.”

“Arla!! Itu dia namanya intrik!! Pas rasa kemanusiaan seseorang ternyata bisa ngalahin keinginan dia untuk dapet iron cross. Kan gile!”

“Kalau pasukan bomber itu sudah pulih, lalu suatu hari menyerang rumah keluarganya si pejuang Jerman itu, memangnya masih bakal keren? Memangnya mereka tanya alamat dan nama pejuang itu? Seperti seorang serdadu Inggris bernama Henry Tandey yang waktu itu tidak tega menembak orang yang sudah compang camping. Ternyata orang itu adalah Hitler. Henry Tandey sangat menyesal.”

“Ya itu Laaa lucu kan intrik-intriknya. Itu seru banget!!!”

“Kamu kalau lagi begini mirip Arya deh. Bedanya Arya semangat kalau cerita soal fantasi. Aku tidak mengerti kenapa manusia lebih memilih intrik daripada kewajiban. Apa sih gunanya intrik?”
“Itu bikin hidup lu lebih hidup”
“Sebenarnya cuma bikin hidup lebih tidak teratur. Tidak praktis.”
“Kalau terlalu teratur ya bosen La”
“Yah di sini mungkin kita berbeda”, kata Arla.
“Kalau dipikir-pikir permainannya Arya bikin kita jadi bisa ngobrol kan? Seru kan?”
“Ya benar. Tapi yang dia lakukan kan menciptakan aturan. Kamu menerapkan aturan yang sebelumnya dibuat Arya ke dalam situasi sekarang. Yang bermanfaat adalah aturan kan? Bukan intrik”, ujar Arla.
“Ah tau ah pusing. Ya pokoknya gitu deh”, ujar Joker menyerah menghadapi pertanyaan Arla.

Notes :

Terima kasih untuk Hashfi (Presiden Strange Real) dan Iom soal kisah-kisah PD II-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s