Surat Keputusan Bersama

Arla, Arya, Carine, Lego, Joker

Supaya lebih enak, baca dulu post sebelumnya mengenai projek cari pacar untuk Arla

“Guuuysss, I’m happy!!”, Carine berteriak kepada teman-temannya yang sedang berkumpul di rumah lor. Saat itu ada Arya, Joker, Lego, dan Fahri.
“Halo happy”, jawab Arya asal.
Literally, not figuratively”, Carine berkata judes. Lego tertawa kecil.
“Cowok mana lagi yang lo berhasil tangkep”, Joker sudah paham hal yang paling membuat Carine senang.
“Setelah gue menahan diri untuk nggak ketemu si Zack, akhirnya dia ngajak gue jalan juga.”
“Tuh kan gua bilang juga apa. Sabar aja makanya. Sabar”, ujar Joker bangga.
“Hoho impresif. Zack yang mana ya? Gue udah kesulitan mengikuti sejarah percintaan lo. Sama kaya sejarah percintaannya Joker. Pusing. Leg, any idea who the f*ck is Zack?’, Arya meminta bantuan Lego.
“Ada , yang main gitar. Yang Joker juga kenal”, ujar Lego.
“Ah kecengan dia bukannya pemain gitar semua”, sahut Fahri.
“Yang nggak main gitar juga banyak tau”, bantah Carine.
“Eh ngomong-ngomong soal cowok main gitar, lo ngenalin si Rayner sama Arla?”
“Iya. Hari ini jalan tuh mereka hihihi”, Carine terkikik bangga.
“Ngapain sih si Arla lu kenalin sama cowok nggak mutu gitu?”, Joker berkata kesal.
“Ya gue pikir si Adie itu mungkin terlalu biasa buat si aneh itu. Adie kan orang kantoran biasa. Mapan sih. Tapi siapa tau Arla suka yang rada bandel dikit. Mana kita tau kan seleranya anak itu”, Carine berargumen.
“Emang nggak bisa nyari yang bandel tapi yang mendingan dikit”, Joker masih berkata kesal.
“Kalo ada yang bandel dan oke sih nggak buat Arla. Tapi buat gue weeeeeeeek”, Carine menjulurkan lidahnya.
“Eh pucuk dicinta ulam tiba”, Fahri mengomentari Arla yang baru saja masuk ke rumah lor.
Carine melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. “Belom berangkat sama Rayner La?”, Carine bertanya.
“Tadi Rayner ke sini. Tapi sudah pulang lagi”, jawab Arla.
“Lahhh????? Kok balik lagi sih tu anak?”, Carine bertanya heran.
“Tadi aku bilang aku nggak mau pergi sama dia, terus dia langsung pulang. Dia itu terlambat. Janjiannya kan jam tujuh. Kemarin aku kirim pesan kalau toleransi keterlambatanku itu 30 menit. Aku minta dia untuk cocokkan jam dengan jam aku. Tadi dia datang jam 19.32. Ya aku sudah tidak mau pergi lagi”, jelas Arla.
“Cuma telat dua menit gitu”, Carine tidak terima.
“Enggak dong. Terlambatnya 32 menit.”
“Iya maksudnya telat 2 menit dari toleransi keterlambatan lo.”
“Terlambat dari waktu toleransi keterlambatan kan jadinya sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Ini aku udah negosiasi lho. Kalau untuk urusan pekerjaan itu toleransi keterlambatanku 15 menit.  Lagipula Rayner itu pencuri.”
“Hah????”, Carine dan Fahri terkejut.
“Pencuri apaan? Bukan pencuri hati kan?”, sahut Fahri.Arla menggeleng.
“Jadi sebelum hari ini dia pernah beberapa kali kirim pesan pas jam kantor. Perasaan dia itu sudah jam setengah sepuluh kok kadang belum sampai kantor juga. Padahal jam kantornya itu masuk jam 9. Dia kan dibayar untuk bekerja dari jam 9 sampai jam 5 sore. Kalau terlambat datang, namanya nyuri dong. Dan dia itu sering sekali terlambat datang ke kantor. Setiap hari terlambat terus. Time is money. Coba hitung sudah berapa banyak kecurangan uang yang dia ambil ?”, kata Arla. Carine melotot hendak membantah, tetapi Lego keburu angkat bicara.
“Eh iya tuh. Di Jepang itu terlambat dan membolos dihitung tindakan kriminal. Cuma di sini kadang lingkungan terlalu memaklumi. Budaya jam karet itu awet karena kita ngebiarin. Misalnya si Rayner ngajak jalan Arla lagi, gue yakin dia bakal lebih  berusaha untuk tepat waktu. Kecuali kalau memang nggak niat ya”, Lego menyetujui perbuatan Arla.
“Niiih bocah yang suka telat, dengerin tuuuh”, Arya menunjuk ke arah Fahri.
“Nah kita sekarang bisa maju ke laki-laki selanjutnya nggak? Tinggal satu lagi kan”, kata Arla.
“Ih nggak bisa dong. Kan lo belum kencan sama dia. Harus jalan dulu sama Rayner”, Carine memaksa.
“Ah itu sih udah diitung gagal. Udah ah udahin aja perjanjian konyol kalian berdua itu”, kata Joker.
“Kayaknya lo harus nyariin si Arla cowok di luar pergaulan lo deh Rin kalau mau berhasil. Elo sama Arla kan beda banget. Cariin yang lebih cocok untuk Arla. Arla kan akademisi banget. Lo cari cowok yang model gitu. Jangan yang anak band. Cari yang lebih bisa bersikap profesional”, saran Lego.
“Eh gue punya ide. Untuk menghilangkan budaya jam karet, gue mau menciptakan SKB yaitu Surat Keputusan Bersama. Jadi kalau kita janjian mau pergi, siapa yang telat dateng dikenakan denda per menitnya Rp 1.000. Gimana?”, Arya memberi usul. “Bagus tuh idenya. Budaya telat kan bertahan karena pada memaklumi”, kata Lego.
“Ih tapi kan bisa aja jalanan emang macet, atau ada hal-hal nggak diduga”, Fahri mencari alasan.
“Lo kalo gue kasih sejuta dolar asal bisa dateng on time selama sebulan sanggup nggak?”, tantang Arya.
“Oh ya bisa doong!”, Fahri mengiyakan dengan cepat.
“Tapi kan bisa aja jalanan emang macet. Atau ada hal-hal yang nggak diduga”, tanya Arya lagi.
“Ya kalo ada sejuta dolar gue bakal berangkatnya super awal. Kalo perlu berangkat tiga jam sebelumnya”, jawab Fahri. “Jadi sebenarnya bisa kan. Tinggal niat apa enggak. Kalau konsekuensi terlambat nggak ada, perilakunya cenderung bertahan”, jelas Arya.
“Udah sah deh sah tuh SKB. Gua juga sebel banget sama orang telat. Tapi kedikitan tuh. Masa cuma semenit seribu. Bisa beli apaan?”, tanya Joker.
“Eh setiap hari telat setengah jam lumayan tau jadi 30 ribu per hari. Beli keripik udah kenyang. Lagian si Fahri belom tentu bisa bayar. Noh yang paling sering telat.”, Arya menunjuk Fahri.
“Eits Joker hati-hati lo. Elo kan kerjaannya suka rodi. Di tengah kota pula. Rawan macet”, Carine mengingatkan.
“Eh kita kalau janjian sekarang jam-jam rawan macet aja. Biar Joker terlambat melulu. Hahahaha”, tukas Fahri.
“Ya nggak bisa dong, kan gue pasti nggak setuju. Lagian gua jarang telat. Gua kan biasanya main nyusul-nyusul aja bilangnya. Nggak diitung telat dong. Kan nggak janji mau datang jam berapa. Tapi gua kan berani ambil resiko ditinggalin. Jadi ada nggak ada gua, jadwal kalian nggak terganggu”, ujar Joker.
“Aku sih setuju-setuju saja. Aku lebih senang kalau semuanya teratur” dukung Arla.
“Ya udah gitu ya. Pokoknya nggak boleh mengganggu ritme hidup satu sama lain. Nyebelin tau”, kata Arya.
“Ah kalau udah pasti telat mending gua nggak dateng aja”, Fahri bersiap ngambek.
“Ya udah biarin, lo ketinggalan acara”, Arya galak.
“Kayaknya tapi tetep harus kasih celah untuk kejadian yang sangat nggak diduga deh. Telat boleh tapi harus ngasih tau. Cuma bikin aja aturan kapan keringanan itu boleh diberikan”, saran Lego.
“Ah nggak usah ah celah-celah. Mending nggak usah janji sekalian. Gini  aja pembatalan dateng itu harus dilakukan satu jam sebelumnya. Pembatalan tanpa pemberitahuan yang cukup awal didenda seratus ribu.  Keterlambatan dapat dibebaskan dari denda kalau ada keluarga yang meninggal, atau bencana alam. Kalau nggak yakin bisa on time ya kayak gua, mending nggak usah janji. Ditinggalin aja. Gimana?”, usul Joker.
“Sahhhh!!!!”, semua menyetujui.
“Sah deh”, Fahri berkata setengah hati.

*Terima kasih kepada trio libels (kismis, dico, bebek) untuk ijin memasukkan SKB ke dalam post ini. Ijinnya sama kismis. Kalo yg dua nggak setuju salahin kismis aja ya.
Ini SKB Aslinya :

IMG-20110925-00280

One thought on “Surat Keputusan Bersama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s