Bikin Janji yang Benar Dong!

JOKER dan ARLA

(Baca kisah di kategori Projek Cari Pacar Arla yang lain untuk lebih jelasnya)

Ding dong! Ding dong!
Pintu rumah utama berbunyi di suatu hari Sabtu. Arla turun dari kamarnya dan membukakan pintu.
“Oh kamu”, kata Arla saat melihat bahwa ternyata Jokerlah yang menekan bel. Arla kemudian mempersilahkan Joker masuk.
“Malem ini ngapain La?”, tanya Joker tanpa basa basi.
“Mau menyelesaikan membaca buku”, ujar Arla.
“Udah makan belum?”, tanya Joker lagi.
“Nanti rencananya jam setengah 8 setelah Arman selesai memasakkan makanan untuk kami berdua”, sahut Arla sambil melihat ke arah jam yang baru menunjukkan pukul 6 sore.
“Mau pergi makan di luar aja nggak?”, tanya Joker.
“Enggak”, jawab Arla pendek.
“Kenapa?”, Joker bertanya sambil menahan senyum pahit akibat ditolak mentah-mentah.
“Kan tadi aku bilang kalau hari ini aku mau menyelesaikan membaca buku. Lagipula kamu belum buat janji. Biasanya aku mengatur jadwal sehari sebelumnya. Jadi kalau mau ajak aku pergi itu paling terlambat ya dua hari sebelumnya. Meski sehari sebelumnya memungkinkan, tetapi aku tidak terlalu suka kalau agak mendadak.”
“Nanti selesaiin baca bukunya habis pergi makan aja”, Joker masih berusaha.
“Kan aku sudah bilang mau makan di rumah”, Arla mengatakan ulang mengenai jadwalnya hari itu.
“Yaelah apa bedanya sih?”
“Jelas beda. Kalau makan di luar kan makan waktu lagi untuk pergi ke restorannya. Lalu kita harus menunggu pelayan memberikan menu, mencatat, dan ia akan memberikan pesanan kepada koki, dan seterusnya. Kemudian belum lagi waktu untuk perjalanan pulang. Kalau dihitung waktunya, itu bisa jadi sama dengan waktuku membaca beberapa bab”, jelas Arla.
“Lu baca apaan sih emangnya? Emang nggak bisa ditunda?”
“Sebisa mungkin tidak. Aku baca buku judulnya Quiet.”
“Emang lu mati ya kalau nggak baca buku itu hari ini?”
“Mati jelas tidak. Tetapi masalahnya besok-besok akan terus terbit lagi buku-buku baru yang akan ingin aku selesaikan. Jadi sebisa mungkin aku tidak menunda membaca buku”, jelas Arla lagi.
“Kenapa nggak nyoba untuk lebih fleksibel sih?”
“Aku bisa fleksibel kalau kepentingannya darurat. Kalau ini kan hanya makan malam saja. Lagipula kenapa kamu nggak mencoba untuk lebih teratur?”, balas Arla.
“Biar hidup lebih santai. Capek kali harus selalu tepat waktu”, ujar Joker.
“Aku nggak segitu harus tepat waktunya. Perdebatan kita ini kan termasuk kegiatan memakan waktu yang tak terduga. Itu kenapa aku selalu menyisihkan sisa waktu saat menyusun jadwal.”
“Nah sebenarnya daripada lu daritadi berdebat kan mending tadi kita pergi. Udah nyampe restoran nih kita. Sama aja kan”, Joker berargumentasi.
“Pergi tidak pergi pasti perdebatan ini tetap ada. Perdebatan ini tidak akan ada kalau kamu mengajakku pergi dari jauh-jauh hari”, sahut Arla.
“Susah banget sih ngajak lu pergi doang”, kata Joker seraya duduk di sofa.
“Nggak susah. Kan tadi aku sudah bilang. Tinggal buat janji saja setidaknya dua hari sebelumnya. Informasi yang mana yang kamu tidak mengerti?”
Joker nyengir keki. “Oke kalau gitu Sabtu depan gua boleh ngajak lo makan malam?”, tanya Joker.
“Sabtu malam aku bisa”, jawab Arla. Joker tersenyum girang.

“Eh La duduk sini dong”, kata Joker seraya menunjuk ke tempat kosong di sebelahnya. Arla menaikkan alisnya. “Bukannya harusnya aku ya yang mempersilahkan kamu duduk, yang mana kamu belum minta izin tadi”, protes Arla. Meski protes Arla akhirnya tetap berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Joker.

“Kalau Jumatnya mau nonton nggak?’, tanya Joker lagi.

“Jumat depan tidak bisa. Aku ada janji untuk kencan dengan temannya Carine. Aku masih janji untuk mau berkencan dengan  laki-laki yang dipilihkan oleh Carine”, jelas Arla.
“Siapa temannya Carine?”, Joker ingin tahu dan merasa sedikit tidak suka.
“Nggak tau. Katanya namanya Rayner. Aku belum pernah bertemu orangnya.”
“Rayner yang main gitar? Yang dulu ngegebet Carine?”, tanya Joker yang mengetahui bahwa rata-rata laki-laki yang dekat dengan Carine adalah musisi.
“Entahlah.”
“Kalau yang itu gua mah tau orangnya.”
“Ya mungkin yang itu, mungkin Rayner yang lain.”
“Kalau yang itu nggak usahlah. Nggak bakal suka lu. Lagian Carine masa ngasih cowok yang udah dia tolak ke élu sih”, kata Joker ketus. Arla hanya mengangkat bahunya.
“Eh tapi penasaran deh gua, lu pernah naksir cowok nggak sih?”
“Pernah”, sahut Arla sambil menaikkan kacamatanya.
“Serius? Pingin tau gua cowok yang bisa bikin lo naksir itu yang kayak apa sih?”, Joker menginterogasi.
“Aku bingung kalau ditanya begitu. Orang suka bilang kalau dia suka seseorang karena ganteng, atau karena baik. Sebenarnya tapi yang cantik dan baik kan banyak. Kalau begitu harusnya dia suka sama semua orang yang ganteng dan baik. Oleh karena itu aku sulit menjelaskan kenapa aku bisa suka kepada satu orang tertentu”, kata Arla.
“Soalnya kombinasi juga penting. Kayak misalnya air H2O. Unsur kimia lain yang ada H dan O kan ada juga. Tapi yang kombinasinya H2O ya cuma air”, Joker menjelaskan.
“Hmm itu penjelasan paling masuk akal”, Arla manggut-manggut.
“Jadi unsur-unsur apa aja yang lu suka dari cowok?”, Joker masih penasaran.
“Mmm yang pintar tentu saja. Aku suka orang yang sama-sama suka meneliti. Yang apalagi ya? Mungkin yang tidak banyak ingin mengubah aku”, kata Arla.
“Kalau di gua ada unsur yang lu suka nggak?”, Joker mencoba peruntungannya. Arla memperhatikan Joker sejenak. “Aku suka cara kamu melihatku. Bukan cara melihat kamu yang biasanya. Tapi seperti sekarang ini”, kata Arla beberapa saat setelah ia mengamati Joker.
“Kayak gimana maksudnya?”, Joker bertanya tak mengerti.
“Diam ya”, Arla mengambil telepon genggamnya dan bersiap memotret Joker.
“Eh mau ngapain?”
“Itu mau foto matanya.”
“Buat apa?”, Joker bingung.
“Tadi kan kamu nanya ‘kayak gimana?’. Kalau aku foto kan kamu bisa lihat sendiri matamu kayak apa”, jelas Arla.
“Ya dideskripsiin aja kali”, kata Joker.
“Repot.”
“Kenapa?Tinggal ngomong”
“Susah jelasinnya. Organ-organ mata yang terlibat kan ada banyak.”
“Coba dong.”
“Mmm”, Arla bergumam sambil berpikir.
“Hmmmm?”
“Mmmmm”
“Mmm hmmm?”, Joker mendekatkan wajahnya ke wajah Arla. Arla melebarkan mata Joker dengan jarinya dan mengamatiya. Joker membiarkan Arla melakukannya.
“Aku tidak tahu komponen mata apa yang berubah. Mmm tapi ada kesan kamu terlihat senang.”
“Gua kan sering terlihat senang.”
“Senang beda-beda. Ada ekspresi Arya kalau melihat kue cokelat, ada ekspresi senang saat tim sepak bola yang didukung menang. Mmm kalau yang ini agak mirip dengan sorot mata Carine kalau lagi melihat Arman”, Arla melepaskan jarinya dari wajah Joker. Joker merasa wajahnya menjadi panas.
Joker memegang wajah Arla dengan kedua tangannya. Wajahnya sekarang sangat dekat dengan wajah Arla. Joker memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Arla.

“Aku sudah selesai dengan analisaku Joker. Kalau sedekat ini aku juga nggak bisa memperhatikan matamu. Dan kenapa malah ditutup matanya?”, ujar Arla membuyarkan niat Joker. Joker kaget campur keki. Dengan panik Joker memundurkan badannya.

“Ya ampun kita sudah lama sekali mengobrolnya. Aku benar-benar harus ke atas lagi. Aku ke atas dulu ya”, sahut Arla sambil buru-buru naik ke atas seolah-olah tidak ada sesuatu hal penting yang terjadi.
Joker masih terduduk diam di sofa. Setelah ia mendapatkan kembali kontrol dirinya, Joker berjalan menuju kamar Arman dan mengetuknya.
“Kenapa bro?”, tanya Arman saat mengalihkan pandangannya sekilas dari komputernya untuk melihat siapa yang masuk.
“Pusing”, sahut Joker sambil merebahkan dirinya di tempat tidur Arman.
“Santai aja bro. Tiduran aja santai. Sampai lo bikin adik gue sakit hati dengan sengaja, gue bakal gebukin lo”, sahut Arman yang menyadari bahwa sahabatnya ini sepertinya berniat mendekati adiknya.

“Santai aja bro. Kesempatannya juga nyaris nihil”, ucap Joker sambil menghela nafas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s