Persepsi Sebelah Tangan

FAHRI, JOKER, ARMAN

“Mau tau yang lebih parah dari bertepuk sebelah tangan?”, celetuk Fahri di suatu malam. Saat itu Fahri sedang bersama Joker dan Arman. Lokasi nongkrong mereka berpindah sedikit dari rumah lor ke kamar Arman. Joker sedang memainkan bassnya yang dibawanya ke rumah Arman, sementara Arman asik mengerjakan tugas komposisinya. Fahri yang datang belakangan tidak puas dengan keadaan kedua temannya yang asik sendiri-sendiri. Maka dari itu ia memulai percakapan.

“ Yang lebih parah dari bertepuk sebelah tangan adalah persepsi sebelah tangan”, Fahri berkata bangga tanpa diminta. Joker dan Arman masih cuek.

“Mau tau nggak kenapa?”, Fahri tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian kedua temannya.

“Ngapa sih lu dateng-dateng ceramah. Udah gitu nggak inspiratif pula”, cemooh Joker. Ia menghentikan kesibukannya dengan bassnya.

“Eh gue bikin kata-kata itu lama tau”, Fahri tidak terima teorinya diremehkan.

 “Udah udah buruan. Maksud lu apaan?”, Joker berkata tak sabar.

“Gini..”, Fahri girang karena Joker akhirnya mau mendengarkan. “Kalau bertepuk sebelah tangan kan jelas lo ditolak, intinya apa yang lo inginkan tidak berbalas. Yang parah kan kalau yang satu mikir diterima, padahal pihak satunya menolak. Kita pikir kita boleh kuliah S2 lagi sama orang tua kita, padahal sebenarnya orang tua kita nggak setuju. Terus bisa juga kalau kita pikir kita diterima kerja, padahal sebenernya kita ditolak sama HRD-nya. Kebayang nggak? Bisa aja kita udah nyicil ini itu karena kita pikir dapet kerjaan, padahal sebenarnya enggak. Wuah bisa amblas itu harta benda”, Fahri berceramah.

“Masalahnya gimana orang sampai salah kira kalau dia diterima kerja padahal sebenarnya enggak? Emang nggak tanda tangan kontrak apa?”, Joker berkata kesal.

“Ya bisa aja. Namanya juga persepsi SEBELAH TANGAN. Ini bisa bikin orang terbunuh lho. Misalnya nih kalau ada narapidana, dia pikir hakimnya memutuskan kalau dia nggak bersalah tapi padahal dia dihukum penjara. Kan bahaya, pas dia keluar penjara karena dipikir udah bebas, salah-salah dia ditembak polisi karena mau melarikan diri. Bener kan?”, Fahri menambahkan contoh untuk mendukung argumentasinya.

“Grooooook!!!!”, Joker pura-pura tidur. Bahkan Arman yang biasanya cuek pun menempekan kepalanya di meja belajarnya dan pura-pura memejamkan matanya. Meski tanpa imitasi suara dengkuran.

“Wuoo Maaan!! Gua kanget bro time kayak gini!!”, Joker meninju lengan Arman. Arman hanya membalas dengan senyum tipis. Ia mengelus lengannya yang ditinju Joker dan kembali fokus dengan tugasnya. Arman memang sangat sibuk sehingga sekarang ia jarang nongkrong bareng. Semasa SMU, Arman, Joker, dan Fahri sering bermain bersama satu lagi teman mereka yang bernama Agoy.

“Jahat banget sih lo Ker. Gue ngomong nggak pernah dianggap serius”, Fahri menjadi sensitif.

“Emang pernah ada yang nganggep lu serius?”, Joker tak mempedulikan perasaan Fahri.

“Ya pendengar-pendengar guelah. Pokoknya bakal gue omongin di radio soal persepsi sebelah tangan”, kata Fahri.

“Pastiin persepsi sebelah tangan nggak terjadi antara elo dan pendengar elo. Atau antara elo dengan supervisor elo”, kata Arman diiringi tawa mengejek Joker.

“Jahaaatt kalian tuh jahaaaat tau nggak!”

“Ri yang begini-begini nih yang nyebabin lu dikatain banci melulu”, Joker membahas tingkah laku Fahri.

“Gue cabut ah ke rumah lor”, Fahri ngambek sambil ngeloyor pergi.

“Ajaib tuh anak ye Man. Yang kita pikir ejekan becandaan doang dia kadang-kadang marahnya beneran”, kata Joker sehabis Fahri keluar dan menutup pintu

“Yah….yang terjadi barusan sebenarnya hanyalah…..”

“Persepsi sebelah tangaaaan!!!”, Joker dan Arman berkata berbarengan kemudian tos. Mereka kemudian sibuk kembali ke kegiatannya masing-masing.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s