Bukan Aliran Kebatinan : Masih Projek Cari Pacar untuk Arla (edisi Adie)

ALL CAST (Minus Arman)

Baca dulu soal : https://rumahlor.wordpress.com/2013/03/19/i-miss-you-too/

“Si Adie udah nyerah nih La. Katanya dia ngerasa jadi pengganggu buat lo”, Carine membuka perbincangan hari itu. Di ruang tengah rumah lor saat itu ada Arla, Carine, Arya, Joker, dan Lego.

“Lumayan juga tuh cowok bertahan hampir tiga minggu. Kadang lebih lama dari masa gue pacaran ”, kata Joker yang memang sering ganti-ganti pacar.

“Isabella gimana?”, Carine bertanya mengenai perempuan yang baru-baru ini menjadi pacar Joker.

(baca : https://rumahlor.wordpress.com/2013/03/06/56/)

Who is Isabella?”, tanya Joker.

Jerk!”, Carine memukul kepala Joker dengan koran.

The problem is, girls like jerk”, komentar Joker tanpa merasa bersalah.

Certain girls like jerk”, Lego merevisi kalimat Joker.

“Isabella pacar lo yang terakhir kita denger. Udah putus ya berarti?”, tanya Lego.

“Yang terakhir namanya Veni kok”, jawab Joker.

“Hah gila banget lo. Perasaan sama Isabella baru sebulan yang lalu lo jadian”, kata Carine.

“Mmhh sama Veni gue kayaknya sebulanan juga kok jadiannya. Nggak sampe sih. Baru putus kemaren. Apa waktu itu gue barengin ya jadiannya? Lupa“, jawab Joker sekenanya.

“Waktu itu lo ngincer temennya si Isabella yang kata lo lebih cantik. Dapet nggak temennya?”, tanya Carine mencoba menyembuhkan Joker dari amnesianya.

“Rin jangan paksa gue melakukan hal-hal di luar kemampuan gua. Jangan paksa gua mengingat hal-hal yang nggak sanggup gua ingat”, jawab Joker.

“Mungkin aku seharusnya pacaran dengan Joker”, kata Arla tiba-tiba. Semua melotot kaget. Joker terbatuk-batuk.

“Lo mau pacaran sama si buaya ini La?”, tanya Carine.

“Sehat La?”, Arya heran. Lego ingin berkomentar, tetapi yang keluar hanya tawa heran. Bagi Lego kejadian ini agak terlalu absurd.

“Eh mau dong gua. Seru banget kalau gue pernah macarin kakak adik yang kembar”, Joker berkata senang. Arya menendang punggung Joker.

“Arla kenapa tiba-tiba kepikiran pacaran sama Joker?”, tanya Lego.

“Carine kan punya niat mencarikan aku pacar. Aku harus menuruti keinginan Carine supaya dia tidak marah sama aku. Kalau aku pacaran sama Joker, paling-paling pacarannya kan cuma sebentar. Habis itu aku bebas deh dari perjanjian antara aku dan Carine. Dan aku tidak perlu menjalani kencan dengan dua orang berikutnya karena aku telah berhasil punya pacar”, jawab Arla.

“Maksud gue nyuruh lo kencan itu biar lo bisa punya hubungan emosional yang intim!! Nggak bisa ah! Enak aja. Kalau elo pacaran sama si Joker sih sama aja. Status doang itu sih”, Carine menolak usulan Arla.

I’ll take Arla on a date”, Joker menawarkan.

“NO! NO! NO! Bukan begitu caranya!”, Carine berkata kesal.

“Eh gua serius lho. Bokap nyokap gua mulai kepingin ngejodohin gua. Sabtu depan gua ada makan malam keluarga sama nenek kakek gua. Daripada gua ditanyain ‘mana pacarnya?’ melulu, mending gua ajak Arla. Arla nggak ribet, Arla pekerjaannya bagus, dan lo cantik”, kata Joker kepada Arla.

“Jam makan malam berarti sekitar jam 6-8. Aku kosong. Aku bisa pergi sama kamu”, ujar Arla.

Fine, it’s a date”, Joker tersenyum senang.

“Arla lo udah gila ya?”, Arya berusaha memperingati adiknya. Pertanyaan Arua teracuhkan oleh suara pintu yang terbuka.

“Hi geng, what did I miss?”, suara Fahri memasuki ruangan bersamaan dengan kehadirannya.

“Gila berasa rumah sendiri banget lo Ri”, kata Carine mengenai Fahri yang tidak mengetuk pintu dulu sebelumnya.

“Yee suara lo kedengeran dari luar. Lagian kenapa nggak dikunci?”, Fahri tidak merasa bersalah. “Jadi ada cerita apa nih?”, tanyanya.

“Joker mengajak Arla bertemu orang tuanya. Can you believe it?”, kata Carine.

Whatttt???? What???Whattt??? Arlaaa? Wuaha…wuhahahaahaha..!!! Gua tweet ahhhh!! Ini berita besarrrrr!!”, Fahri heboh.

“Eh banci. Biasa aja kale. Gua cuma males ditanyain keluarga gua aja karena nggak pernah bawa pacar ke keluarga. Pada nggak tau aja kalau gua pacaran melulu”, jawab Joker.

“Biasa gimane? Orang Arya aja nggak pernah ketemu orang tua lo. Kita semua belum pernah ada yang ketemu orang tua Joker!!!!, kata Fahri. “Gua mau menyebar berita ini!!! Gue cabut lagi ya daaaaaggh!”, Fahri melesat keluar dari rumah lor.

“Kenapa kita masih temenan sama dia sih?”, Joker memutar matanya heran.

Elo yang masih temenan sama dia”, Arya meralat pertanyaan Joker.

“Nah Carine, jadinya kalau sekarang dihitung kencan kedua kan?”, tanya Arla mengalihkan topik.

“Enak aja! Perjanjiannya kan gue yang nyariin kandidat!”, Carine menolak.

“Eits lo nggak boleh batalin kencan kita lho. Kan udah deal tadi”, Joker berjaga-jaga kalau-kalau Arla membatalkan untuk pergi makan malam bersama keluarganya.

Fine. Tapi sekarang bisa melanjutkan ke kandidat berikutnya kaan?”, Arla menghela nafas.

“Iya tunggu ya”, kata Carine.

“Ngomong-ngomong soal Adie, pertama-tama aku memang senang kalau kamu akan melanjutkan ke kandidat berikutnya. Tapi sebenarnya aku tidak mengerti kenapa Adie merasa kalau dia jadi pengganggu”, kata Arla.

“Lebih tepatnya dia merasa lo nggak mau ketemu dia La”, kata Carine.

“Hah?”, Arla tidak mengerti.

“Dia waktu itu ngirim pesan katanya mau pinjem buku sama lo. Tapi elonya malah nawarin untuk mengirimkan bukunya via TIKI”, Carine menceritakan keluhan Adie.

“Oh iya dua hari yang lalu dia bilang mau pinjam buku. Tetapi sewaktu aku menawarkan bahwa bukunya akan aku kirim saja, dia bilang dia tidak jadi mau pinjam”, Arla menjelaskan.

“Ya itu alesan aja biar bisa ketemu lo. Paling ntar juga bukunya nggak dibaca. Tinggal cari aja sinopsisnya di Wikipedia lalu cari komen-komen beberapa orang di internet. Jadi kalau si cewek nanya soal isi bukunya, dia bisa jawab”, Joker mengejek.

“Tuh La, orang bloon kayak Joker aja ngerti. Si Adie sekarang mikir kalau lo itu menghindar untuk ketemu dia”, Carine berkata dengan sebal.

“Bukannya lebih praktis ya kalau aku kirim? Minggu ini aku sibuk sekali. Aku nggak yakin punya waktu untuk bertemu dengan Adie. Dan rumah Adie kan di Bekasi, jauh kalau harus ke sini untuk ambil bukunya. Kalau pakai TIKI paling lama satu hari juga sampai. Di deket rumah kebetulan ada TIKI. Aku masih bisa kalau  mengantar bukunya ke TIKI. Aku nggak bakal nagih Adie biaya pengirimannya kok.”

“Sebagian laki-laki butuh cari-cari alesan remeh untuk ketemu cewek yang disuka. Nggak kaya gue, percaya diri”, Joker membanggakan dirinya.

“Yakin? Kayaknya tadi lo ahli banget soal cari-cari alesan pinjem buku”, celetuk Lego.

“Tapi Joker kayaknya emang nggak gitu Leg. Untuk dapetin cewek, dia cuma butuh pamer BMW biar ketauan kaya. Meski cuma orang tuanya”, ejek Arya. Arya dan Lego kemudian tos.

“Hmm mulai pada nyebelin. Gue juga penghasilannya lumayan tauk!”, kata Joker.

“Kalau penghasilan lo nggak bagus sih tinggal terjun bebas aja dari kantor lo. Udah jadi kacung bos lo gitu. Kerja sih sampe larut malam terus. OB juga udah balik, lo kadang masiiih aja di kantor”, ejek Arya. Joker memang merupakan pekerja kantoran di sebuah perusahaan tv kabel. Ia sebenarnya cukup mapan, tetapi memang beban kerjanya cukup banyak dan membuatnya sering harus menghabiskan banyak waktu untuk perusahaannya. Sudah biasa juga baginya untuk bekerja di akhir pekan.

“Eh nggak penting percakapan lo berdua. Nih gue mau bahas masalah Arla dulu”, Carine mengganti fokus pembicaraan.

“Aku tidak melihatnya sebagai sebuah masalah”, kata Arla.

“Ya masalah dong La. Orang jadi ngiranya lo musuhin dia”, Carine menjelaskan.

“Karena dia pikir aku nggak mau ketemu?”, Arla bertanya.

“Ya iya!”, Carine membenarkan.

“Aneh. Maksudku kan memudahkan dia kalau mengirim bukunya lewat TIKI. Ia tidak perlu susah-susah keluar rumah dan bisa mendapatkan bukunya lebih cepat. Kalau tanda aku tidak mau ketemu dia itu kalau misalnya dia tanya ‘Arla, mau nggak kalau kita bertemu?’. Kalau aku jawab ‘Maaf aku nggak mau ketemu kamu’, itu baru tandanya aku nggak mau ketemu.”

“Argggghhh!”, Carine memegang kepalanya tanda frustrasi.

“Elo makanya jangan bikin projek aneh-aneh”, kata Joker kepada Carine.

“Gue tapi setuju sih sama Arla. Berhubungan dengan orang lain itu bukanlah aliran kebatinan. Jangan nuntut pasangan, keluarga, atau teman untuk jadi paranormal yang bisa baca pikiran orang. Terutama kalau elo bukanlah orang terbaik untuk mengkomunikasikan isi pikiran”, Arya membela adiknya.

“Iya Rin, kali ini gue setuju sama Arla. Adie itu berasumsi sendiri aja kalau Arla nggak mau ketemu, dan menurut gue asumsinya nggak berdasar. Tapi kadang orang emang gitu kalau udah urusan suka-sukaan sama lawan jenis. Mereka suka jadi nggak logis”, kata Lego.

“Ya si Adie ini berpikiran irasional (baca :https://rumahlor.wordpress.com/2013/03/03/pikiran-irasional/). Kalau ada sesuatu yang mengganjal itu sebaiknya memang disampaikan. Atau kalau kita punya asumsi negatif mengenai seseorang, kita perlu perhatikan fakta-fakta yang ada. Bener nggak asumsi negatif kita itu? Kalau merasa faktanya kurang, ada baiknya kita nanya sama orang yang bersangkutan.”

“Nah bener tuh. Gue paling pusing kalau cewek udah ngambek. Gue tanya ‘Kamu marah ya?’. Ceweknya bilang ‘Enggak!’. Ujung-ujungnya dia nanti ngadu sama temen-temennya kalau gue nyebelinlah, brengseklah, ah pusing”, Joker menjelaskan.

“Itu sebabnya kenapa aku malas sekali berpacaran. Kadang rasanya sudah cukup sulit untuk dapat saling mengerti kebutuhan teman kita. Untuk mengerti kebutuhan pasangan itu sebenarnya sulitnya berkali-kali lipat. Kalau aku perhatikan dalam hubungan romantis itu saatnya semua hal jadi berlebihan. Misalnya Carine itu tidak suka dibohongi oleh temannya. Skala kemarahan jika dibohongi itu biasanya 5. Saat yang membohongi adalah laki-laki yang kencan dengan Carine, skala kemarahannya bisa jadi 9. Padahal kesalahannya sama”, Arla menjelaskan.

“Iya La memang gitu. Karena keterikatan emosinya juga lebih besar. Sebenarnya bukan soal statusnya juga sih. Kayak gue yang sahabatan sama Arya juga skala emosinya cukup besar meski kita nggak pacaran. Tapi inget ya La, skala kemarahan mungkin lebih intens, tapi kalau pas lagi seneng skala kebahagiannya juga bisa lebih tinggi. Ada positifnya juga”, Lego gantian menjelaskan.

“Tapi kadang untuk menyampaikan perasaan dengan baik perlu latihan juga sih. Emang nggak gampang. Cara penyampaian itu ngaruh banget. The challenge is to state our needs without adding any fuel. Kalau interaksi sebuah hubungan bisa mencapai hal tersebut, biasanya udah aman tuh”, kata Arya.

“Wah makasih ya Ya. Bisa gue jadiin senjata nih kalau ada cewek yang marah sama gue. Ntar gue bilang ‘Eh kita nih bukan aliran kebatinan ya!’”, Joker memperagakan dengan nada bicara seperti orang marah.

“Barusan itu lo ngomongnya udah pake bensin. Don’t add any fuel. Itu salah-salah justru jadi ngajakin ribut”, Lego menasehati.

“Eh tapi ngomong-ngomong soal aliran kebatinan, itu bisa dilatih kan ya?”, tanya Arya.

“Bisa setahu gue. Kan kadang kalau orang terdekat kita kenapa-kenapa, kita suka merasa nggak enak. Tapi itu dilihat dari kedekatan hubungan emosionalnya. Bukan karena hubungan darah”, Lego menjelaskan.

“Kita latihan telepati yuk Leg! Biar makin jago. Kan asik Leg nanti kita bisa tukar pikiran tanpa harus ngomong gitu. Seru kan?”, kata Arya.

“Hmm menarik sih. Tapi caranya gimana?”

“Nanti kita pikirin. Catet aja dulu rencana kita.”

 

*Terima kasih untuk Aisha Inda dan Mamanya atas diskusinya soal aliran kebatinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s