Mesin Waktu

Pada suatu siang di hari Minggu, terjadi sedikit kesibukan di kamar Arya. Arla sebagai adik yang baik, menyuruh kakak kembarnya untuk membereskan kamarnya yang bahkan tidak lagi layak untuk disebut sebagai kapal pecah. Tentu saja kalau Arya yang berusaha membereskan sendiri, kerapihan tidak akan pernah tercapai. Oleh karena itu Arla dan Lego membantu Arya mengorganisir kamarnya.

“Ya mau tidak mau beberapa barang harus kamu buang. Ini bukan hanya masalah kerapihan, tetapi masalah besar ruangan yang tidak sebanding dengan banyaknya barang yang ada”, Arla memaparkan duduk permasalahannya.

“Semuanya gue masih perlu La”, ujar Arya.

“Ini komik sepertinya tidak pernah kamu baca lagi. Mungkin ini bisa kamu jual”, Arla menunjuk bertumpuk-tumpuk komik di lemari Arya.

“Nggak ada satu buku pun yang boleh keluar dari kamar ini!!!”, Arya berkata mengancam.

“Buku-buku pelajaran SD ini masih mau disimpan juga?”, tanya Arla.

“Ya kalau itu mungkin boleh disingkirin. Tapi simpen aja, siapa tau bisa buat Sidney atau Salmon”, Arya menyebut kedua nama adik sebapak mereka.

“Kalau begitu ini dikeluarkan dan dikirim ke rumah Papa ya”, kata Arla. Arya mengangguk.

“Brosur-brosur ini bisa kan dibuang?”, Arla menunjuk ke arah gunungan brosur yang ada di lantai kamar Arya.

“Mmm dipilih-pilih dulu La. Ada sih yang nggak kepake. Gue tiap dikasih selebaran selalu gue simpen. Lupa gue buang.”

“Formulir pendaftaran Binus sudah tidak kamu pakai kan? Kamu kan sekarang sudah lulus S1 beberapa tahun yang lalu. Dan tidak kuliah di Binus”, ujar Arla.

“Nah kalau itu boleh deh dibuang”, cetus Arya.

“Kamu pilih nih mana yang bisa dibuang”, Arla memberikan setumpuk brosur kepada Arya.

“Aku tidak pernah lihat kamu main boneka. Beberapa dari boneka ini tentunya bisa dibuang, atau disumbangkan”, Arla menunjuk ke tumpukan boneka yang mendekam di rak atas lemari Arya. Arya sebenarnya bukan penggemar boneka, tetapi sepanjang hidupnya ada orang-orang yang pernah memberikannya boneka.

“Leeg gue sebenarnya nggak mau buang ini karena dari elo, tapi kayaknya udah nggak pernah dipake lagi siih”, Arya menunjukkan sebuah boneka beruang yang ukurannya agak besar.

“Wah itu udah lama banget gue ngasihnya. Itu gue kasih pas kita SLTP ya. Waktu itu gue ngikut bokap tugas ke Korea. Terus gue kasih elo buat gantiin gue untuk nemenin elo. Masih disimpen toh rupanya”, kata Lego senang.

“Iya ini kan dari Lego. Masa dibuang”, Arya berat untuk membuang benda tersebut.

“Gimana kalau boneka ini gue simpen di kamar gue?”, Lego menawarkan. Arla menyerahkan boneka beruang itu ke Lego dengan cepat sebelum Arya berubah pikiran untuk tetap menyimpannya di kamarnya.

“Heran aku dengan hobi kamu menyimpan barang-barang tidak berguna”, ujar Arla.

“La setiap barang ada kenangannya. Kapasitas otak kita terbatas untuk mengingat seluruh detil kejadian yang kita alami. Benda-benda tersebut bisa membantu kita untuk mengingat hal-hal kecil yang sehari-hari tidak kita pikirkan tetapi pas lihat benda tersebut, akhirnya membawa kita ke sebuah kenangan. Misalnya buku program konser NSO yang ini nih”, Arya menunjukkan sebuah buku program konser berwarna hijau.

“Dari semua konser yang pernah gue tonton, konser NSO yang ini bukanlah konser terbaik yang pernah gue tonton. Kalau kayak pas gue nonton Philharmonia Orchestra di London, itu kan epic banget. Nggak ngeliat buku programnya gue juga kadang masih mikirin konser ini. Tapi meski konser NSO itu bukan konser yang segitu menggetarkan hatinya, pas lihat buku program NSO yang ini, gue inget pengalaman pas gue nonton ini. Nggak cuma pengalaman konsernya bagus apa enggak. Tapi gue bisa inget waktu itu gue pergi sama Lego dan Arman. Abis itu pulangnya makan roti bakar. Lego ding yang makan. Gue nontonin doang sambil minum teh. Terus gue jadi bisa mengalami kembali pengalaman tersebut. Canggih kaaaan. Mereka ini mesin waktu!!!”, Arya menjelaskan dengan semangat.

“Ya udah Ya kalau gitu sekarang kita pilih ya kenangan-kenangan yang layak dibuang untuk memberikan tempat kepada kenangan-kenangan baru yang mungkin nanti ada lagi. Yaitu barang-barang baru yang lo nanti akan beli”, ujar Lego.

“Nah sekarang laci meja coba kamu cek adakah hal-hal yang bisa kamu keluarkan sehingga bisa jadi tempat menaruh barang?”, Arla menugaskan Arya.

Arya menuruti Arla dan mensortir laci mejanya.Arya mengeluarkan seluruh isi laci mejanya. Ada buku tabungan, ijazah, buku harian sejak ia SD, bon-bon tagihan yang entah mengapa masih ia simpan, dan eh selembar kertas apa ini? Arya membuka lembaran kertas tersebut.

Hati meresah seraya berbisik carikan pelita
Kududuk bersimpuh pada lingkar kata
Aku tak mengerti iakah bayangku? Iakah rasaku?
Nadiku, pikirkan nyatanya

Chorus :
Sayangkah ini atau hanya tipuan dari hantu malam?
Kini kucoba salami nalarku
Dan kepakkan kembali anganku yang meredup
Perlahan matikan angkuhku

Dan waktu pun terus menjalin detiknya
Bergerak anggun pastikan arahnya
Mengapa dalam benakku terlintas pikir pertanyakan?
Dari rasa yang mulai mengerat

(Back to Chorus)

Notes :
Ya ini lirik lagunya buat elo. Jangan GR, ini bukan maksudnya gue nembak. Kemarin gue bikin lagu dan kebetulan gue lagi pusing nyariin lo kado. Gue nggak paham selera lo. Gue kasih ini aja ya. Minimal ini nggak ada di toko. Eh tapi kado dari anak-anak gue ikutan patungan juga! Selamat ulang tahun ya!

Joker

Arya melipat kertas tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam laci.

*Liriknya itu adalah karya dari AJ. Orangnya nggak mau disebut nama lengkapnya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s