Tresspassing

LEGO

Gue dan Arya pernah melewati sebuah rumah yang menurut kami bangunannya terlihat bagus. Model rumahnya kurang lebih seperti gambar di bawah ini. Tapi bedanya halamannya itu rumput semua, dan rumahnya ada pagarnya.

may09_westward_home_250
(Gambar diambil dari : http://www.truewestmagazine.com/jcontent/living-the-dream/living-the-dream/160-westward-home/3103-cowboy-bunkhouse)
Letaknya agak jauh dari tempat tinggal kami, yaitu di Pamulang. Rumah itu nampaknya sudah tidak ada yang menempati, namun di halamannya terpasang papan yang menyatakan bahwa masih ada orang yang memiliki rumah itu. Di halaman rumah tersebut terpancang papan bertuliskan :

Tanah dan bangunan ini adalah milik Ibu Suryo Mangkasdiputro

Tidak ada tanda-tanda bahwa rumah tersebut akan dijual. Arya kemudian memiliki ide untuk menerobos masuk rumah itu di hari lain. Kami penasaran kira-kira dalamnya akan seperti apa.

Berikut ini adalah hal-hal yang kami pertimbangkan sebelum memasuki rumah itu :

1. Jangan bikin perencanaan reaksi kalau misalnya ketangkep. Akan mengurangi rasa deg-deg-annya.
2. Jelajahi semua ruangannya, kalau bisa lakukan kegiatan sesuai fungsi ruangan tersebut. Misalnya, masak di dapur rumah tersebut.
3. Cari-cari barang-barang yang masih ada di rumah tersebut, dan main detektif-detektifan untuk mengira-ngira mengenai latar belakang orang yang pernah menempati rumah tersebut. Arya juga berpendapat bahwa kami harus waspada terhadap kemungkinan adanya petunjuk-petunjuk harta karun.

Berdasarkan poin-poin tersebut, maka inilah barang-barang yang kami bawa :

1. Selimut (Siapa tau ingin tidur sebentar)
2. Kartu remi
3. Wajan, telur, dan mi instan (masak sesuatu yang gampang saja)
4. Pop mi dan air panas (siapa tau kompornya nggak bisa dipakai)
5. Sabun cuci piring (untuk mencuci wajan)
6. Beberapa kaleng bir dan air mineral
7. Lap
8. Senter
9. Racun serangga
10. Kamera

Semuanya sudah ada di tas kami. Kami pun siap menerobos. Kami sengaja pergi naik taksi sehingga tidak perlu parkir dan memancing kecurigaan.Malam itu untungnya jalanan sangat sunyi. Kami tidak memiliki masalah apa pun untuk memasuki rumah tersebut. Pagar rumah tersebut rendah, jadi mudah sekali untuk dipanjat. Sayangnya pintu rumah tersebut dikunci. Arya mencoba mencari jendela yang mungkin terbuka. Malang bagi kami, jendela rumah itu pun tak ada yang terbuka. Arya mengintip dari luar jendela. Rumah tersebut katanya gelap sekali, tidak kelihatan ada apa-apa. Termasuk kuntilanak juga tidak terlihat. Arya sempat punya niatan nekad untuk memecahkan kaca dan nantinya meninggalkan uang untuk memperbaiki jendela, tetapi menurut gue itu bukan ide yang bagus. Nanti akan merepotkan pemilik rumah itu.

Arya kemudian berjalan mengelilingi rumah itu. Ada sih pintu belakang, tapi sayangnya dikunci juga. Arya sungguh kecewa. Tetapi untunglah halaman rumah itu masih terurus, meskipun banyak ilalang dan rumputnya sudah lama tidak dipotong. Kami memutuskan untuk bersenang-senang saja di halaman rumah itu. Selimut yang kami bawa akhirnya dijadikan alas untuk kami duduk-duduk. Kami menggelar selimut di halaman rumah tersebut. Memang sih kami akan terlihat orang dari jalanan, tetapi justru di situ serunya menurut Arya.

Tidak ada serangga yang perlu dibunuh. Tidak ada hal-hal yang perlu kami bersihkan. Kami hanya memakan pop mie kami dan meminum bir. Cukup ‘sehat’. Setelah kenyang, kami memutuskan untuk berbaring di atas selimut dan melihat langit. Tidak ada bintangnya sih, tetapi terkadang gue merasa bahagia di saat-saat seperti ini. Saat melakukan sesuatu tanpa harus berpikir mengenai uang, pekerjaan, atau bahkan manfaat yang kami dapat dari kegiatan ini.

“Leg, kalau kita masing-masing nanti udah menikah, kita masih bisa kayak gini nggak ya?”, Arya tiba-tiba bertanya.

Hmmm….

Menarik.

Gue nggak pernah mikirin itu.

“Kalau gue nikah sama lo sih bisa kayaknya”, gue berkata kepada Arya.

‘Hah ngomong apaan sih gue?’, kata gue dalam hati.

“Kalau kita berakhir sama orang lain?”, Arya bertanya. Gue merasa lega karena Arya nggak membahas pernyataan gue sebelumnya.

“Ya mudah-mudahan sih kita tetep deket ya Ya”, gue menjawab.

“Kita nggak segini deketnya lho waktu gue pacaran dengan Mojo”, Arya tiba-tiba mengungkit masa lalu.

Ya lebih karena gue yang menjauh sih Ya.

“Waktu itu lo punya pacar juga kan, si Margia”, Arya mengingatkan.

Oh ya Margia.

“Haha yup Margia. Perempuan yang menarik. Cantik. Pintar. Nggak kurang suatu apa pun. Sekaligus sangat cemburu sama lo Ya”, gue menjelaskan. Margia adalah perempuan yang gue pacarin kurang lebih bersamaan dengan saat Arya berpacaran dengan Mojo. Mojo itu adalah pacar Arya yang terlama. Mereka berpacaran selama tiga tahun. Yaa kurang lebih sama waktunya dengan lama gue berpacaran dengan Margia.

“Maaf ya Ya. Karena nggak bisa memperjuangkan lo pas dulu gue pacaran sama Margia”, gue meminta maaf.

“Hahaha sedikit banyak gue tersanjung Margia bisa cemburu sama gue. Margia kan cantik banget. Beda sih cantiknya sama Carine. Carine kan seksi. Margia ituu… anggun banget.”

“Iya sih. Agak gila kalau dipikir gue bisa mutusin dia”, kata gue.

“Yang mikir lo gila nggak cuma lo doang”, kata Arya.

“Ada sedikit pengakuan sih gue Ya.”

“Apa tuh?”, Arya bertanya.

“Gue kangen banget sama lo waktu itu sebenarnya. Kadang kepingin ngajak lo main berdua, tapi nggak enak sama Margia”, gue mengaku.

“Haha sama Leg. Mojo asik banget sih. Dia bisa juga diajak melakukan kegiatan-kegiatan super ajaib semacam ini. Tapi yaa lo tetep tak tergantikanlah”, kata Arya. Gombal apa bukan, tapi gue tertawa.

“Gue sering mikir betapa bahagianya kalau elo, Mojo, dan gue bisa main bareng bertiga”,Arya membuat pernyataan.

Mojo seems like a great guy”, kata gue.

He is”, Arya mengkonfirmasi.

Shame on me for not trying to know him better.”

“Ah jangan gitu Leg. Lo cuma berusaha mikirin perasaan Margia saat itu. Cuma gue kadang mikir sayang aja gitu karena menurut gue, Mojo sama elo bisa cocok temenan”, kata Arya. Gue suka kalau Arya bersikap pengertian.

“Kayaknya pasti cocok. Well we care for the same girl”, Gue menoleh ke arah Arya. Gue merangkulnya. Arya merangkul balik. Selalu nyaman kalau memeluk Arya.

“Lo sayang Margia?”, tanya Arya tanpa melepaskan rangkulannya.

“Tadinya gue pikir gitu. Gue emang mengagumi dia. Gue seneng bersama dia. Tapi pas lo putus sama Mojo, tiba-tiba gue pingin banget putus sama dia”

“Heh lo nggak naksir gue kan?”, Arya bertanya sambil memundurkan badannya sedikit dari gue dan melotot. Gue tertawa.

“Haha bohonglah kalau gue sama sekali nggak pernah punya perasaan suka sama lo. Tertarik-tertarik sih adalah, tapi gue nggak tau apakah cukup besar sampai mau pacaran sama lo.”

“Ya bener juga sih”, Arya menyetujui. Ini enaknya berteman dengan Arya. Gue bisa bicara apa pun tanpa takut Arya akan berpikir macam-macam. Tanpa takut Arya akan mengartikannya berlebihan. Minim drama.

“Ya mungkin juga sih gue cinta Margia. But at that time I knew that I miss you more than I love Margia.”

“Emang Margia segitu ngelarangnya elo buat main sama gue ya?”

“Enggak juga. Dia nggak yang ngamuk-ngamuk kalau gue pergi sama lo. Tapi dia memang menyatakan kalau dia sebenarnya keberatan kalau gue sering-sering pergi sama lo. Dia juga sering nanya berkali-kali gimana perasaan gue sebenarnya sama lo. Berkali-kali. Apalagi karena elo emang jadian duluan sama Mojo, baru sehabis itu gue jadian sama Margia. Adalah pikiran di dia kalau seandainya lo nggak pacaran sama Mojo, mungkin gue juga nggak minta dia jadi pacar gue. Dia nggak larang gue untuk main sama lo, tapi gue tau kalau main sama lo itu bikin dia sedih. Tapi kalau gue nggak main sama lo, ujung-ujungnya gue juga yang sedih. Dan sebahagia-bahagianya gue pacaran sama Margia, gue nggak pernah ngerasa sebebas kalau kita lagi main bareng. Kayak gini ini. Akhirnya gue rasa mending kita pisah aja dan ketemu sama orang lain yang akan ngebikin kita sama-sama bahagia”, jelas gue panjang lebar. Arya mengangguk-angguk.

Do you love Mojo?”, gantian gue yang bertanya.

“Iya. I do. Mungkin satu-satunya orang yang pernah gue cinta. Selain elo-lah tentunya”, Arya meninju lenganku sambil melepaskan pelukannya.

“Emang lo cinta gue?”, tanya gue ingin tahu.

Always Leg. Gue kira lo tau”, Arya berkata manis.

‘Iya Arya gue tau. But not in that way kan?’,kata gue lagi-lagi dalam hati.

“Tapi lo taulah Leg, not in that way”, kata Arya.

Of course Arya.

“Tapi beda juga kayak gue cinta Carine, atau kayak gue cinta keluarga. Ada cinta sama keluarga dan ada rasa cinta sama teman. Lalu ada rasa cinta sama pacar, seperti yang gue rasakan ke Mojo. Kemudian ada rasa cinta sama Lego. Dibilang cinta sama teman ya lebih dari itu, tapi tetep beda sama rasa cinta ke Mojo. I don’t love you that way but in Lego’s way. Gitu deh pokoknya. Pusing. Kebayang nggak?”, Arya bertanya.

“Iya Ya. Ngerti ngerti kok.”

Kayaknya.

“Tapi Leg, kadang gue berpikir sih gimana kalau seandainya lo dan gue bisa pacaran”, Arya berkata dengan santai.

“Masa?”, tanya gue pada Arya. Arya mengangguk.

“Gimana perasaan lo pas lo mikir itu?”, gue bertanya.

“Seneng-seneng aja. Hubungannya kayaknya nggak bakal berbeda dengan yang sekarang kita jalanin sih. Yang gue nggak tau itu apakah perasaan ‘seneng-seneng aja’ itu alasan yang cukup baik untuk berpacaran dengan seseorang”, Arya menjelaskan. Gue memahami apa maksudnya.

“Kalau lo pernah mikir soal kita?”, tanya Arya.

“Pernah sih”, gue mengaku.

“Ceritain dong”, Arya meminta. Ia merangkul gue lagi.

“Sama sih. Kita hubungannya nggak jauh berbeda dari sekarang. Kita melakukan hal-hal random kayak sekarang. Kita nggak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kita saling mendukung dan menerima gaya hidup satu sama lain. Keluarga kita sudah saling kenal. Gue nggak harus pisah sama elo sebagai teman serumah. Kayaknya gue bisa senang dengan kondisi hidup seperti itu. Tetapi menurut gue alasan ingin berpacaran dengan seseorang haruslah karena kita cinta sama orang itu. Bukan karena serentetan hal-hal yang gue pikir cukup menyenangkan”

Do you love me that way?”, Arya bertanya.

“Sejujurnya gue nggak tau Ya”, gue mengaku.

Dan sejujurnya gue pun memang tak tahu.

“Kok enggak cinta sih?”, Arya protes.

“Bukannya enggak Arya. Tapi nggak tau”, gue menjelaskan.

“Hah? Lo nggak mau bilang iya sekedar untuk nge-GR GR-in gue Leg? GR-GR-in gue dong”, Arya mulai asal seperti biasanya.

“Emang masih perlu?”, tanya gue.

“Biasa aja sih”, Arya menjawab asal-asalan juga. “Ya liat ajalah pertemanan ini akan jadi gimana. Toh kita nggak di dalam kondisi untuk harus mengubah hubungan kita sekarang kan?”, Arya menjelaskan.

“Gimana kalau gini, gue nggak akan menikah dengan orang yang nggak bisa nerima elo sebagai sahabat gue? Ide bagus nggak tuh?”, tanya gue.

“Wihhh yang benerr?”, Arya bertanya dengan semangat.

Gue mengangguk.

Thank you Leg”, Arya berterima kasih.

Thank you Arya.”

“Untuk apa?”, tanyanya.

“Untuk selalu memperjuangkan kita. Gue tau kalau lo selalu menyudahi hubungan dengan seseorang yang melarang lo untuk dekat-dekat dengan gue, meski gue tidak selalu melakukan hal yang sama untuk lo.”

“Iyalah. Nyari sahabat kan susah. Kalau nyari pacarr..hmm kadang gampang kadang susah. Tergantung lagi laku atau enggak”, kata Arya.

Dan gue selalu ikutan putus kalau mendengar elo putus.

Arya tidak berkata apa-apa lagi. Gue memejamkan mata gue. Kami tidak melepaskan rangkulan kami. Kami berangkulan dalam diam. Gue mulai mengantuk. Sangat mengantuk.

“Leeegg males bangun niiih. Udah enak kayak gini”, suara Arya membuat gue membuka mata lagi. Untung juga, kalau tidak bisa-bisa ketiduran di sini.

“Bangun sekarang deh Ya. Kayaknya kita harus pulang sekarang deh. Gue bisa ketiduran nih”, gue memaksa Arya untuk berdiri.

“Adooh malessss!”

“Iya sama males juga Ya. Tapi kalau makin lama nanti makin males. Kita masih harus nyari taksi loh”, gue mengingatkan Arya seraya berdiri.

“Okeeee. Eh bantuin berdiri dong”, Arya menjulurkan kedua tangannya dengan malas. Gue membantunya berdiri.

“Eh jangan lupa tinggalin pesen! Tinggalin pesen! Tinggalin pesen!”, Arya berkata antusias.

Oh iya meninggalkan pesan. Ada satu ritual yang biasa kami lakukan jika mengunjungi sebuah tempat yang seharusnya tidak didatangi. Kami harus meninggalkan pesan sebagai tanda bahwa kami pernah ada di tempat itu. Kebetulan Arya memang membawa kertas dan spidol yang sudah disiapkannya untuk menulis pesan. Setelah itu kami menyelipkan pesan itu di bawah pintu rumah.

Gue menulis :

‘Terima kasih dan salam damai’.

Arya menulis :

Hi, lam kenal yah! Asl Pls? Telpon plz!

Rian* 083131131131*

*Nama pemberian orang tua Joker

*Nomornya nomor asli Joker

One thought on “Tresspassing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s