Sok Jazz Banget sih Lo! (Part 1)

ALL CAST

“Ada yang mau nonton Java Jazz?”, Arman melambaikan sebuah tiket Java Jazz saat memasuki rumah lor.

“Eh sini lo, udah lama nggak nongkrong bareng”, kata Joker.

“Sibuk. Maaf ya. Lighting designer masih jadi spesies langka. Ini aja nonton Java Jazz jadi nggak bisa. Tapi ini cuma ada 1 tiket”, ujar Arman. Arman adalah seorang arsitek namun memfokuskan diri kepada desain tata cahaya atau disebut juga sebagai lighting designer. Di Indonesia profesi ini masih jarang, sehingga Arman kebanjiran projek.

“Boleh buat gue nggak?”, tanya Fahri.

“Rundinganlah sama yang lain”, kata Arman.

“Gue nggak mau Ri. Sejak pindah venue di Kemayoran udah nggak sanggup lagi gue. Udah jompo”, ujar Arya. Beruntung bagi Fahri ternyata penduduk rumah lor yang lain juga tidak menginginkan tiket tersebut.

“Man duduk dulu dong. Gila kita lengkap nih hari ini. Jarang-jarang lho. Padahal selain gua dan Fahri, kalian kan serumah semua. Ada semua nih. Arla ada, Carine ada. Lego juga lagi nggak praktek”, kata Joker.

“Iya boleh”, Arman mengambil tempat untuk duduk di sebelah adik kembarnya, Arla.

“Thank you Man tiketnya! Mayan gratis meski Java Jazz tuh sebenarnya kurang oke ya. Jadi komersial. Banyak artis-artisnya yang bukan jazz gitu”, ujar Fahri.

“Grrrr kenapa sih lo harus jadi orang yang ikut-ikutan ngomong kayak gitu”, tiba-tiba Joker berkata geram.

“Ngomong apaan?”, Fahri tidak menyadari adanya kemungkinan ia berkata sesuatu yang salah.

“Kalimat lo barusan. Sok jazz banget sih lo. Java Jazz tuh kayaknya ajang beberapa orang untuk menunjukkan kebelaguannya deh. Sering gua denger orang yang protes karena mereka merasa ada beberapa artis yang nggak layak tampil di Java Jazz. Kayak elu nih barusan. Lo nyebut kayak gitu emang tau jazz apaan?”, Joker bertanya sewot kepada Fahri.

“Ya yang musiknya gitu-gitu deh. Kayak Brad Mehldau, Manhattan Transfer, Miles Davis. Kalau yang model Maliq atau RAN itu kan itungannya sebenarnya dihitung pop”, ujar Fahri.

“Emang batesannya musik yang dibilang jazz sama pop apaan sih?”, tanya Carine.

“Pop kan artinya populer. Kalau musik jazz tapi artisnya terkenal, emang nggak bisa dibilang pop?”, Joker menantang Fahri.

“Eh emang gitu ya?”, Fahri gelagapan.

“Sayangnya emang gitu Ri. Mozart di jaman klasik itu disebut musik pop Ri”, Arman menerangkan.

“Ini dia nih orang ikut-ikutan aja orang lain ngomong. Makanya cek dulu pengertian benerannya”, kata Joker.

“Ya temen-temen gue di radio pada bilang gitu sih. Menurut mereka banyak artis yang ngaku-ngaku musisi jazz padahal sebenarnya bukan”, jelas Fahri.

“Gua eneg beneran deh sama anak jazz. Anak sok jazz sih sebenernya. Kenapa sih mereka tuh paling suka mengeksklusifkan diri. Paling suka ngatur-ngatur siapa yang musisi jazz siapa yang enggak. Siapa yang pantes ada di java jazz siapa yang enggak. Dan gua heran kenapa ini terjadinya di aliran jazz. Mungkin gue yang kurang referensi, tetapi sepergaulan gue dan sepengetahuan gue, hal ini nggak terjadi di aliran musik lain. Gua bicara masyarakat Indonesia ya. Nggak tau deh kalau di negara lain”, jelas Joker.

“Bisa jadi kayak gitu karena definisi dari Jazz itu sendiri masih belum jelas. Jadi orang sering debat dan beda pendapat mana yang jazz mana yang bukan”, kata Lego.

“Arla, lo tau definisi dari jazz nggak?”, tanya Carine.

“Jazz setahuku maksudnya adalah jazm, gasm, kependekan dari orgasme”, jelas Arla. “Jadi kalau musik Jazz yang kayak apa?’, tanya Carine lagi.

“Nggak tau”, jawab Arla.

“Wuahh kann kalau Arla nggak tau berarti emang nggak ada tuh definisi empirisnya. Nah itu die kenapa gua kesel. Kalau definisi bakunya nggak ada, kenapa ada yang bisa-bisanya ada yang sok nentuin mana yang jazz mana yang bukan?”, ujar Joker senang. Arla memang terkenal pintar secara akademis dan memiliki banyak pengetahuan mengenai fakta dunia.

“Aku kan bukan Wikipedia”, Arla mencoba menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui segala fakta di dunia.

“Iya tapi lo kamus Webster berjalan”, ejek Joker.

“Emang ada beberapa pendapat. Ada yang mengukur jazz itu dari bentuk pola melodi dan musiknya, ada yang mengatakan bahwa jazz itu sebenarnya klimaks. Kalau dari definisi kedua itu, jadi sebuah musik dapat dikatakan jazz kalau ada improvisasi. Selama musisinya membaca partitur saja, itu bukan jazz. Mungkin sebenarnya ada ya batasan empirisnya. Cuma kita aja nggak ada yang tau”, Lego menjelaskan.

“Arman sebagai yang paling ngerti musik gimana nih pendapatnya?”, tanya Joker.

“Gue sih mendukung pernyataan Lego yang kedua. Jazz itu klimaks. Jazz itu komunikasi seksual. Gimana cara si musisi itu merayu penonton sampai akhirnya terjadi klimaks. Soalnya kalau ngomongin bentuk musiknya, di musiknya Bach juga ada yang kayak jazz sekarang ini. Tapi kalau gue perhatiin bentuk musiknya jazz sebenarnya lebih sering ngikutin bentuknya blues, yang asalnya dari bunyi gitar yang fals”, jelas Arman.

“Yang harus klimaks siapanya Man?Musisinya apa penonton?”, tanya Carine.

“Ya dalam seks itu kan alangkah indahnya kalau bisa klimaks bareng”, Arman tersenyum sambil bersandar di sofa.

“Jadi subjektif dong”, ujar Carine.

“Memang ada unsur subjektivitas. Pernah nggak tapi Rin, lo ngeliat musisi yang improvisasinya keren banget sampai semua yang menonton sepakat kalau dia mainnya asik banget?Kalau improvisasinya jazz banget?”, tanya Arman sambil memberikan penekanan pada kata jazz.

“Pernah sih”, kata Carine.

“Nah ada musisi yang segitu baiknya dalam menyampaikan bahasanya sehingga unsur subjektivitas arkhirnya menjadi minimal”, jelas Arman.

“Kalau ada orang main musik gamelan, terus dia improvisasi dan sampai bisa bikin klimaks. Itu tandanya dia main jazz?”, tanya Carine.

“Nah! Menurut gue sih iya!”, sahut Arman.

“Eh jadi kalau ada yang ngaku kalau dia musisi jazz, gue bisa nanya dong ‘Yakin?’. Terus kalau dia yakin, gue bisa ‘Main sini lo di depan gue. Bisa bikin gue klimaks nggak lo?’!”, tanya Arya.

“Bisa dibilang gitu. Statement apakah seseorang itu musisi jazz apa bukan menurut gue sih harusnya keluar dari penonton ya, bukan dari pernyataan si musisi”, jelas Arman.

”Jadinya orang main jazz itu kayak orang lagi ngerayu?”, tanya Fahri.

”Ngerayu itu bagian dari jazz. Untuk seseorang ngajak tidur kan butuh speak dulu. Makanya kalau improvisasi itu juga harus tersampaikan ceritanya. Jangan main keras terus, atau rumit terus. But then again mungkin kalian bisa cek lebih lanjut mengenai pengertian jazz”, cerita Arman.

“Nah jadi daripada seorang musisi pantes atau enggak berada di jazz sebenarnya yang perlu dilihat itu adalah gagal atau tidaknya si musisi membuat jazz. Kalau selama dia tampil nggak ada improvisasi jelas dia nggak membuat jazz. Kalau dia improvisasi tapi nggak bikin klimaks, kita bisa bilang hari itu dia gagal bikin jazz. Makanya tu orang-orang nggak usah sok bilang si ini nggak pantes si itu nggak pantes di Java Jazz. Belom juga liat dia main”, Joker masih kesal.

“Lo panas banget sih Ker. Butuh sesi curhat nggak nih?’, tanya Arya.
“Abisan kalo gua perhatiin ye, orang yang pengetahuannya minim-minim aja itu justru yang paling heboh. Paling vokal kalau bicara. Kayak si banci nih. Elo tuh kalau mau protes pahami dulu makanya mengenai hal yang bersangkutan.”
“Orang bebas aja kalau mau debat, bebas mau mengkritik, asal ada data empirisnya. Debat yang berasal dari persepsi dan asumsi itu nggak ada ujungnya. Nggak bisa dibuktiin soalnya mana yang bener. Kalau ada orang yang nyebut artis A atau B nggak pantes ada di Java Jazz menurut gue nggak apa-apa juga sih, asal ada argumentasinya. Siapa tau mereka punya referensi lain yang cukup ilmiah mengenai apa itu musik jazz”, ujar Lego.
“Eh gue juga nggak bilang pendapat gue tadi bener lho. Gue nggak punya data penelitiannya. Cuma itu kesimpulan gue pribadi yang didapat dari hasil diskusi dengan beberapa pengamat seni dan musisi serta dari artikel-artikel yang pernah gue baca”, Arman merendah.
“Nah kalo yang punya referensi kayak elo jadinya kalau ngomong lebih hati-hati kan. Nggak pernah gue denger elo sok-sok bilang si ini nggak pantes disebut musisi Jazz. Nggak kayak si Fahri nih”, kata Joker.
Sedikit ngerti ngaku udah paham…..Kerja sedikit maunya kelihatan…..Otak masih kaya TK, Koq ngakunya Sarjana……Ngomong-ngomongin orang Kaya udah jagoan…uu yeaahh”, Arya menyanyikan bait pertama lirik Tong Kosong dari Slank. Fahri semakin menunduk. Tertunduk malu dan tak mampu bicara.

*To be continued
*Terima kasih bung Candra atas pengetahuan dan diskusi menariknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s