Kok Jazz Sulit? (Sok Jazz Banget sih Lo – Part 2)

ALL CAST

*Sebelumnya baca dulu Sok Jazz Banget sih Lo – Part 1

“Ri jangan suntuk gitu dong mukanya. Bercanda doang kok. Gue bercanda nih Ri. Beneran bercanda. Nih suer ni liat tangan gue. Gue sumpah tadi bercanda”, Arya menunjukkan dua jarinya tanda bersumpah ke Fahri.
“Kalau gue sih enggak bercanda”, ujar Joker.
“Iye maaf dehh gue sok tau”, kata Fahri.
“Gak apa-apa juga sih Ri. Yang suka komentar gitu nggak cuma lo doang kok. Anggep aja lo lagi berusaha mendeskripsikan apa itu jazz. Referensi lo aja yang kebetulan berbeda dari referensinya si Arman”, Lego menghibur Fahri.
“Wah Lego, my brother!”, Fahri memeluk Lego.
“Eh tapi balik lagi ke improvisasi yang sampai jazz. Kadang gue kurang paham tuh sama musik jazz. Dan kadang itu dibilang musik yang sulit kan. Bisa jadi musisinya udah jago, tapi guenya yang nggak ngerti”, kata Carine.
“Wuah gue sih sebagai musisi nggak pernah nyalahin penonton kalau mereka nggak ngerti. Anj*ng lo kalau bilang penonton nggak ngerti. Pengetahuan musik penonton tuh beda-beda. The real jazz musician buat gue itu harus tau penontonnya siapa, sehingga lo tau caranya bikin mereka klimaks. Emang di dalam jazz ada pattern-pattern musiknya, ya tadi tapi banyakan dari blues. Tapi untuk belajar pattern itu tugas kita sebagai musisi, bukan tugas penonton untuk belajar”, Joker masih sewot.
“Kalau si musisi jazz berpikir musiknya itu sulit agak aneh menurutku. Karena semua orang mengerti klimaks atau seks. Bahkan anak bayi pun sudah punya kebutuhan seksual. Benar nggak Ya?”, Arla bertanya kepada Arya.
“Bener sih kalo itu. Anak bayi awalnya mendapatkan kepuasan seksual dari oralnya, maksudnya mulut.”
“Jadi harusnya jazz itu nggak sulit?”, tanya Carine lagi.
“Harusnya jazz jangan dibuat sulit ya. Gue kadang mikir apa jangan-jangan persepsi jazz itu sulit dari si musisi yang akhirnya membuat jazz sulit diterima di Indonesia. Jangan-jangan si musisi sengaja membuat musiknya sulit dimengerti, padahal seperti si Arla bilang, semua orang paham klimaks kok. Cuma ya nggak semua rayuan berhasil bikin klimaks kan. Bayangin aja ada orang ngerayu lo tapi dia sengaja membuat rayuannya sulit. Kira-kira nantinya mau nggak lo tidur sama dia?”, tanya Arman. Carine manggut-manggut.
“Jazz tuh jadinya Yes yang dikasih aksen nggak sih?”, tanya Arya.
“Ya itu perumpamaan yang dapat diterima sepertinya”, kata Arman.
“Arman kalau udah ngomongin musik baru deh cerewet”, komentar Fahri.
“Kalau gue cerewet terus siapa yang bakal dengerin kalian?”, jawab Arman seraya menyenderkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s