Fisik adalah Segalanya

ARYA, CARINE, JOKER, FAHRI, ARLA

“Joker punya pacar nih yee”, Carine mengumumkan sebuah berita baru kepada teman-temannya. Saat itu Carine, Joker, Fahri, dan Arya sedang berada di ruang tengah rumah lor. Sementara Lego sedang kebagian tugas jaga di klinik tempatnya bekerja.

“Oh udah jadian toh. Sama yang mana?”, tanya Fahri ingin tahu. Seperti biasa.

“Sama yang waktu itu gue kenalin”, Joker menjawab acuh tak acuh.

“Lah yang lo kenalin banyak man”, ujar Fahri.

“Yang model majalah. Nggak beken sih”, jawab Joker.

“Tipikal korban lo mah emang ledom majalah remaja. Ledom yang mana?”, Fahri masih penasaran.

“Isabella”, Joker menyebutkan namanya.

“Oooh Isabella”, Fahri langsung ingat.

“Isabella? Nemu artis telenovela darimana?”, Carine berkata mengejek.

“Ya lo cemburu nggak?”, Joker memilih untuk mengganggu Arya daripada menjawab pertanyaan Carine . Arya adalah mantan pacar Joker. Mereka berpacaran saat Arya menjalani tahun pertama kuliah S1nya. Saat itu Joker masih SMU. Mereka sebenarnya seumuran, tetapi Joker pernah tinggal kelas.

“Kepingin ya gue cemburu?”, Arya bertanya.

“Mayaaan deeeh”, jawab Joker.

“Pingin sih jawab iya, tapi sayangnya bohong itu dosa”, kata Arya cuek.

“Ngaku aja kenapa sih?”, Joker memaksa. Arya tidak memperdulikan Joker.

“Bentar lagi putus kayaknya nih Ya. Jadi tenang aja, gue balik lagi ke pasaran kok”, kata Joker.

“Lah baru juga beberapa hari Ker”, komentar Fahri.

“Ya gimana ya. Cantik sih anaknya.”

TAPI…………”, Carine, Arya, dan Fahri berteriak berbarengan.

“Tapi ……”, Joker menahan jawabannya. Ia menepukkan tangannya ke kakinya dan menirukan suara drum.

“Eh suara drum kayak gitu nggak cocok untuk jadi musik pengiring cerita lo bakal putus. Pantesnya suara-suara ala film horor yang mencekam gitu”, Fahri memprotes.

“Ini kan suara pengantar kebebasan gue”, Joker membela dirinya.

“Tapiii……….tapiiii…..”, Carine menuntut Joker untuk melanjutkan jawabannya.

“Tapi…..temennya lebih cantik”, Joker berkata sambil nyengir. Fahri langsung menampilkan muka masamnya. Ia sudah maklum dengan kelakuan teman baiknya ini.

“Siapa temennya? Esperanza?”, Carine mencemooh.

“Mungkin. Gue belum tau namanya. Kemarin gue liat pas gue jemput Isabella abis pemotretan”, Joker menjawab tanpa perasaan bersalah. Joker memang terkenal banyak pacarnya.

“Kapan rencananya dia bakal lo putusin?”, tanya Fahri.

“Ntar kalau gue udah kenalan sama temennya dan dapet nomor kontaknya”, Joker tersenyum jahat.

Jerk!”, teriak Carine sambil mendorong Joker.

“Yah gue hanya laki-laki normal”, Joker membela dirinya.

That’s exactly why I called you a jerk”, Carine menjelaskan maksudnya.

“Eh gue laki-laki tetapi gue nggak brengsek ya”, Fahri membela diri.

“Ya lo kan banci. Teori klasik kalau hanya ada dua jenis cowok itu kayaknya masih akurat. Kalau nggak brengsek, ya pasti gay”, Arya mengejek.

“Emang lo nggak pertimbangin hal-hal lainnya Ker? Masa cuma gara-gara temannya lebih cantik?”, tanya Fahri.

“Fisik adalah segalanya”, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari meja makan di rumah lor. Rumah lor ini berukuran kecil. Bentuknya hanya persegi panjang. Lego, teman serumah Arya dan Carine menempati loteng. Di lantai bawah ada kamar Arya, Carine, dan kamar mandi. Selain itu ada ruang tengah tempat semuanya berkumpul dan menonton televisi. Tepat di belakang ruang tengah masih ada sisa ruang yang akhirnya dijadikan dapur sekaligus tempat menaruh meja makan.

Geez Arla, I forgot that you’re here”, Carine mengelus dadanya.

“Kan observasi rutin”, sahut Arla datar. Arla baru saja menuliskan kata-kata yang tadi ia sebutkan di buku catatannya. Arla sering disebut oleh teman-temannya sebagai orang yang sulit bergaul. Memang Arla tergolong orang yang sangat praktis, termasuk saat bergaul. Meski Arya dan Arman tidak menganggap saudara kembarnya aneh, namun lain halnya dengan Carine, Joker, Lego dan Fahri. Mereka sering menganggap Arla seperti robot. Menanggapi pendapat teman-temannya, Arla kemudian memiliki buku catatan mengenai tata cara berinteraksi informal yang merupakan hasil observasi dari perilaku teman-temannya.

“Fisik penting, tapi nggak segalanya. Cewek juga harus asik”, Joker membantah teori Arla.

“Awalnya kamu bisa dekat dengan perempuan bagaimana?”, Arla bertanya balik.

“Ya gua bisa dikenalin sama temen gua. Atau gua ngeliat cewek, terus gua ajak kenalan. Abis itu gua nanya nomor kontak dia. Abis itu gua ajak jalan, makan, ketemuanlah. Pas jalan kan pasti ngobrol-ngobrol. Dari situ bisa ketauan dia asik atau enggak. Kalau cantik tapi nggak bisa ngomong sih jadi nggak menarik. Ini berlaku juga kalau gua cuma mau iseng juga sama cewek. Tetep pilih-pilihlah gua. Kalau iseng gua lebih ngeliat apakah ni cewek ujung-ujungnya bakal ngerepotin gua apa enggak. Cewek yang terlalu needy, atau yang terlalu pingin diperlakukan kayak princess juga bikin males”, Joker berargumen.

“Perasaan semua cewek yang lo pacarin atau nggak sempet jadi pacar ujung-ujungnya ngerepotin elo deh”, komentar Carine.

“Ya makanya gua pacaran nggak lama. Padahal mereka kan cantik”, Joker berhipotesa.

“Kenapa perempuan-perempuan itu yang kamu tanya nomor kontaknya? Aku yakin banyak perempuan lainnya saat itu. Dan aku yakin tidak semua perempuan yang dikenalkan ke kamu akan kamu nilai kecocokannya.”

“Ya yang gua tertarik aja”

“Awalnya tertarik kenapa?”

“Cakep.”

“Tuh kan aku benar.”

“Yeee tadi kan gua tapi bilang, abis gua liat orangnya cantik, gua liat dulu anaknya asik apa enggak.”

“Ya apalagi kalau tidak cantik. Untuk kamu ada niat untuk pendekatan saja tidak ada. Kesempatan untuk dinilai apakah dia asik atau tidak, menjadi nihil. Benar nggak? Misalnya ada perempuan yang tidak cantik di jalan. Sebenarnya mungkin dia anaknya cocok dengan kamu. Tapi apakah kamu mau menanyakan nomor kontaknya? Apakah kamu mau mengajak dia kencan?”, Arla mendesak Joker.

To falling in love it takes mind and heart. But to want to know her mind, it depends on appearance. Itu kesimpulanku dari obrolan-obrolan kalian selama ini”, Arla berkata kembali dengan datar.

“Eh tapi si Arla bener loh. Orang yang fisiknya menarik itu setengah beban hidupnya memang berkurang. Ini menurut teori psikologi konsumen. Serius nggak boong gue”, Arya mendukung teori adiknya.

“Itu berlaku di perempuan doang nggak sih? Kalau laki-laki kan memang makhluk visual. Tapi kalau perempuan kan lebih menilai kemapanan si laki-laki”, Fahri bertanya.

“Tumben pertanyaan lo agak berbobot”, Joker mengejek Fahri.

“Nah ini faktanya. Laki-laki yang fisiknya menarik, kesempatan keterima kerjanya juga lebih besar. Sekarang kalau ada dua orang laki-laki dengan kualitas yang sama. Sama pintarnya, sama kayanya, sama pekerja kerasnya, tetapi yang satu lebih cakep, lo pilih yang mana?”, Arya bertanya kepada Carine.

“Ah gue nggak seganteng Arman tapi dapet-dapet kerja aja tuh. Cewek gue juga banyaknya lebih dari Arman”, Joker membicarakan mengenai kakak kembar Arya dan Arla yang memang terkenal banyak penggemarnya.

“Nah lo kan ada faktor ortu lo kaya”, Fahri mengejek Joker.

“Mulai ngajak berantem nih”, Joker berkata kesal.

“Elo emang berhasil terus ngegaet cewek. Tapi kan perlu usaha. Ngomong manis dulu. Speak-speak dulu. Beliin minumlah, pamer mobil lo yang kerenlah, pamer kalau lo udah mapanlah, inilah, itulah. Coba liat Arman. Nggak pernah tuh genit-genitin cewek dulu. Mobil juga biasa aja. Tapi yang bersedia dinikahin besok sama dia ada ratusan. Kalau Arman melakukan usaha seperti yang lo lakukan, udah nggak ada kesempatan lo Ker!”, Arya menjelaskan.

“SETUJU!! Arman sama Joker sih beda kasta”, kata Carine.

“Yee tersinggung nih gue”, Joker berkata kesal.

“Ngapain tersinggung? Cakep kan pemberian. Dia nggak perlu usaha apa-apa untuk jadi cakep. Mending lo bangga Ker, muka lo biasa tapi bisa dapet cewek banyak”, Arya mencoba menghibur Joker.

“Alah segala usaha Joker itu kalau mobilnya nggak BMW, juga nggak bakal segitu nempelnya cewek-cewek itu. Coba diturunin dikiiit aja. Pake Honda juga udah nggak selamet lu”, ejek Fahri

“Wuahahaha gawat gawat gawat!! Fahri aja sampe bisa ngatain lo huahaha”, Arya tertawa. Pasalnya Fahri biasanya merupakan bahan ejekan yang lain.

“Eh tapi bener sih. Gue pernah tertarik sama cowok yang menurut gue nggak kece. Tapi gue akhirnya jadi bisa tertarik karena gue satu komunitas sama itu cowok. Gue tertarik karena setelah kita sering ketemu dan banyak ngobrol, ternyata dia anaknya asik banget. Tapi andaikan gue dikenalin secara random sama itu cowok, gue pasti nggak bakal berminat untuk kenal dia lebih jauh. Kalau dia nanya nomor kontak juga paling gue kasih asal-asalan. Gua nggak bakal tau kalau dia anaknya asik. ”, ujar Carine.

“Jadi maksudnya kalau orang nggak menarik, bakal susah dapet pacar?”, Fahri bertanya.

“Suka nggak suka kenyataannya memang orang yang kurang menarik akan lebih sulit untuk dapat pasangan atau pekerjaan dibandingkan yang fisiknya menarik. Tapi ingat ya, kata kuncinya itu fisik yang MENARIK. menarik itu nggak selalu berkaitan dengan struktur muka atau bentuk badan. Menurut gua sih fisik yang menarik berkaitan juga dengan pakaian yang dikenakan, lalu apakah kita karismatik atau enggak. Orang ganteng yang terkesan bego juga jadinya nggak menarik”, Arya menjelaskan.

“Ada satu fenomena lagi. Orang yang merasa fisiknya agak di bawah standar suka nggak mau ngaku kalau fisik itu menentukan segalanya. Suka nggak suka masalahnya itu fakta. Daripada mereka berusaha untuk jadi menarik, akhirnya mereka justru berkelakuan sebaliknya. Mereka dengan sengaja menjadi sangat tidak menjaga penampilannya. Misalnya, pernah liat nggak cewek-cewek yang nggak bisa dibedain sama cowok? Yang bajunya gombrong-gombrong, celananya juga gombrong-gombrong. Bukan sekedar cewek tomboy ya”, Arya bertanya kepada teman-temannya.

“Kalau itu bukan gara-gara mereka lesbi ya? No offense tapi biasanya mereka gay kan?”, tanya Joker.

“Mungkin mereka-mereka itu lesbi. Tapi sebenarnya orientasi seksual dan gaya berpakaian itu dua hal yang berbeda. Ada kok cewek gay yang masih terlihat menarik.”

“Tapi kata orang kan don’t judge a book by it’s cover”, kata Fahri.

“Bener. But the cover determines our mood to read it (*1)”, jelas Arya.

“Iya sih. Cowok-cowok tinggi itu kalau difoto aja enak banget diliatnya. Kaya gue dan Lego. Apalagi si Arman yang tinggi banget. Beda sama si Joker yang selalu jadi front liners”, Fahri berkomentar.

“Ker gimana sih? Dikatain Fahri dua kali man. Harga diri lo lagi di mana?”, Arya mengejek Joker lagi.

“Jadi untuk ngerti trend fashion penting banget dooong”, ujar Carine.

“Terlalu fashionable juga bisa jadi kecemasan yang berlebihan. Terlalu memikirkan penampilan, bisa jadi dia sangat nggak nyaman dengan dirinya. Orang yang nggak nyaman sama dirinya, itu nggak menarik. Intinya sih kalau orang terlihat bahagia dan nyaman sama dirinya, itu udah menarik. Konsep inner beauty itu bukan cuma kata-kata manis aja. Menurut gue Jamie Aditya itu keren banget. Jauhhh lebih menarik daripada Dude Herlino. Padahal bisa dibilang struktur muka dan badan kan bagusan Dude.”

“Nyaman sama dirinyaaa!!! Itu dia!”, kata Carine.

“Nah jadi berusaha untuk terlihat lebih menarik nggak terbatas sama ngurusin badan atau ngubah cara berpakaian aja. Tapi juga soal usaha gimana caranya lebih happy. Makanyaaaa kalian jangan serius-serius. Banyak-banyak main kayak gue sama Legoooo yihaaa!!!”, Arya mulai bersikap hyper.

“Pantes dulu gue mau sama lo ya? Padahal elo kan buncit gitu”, Joker menunjuk perut Arya yang memang sulit disembunyikan. “Udah gitu nggak ada usaha nahan-nahan nafasnya lagi.”

“Nah cakep tuh pernyataan lo. Berdasarkan bahasan kita hari ini, ada dua hal yang gue rasa bikin lo mau sama gua. Pertama gue kan nyaman sama diri gue sendiri. Emang siih dari segi fisik gue di bawah standar pacar-pacar lo biasanya, tapi kan lo pacaran sama gue setelah kita kenal beberapa tahun. Kebetulan lo temennya abang gue. Jadinya kita 1 peer. Jadi lo berkesempatan ngeliat betapa awesomenya gue. Kalau lo ketemu gue sebagai orang asing, mungkin lo nggak ingin mencari tau soal gue”, ujar Arya jumawa.

“Yaaa kalau pas lo lagi excited ngebahas hobi-hobi dan kegiatan random lo mungkin gua tetep pengen kenal lo lebih jauh, meski lo buncit”, kata Joker.

“Jieehh Joker, CLBK nih”, goda Fahri. Sayangnya tidak ada yang menggubris.

“Naaaah bicara mengenai kesan pertama, elo itu sebenarnya lumayan La. Beda sama si Arya, badan lo in shape. Sayang banget selama ini potensi lo nggak dimanfaatkan”, Carine berkata kepada Arla yang masih berada di meja makan. Memang Arla sangat rutin berolahraga dan disiplin mengkonsumsi makanan sehat, sehingga badannya sangat proporsional.

“Maksudnya?”, Arla bertanya tidak paham.

“Adie suka banget sama lo. Gue tadinya khawatir pas ngenalin kalian berdua, secara gue belum memberikan training apa-apa ke elo”, ujar Carine.

“Jadi projeknya jalan beneran nih?”, tanya Joker. Carine sedang memiliki projek untuk mencarikan Arla pacar. Memang seumur hidupnya, Arla belum pernah berpacaran. Arla memberikan Carine kesempatan untuk menjodohkannya sebanyak tiga kali. (baca : http://rumahlor.tumblr.com/post/41504828249/asal-mula-dari-projek-cari-pacar-untuk-arla)

“Adie siapa? Ganteng nggak?”, tanya Fahri. Yang lain mendelik ke arah Fahri.

“Ada temen SMU gue dulu. Kebetulan lagi jomblo. Kemarin kita jalan bertiga. Dia seneng tuh sama Arla. Katanya Arla lucu dan cantik”, ujar Carine pada Arla yang terlihat tidak peduli dengan informasi tersebut.

“Kapan kandidat ini dikatakan gagal atau tidak?”, Arla bertanya.

“Ya sehabis kalian kencan berdua dong”, kata Carine.

“Jadi sehabis besok kita bisa mulai ke kandidat kedua?”, tanya Arla.

“Wuahhh jadi besok kalian bakal kencan??”, Carine berteriak.

“Dia ngajak nonton dan makan malam. Aku rasa itu dihitung kencan”, ujar Arla.

“Aaaaaahh senangnyaaaaaa!!! Udah tau mau pakai baju apa belum? Gua pilihin ya? Atau lo pinjem baju gue aja”, Carine kegirangan.

I like my clothes. Aku pakai punyaku saja. Aku tidak terlalu peduli. Hanya ingin projek ini cepat berakhir”, ujar Arla.

“Emang lo nggak suka Adie?”, tanya Carine.

“Biasa saja. Sejak pertama kali bertemu dengan dia, ia selalu mengirimkan pesan. Ia selalu bertanya “Lagi apa?” dan “Sudah makan belum?”. Aku rasa dia bukanlah orang yang efisien dalam mengambil tindakan. Akhirnya hari ini aku mengirimkan tabel jadwal kegiatanku seminggu ke depan dan rencana menu makanan yang akan aku santap”, jelas Arla.

“Penasaran sih gue sama akhir dari projek cari pacar untuk Arla. Gua sih nggak kebayang nasib cowoknya”, komentar Joker kepada Arya dan Carine.

*1 : Thanks to Bayu Anindito untuk quotenya

Thanks to Wita dan Bona untuk diskusinya mengenai topik ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s