Pikiran Irasional

Baca post sebelumnya dulu yaaa untuk lebih jelasnya (https://rumahlor.wordpress.com/2013/03/03/29/)

ALL CAST (Minus Arman dan Arla)

“Kenapa biru gitu lehernya si Joker?”, tanya Carine pada suatu pagi. Joker dan Fahri menginap di rumah lor pada hari sebelumnya. Mereka berdua tidur di kamar Lego.

“Dicekik sama Arya”, Fahri menjawab.

“Gara-gara?”, tanya Carine.

“Gara-gara nggak nurut sama gue”, ujar Arya.

“Gila gue nikah enggak, kenapa kena KDRT sih?”, Joker menatap iba kepada memar di lehernya. “Ya sumpah gue nggak habis pikir, pasien-pasien lu itu nasibnya gimana sih punya psikolog macem lu”, Joker masih meringis kesakitan.

“Rahasia klien, sori ya”, Arya menggoyangkan jari telunjukkan di depan muka Joker. “Dan gue belum jadi psikolog.”

“Kasian ni si anak orang kaya”, ejek Carine. Joker sontak melemparkan bantal ke arah Carine. “Taa**** looo!!”, jerit Joker. Joker paling marah kalau disebut sebagai anak orang kaya. Memang di antara mereka semua, keluarga Joker adalah yang paling berada. Sangat berada bahkan. Joker kesal karena apa pun yang ia capai seringkali dikaitkan dengan kondisi keluarganya yang kaya raya.

“Buset kok memar gitu leher lo”, tanya Lego yang baru turun dari kamarnya.

“Udah dari kemaren”, Joker menjawab sambil bersungut. “Ibu kita Kartini pasti sedih tau nggak kalau tau emansipasi disalah gunakan kayak gini.”

“Terima aja udahlah. Itu balesan dari cewek-cewek yang lo kencani dan lo campakkan.”, sahut Carine.

“Yee berhubungan banget”, Joker tidak terima. Di antara mereka Joker terkenal suka gonta ganti pacar. Carine sering mendefinisikan Joker sebagai bad guy that good girls always falling into.

“Jadi ini hasil dari maraton Breaking Bad kemarin nih?”, tanya Lego. Lego kebetulan selalu harus praktek saat mereka menonton maraton. Lego merupakan seorang dokter umum yang bekerja di sebuah klinik. Saat ia kemarin pulang, semuanya sudah tertidur. Pertanyaan Lego disambut oleh anggukan lemah dari Joker.

“Lego nih keterlaluan!”, Arya tiba-tiba berkata.

“Lah kok jadi gue Ya?”, jawab Lego heran.

“Iya keterlaluan karena belum nonton sama sekali.”

“Ya nggak sempet Arya. Nanti kalau ada waktu deh maraton”, jawab Lego sabar.

“Harus!”, Arya memaksa.

Harus is a strong word loh. This better be great!(*1), jawab Lego.

“Sampe lo nggak suka, gue traktir makan dua kali!”, ucap Arya dengan yakin. (*2)

Man udah liat nasib gue kan. Mending lu ikutin aja deh”, ujar Joker lemah.

“Kalau gue ternyata suka?”, tanya Lego.

“Ya bagus”, jawab Arya.

“Ah gue ambillah taruhannya”, kata Lego sambil tersenyum.

“Tapi lo nggak boleh nyerah Lego. Pokoknya harus selesai sampai season 2 dulu nontonnya baru boleh nentuin agama lo Breaking Bad mania atau not into Breaking Bad. Masa-masa sulit itu dua episode pertama. Lo tidak boleh menyerah duluan pokoknya!” (*3), Arya menyemangati Lego.

“Iya Arya, iya”, Lego menjawab sabar.

“Carine nggak lo coba suruh nonton juga?”, tanya Fahri.

“Ah dia sukaannya sih macem Gossip Girl”, kata Arya. Carine menaikkan alisnya berkali-kali tanda setuju.

“Lo dibayar berapa sih sama yang bikin Breaking Bad. Semangat amat”, ujar Fahri.

“Ya kan gue pengen orang yang penting buat gue juga ngerasain kesenangan yang gue rasain. Enak tau kalau senang sama-sama. Udah gitu jadi nambah deh orang untuk ngobrolin ini”, jawab Arya.

“Gue nggak penting jadinya?”, Carine menjawab jutek. Carine kemudian melihat ke arah lantai. Sebenarnya daritadi suasana hatinya kurang enak. Arya segera menyadari hal tersebut.

“Ini nih cocok jadi calon klien. Suka punya pikiran irasional.”, Arya menggerakkan telunjuknya ke arah Carine.

“Pikiran irasional apaan sih ah. Bahasa manusia dong”, ujar Carine tanda tak mengerti.

“Ya itu main ambil kesimpulan kalau lo nggak penting. Padahal lo juga tadi bilang kan kalau lo aliran Gossip Girl”, jelas Arya.

“Tadi kan gue cuma setuju kalau gue suka Gossip Girl. Gue nggak bilang kalau gue nggak suka Breaking Bad”, Carine membela diri.

“Nah lu pas tau kita nonton ini aja ngabur ke kamar”, kata Arya.

“Ya abis nggak diajak”, Carine mutung. Memang kemarin Carine memendam diri di kamar saat yang lain sedang menonton. Dan juga pada hari-hari lainnya saat mereka menonton maraton.

“Ya Oloh nek, yey itu kemarin marah sama kite? Ngambek?”, ujar Fahri yang penggunaan bahasanya sering tidak konsisten.

“Emang lu mau Rin nonton ini? Soal drug dealer gitu?”, tanya Arya.

“Enggak”, Carine menjawab sambil mengalihkan pandangannya.

“Ya itu gue tau lu nggak bakal suka, makanya nggak gue tanya”, jawab Arya.

“Cewek tuh argggh bener-bener ye. Rempong! Rempong!”, Joker menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun segera berhenti karena sakit di lehernya tiba-tiba menyengat.

“Ya kan tetep seneng kalau ditanya dan diajak”, jawab Carine.

“Emang kalau nggak diajak kenapa? Toh ini bukan hal yang lo suka. Kenapa lo nggak mikir kalau kita itu segitu perhatiannya sama lo, segitu kenalnya sama lo, sehingga udah bisa tau kalau lo nggak bakalan suka”, jawab Arya.

“Ya udah lain kali kita tetep ajak elo deh meski tau lo nggak bakal suka. Gitu lebih enak Rin?”, Lego bertanya sambil tersenyum geli.

“Iya. Kadang enakan gitu”, Carine menjawab sambil pura-pura cuek.

“Bener tuh. Lu sering gitu tau”, Joker menimpali.

“Sering apaan?”, tanya Carine.

“Mikir apa tuh tadi yang lo bilang?”, Joker bertanya pada Arya.

“Irasional!”, Arya menjawab.

“Nah itu”, kata Joker.

“Kapan lagi emangnya gue kayak gitu?”, Carine menyangkal.

“Nih ada nih. Pas waktu itu gue jalan ke Mall sama Fahri, Arman, dan Arya. Lo ngerasa nggak kita ajak. Padahal gue, Fahri, sama Arman habis nge-band. Dan kebetulan si Arya lagi nyari komik di toko buku terus nggak sengaja ketemu”, Joker bercerita. Joker, Arman, dan Fahri tergabung dalam satu band. Joker merupakan vokalis dan pemain bass. Drum dipegang oleh Fahri, dan Arman adalah gitaris dari band tersebut. Mereka memproduksi sendiri rekaman mereka dan terkadang tampil di beberapa acara. Mereka memiliki beberapa fans yang loyal meskipun tidak terlalu terkenal dan sejauh ini tidak berencana sampai ke pertelevisian.

“Ya kan gue kira kalian emang janjian”, jelas Carine.

“Nah itu, ambil kesimpulan nggak nanya dulu. Dan lo mengacuhkan fakta bahwa Lego sama Arla juga nggak ikut lho”, jawab Arya.

“Ya kalau Arla sih emang jarang ikutan. Kalau Lego…..mmmmm….”, Carine kehilangan kata-kata untuk menjawab.

“Padahal lo tau si Arya sama Lego suka lengket kaya perangko”, komentar Fahri.

“Itu diaaa jugaa. Kalian tuh sering melakukan kegiatan aneh-aneh berdua”, Carine menunjuk ke arah Arya dan Lego. Arya dan Lego memang suka melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap ‘tidak jelas’ oleh teman-temannya yang lain seperti berlayar menggunakan perahu karet di danau kampus tempat Arya kuliah, atau parkir di bahu jalan tol dan kemudian jalan kaki di perkampungan sekitar, dan sebagainya.

“Kalau yang ini gue tau kalau gue pernah diajak dan gue nggak betah. Tapi justru itu kayaknya Arya seneng banget kalau pergi sama Lego. Sejak si Lego pindah ke sini nih”, Carine semakin judes. Memang tadinya paviliun tersebut hanya ditempati oleh Arya dan Carine. Lego kemudian pindah ke rumah lor sejak ia kembali dari Wakatobi sehabis PTT (*4). Lego baru menempati rumah itu selama kurang lebih 5 bulan.

“Ya ampuuuuun Carinee”, Arya akhirnya mengelus-elus kepala Carine. “Gue sih fair aja ya Rin. Meski si Lego tadi udah nawarin untuk selalu ngajak elo jujur aja gue pribadi kadang kepingin punya main berdua aja sama Lego. Tapi nggak berarti gue lebih seneng main sama dia. Bedalah Rin. Lego itu asik banget, tapi kita juga sering kan Rin jalan berdua tanpa ngajak yang lain”, jelas Arya lagi. Carine dan Arya memang juga sangat dekat. Mereka biasa melakukan kegiatan perempuan bersama-sama. Carine terkadang menggoda Arla bahwa Arya lebih menyukai menghabiskan waktu bersama dirinya meskipun ia bukan saudara kandungnya.

“Nah elu aja kadang kan juga kepingin pergi cewek-cewek aja. Girl’s night out, girl’s day out. Kadang lo juga pergi sama temen-temen kuliah lo dulu dan nggak ngajak gue. Emang itu tandanya lo lupa sama gue?”, jelas Arya.

“Ya kalau teman kuliah beda. Tapi jujur aja gue emang lebih ngerasa deket sama elo daripada sama si Lego. Makanya gue suka ngajak kita pergi berdua aja. Tapi nggak pernah ngajak Lego pergi berdua aja”, sungut Carine.

“Nah kalau sekarang Lego boleh nih merasa dinomor duakan daripada gue. Elo secara verbal udah ngomong soalnya”, jelas Arya. “Tapi karena lo mikir gitu kan nggak berarti semua orang mikir gitu Rin. Kalau gue sih menganggap lo sama Lego beda. Kalau pingin bertualang ya sama Lego. Kalau pingin ngeceng dan dandan-dandan ya sama elo.”

“Eh gue nggak sakit hati kok”, jawab Lego. “Emang teman laki-laki Carine yang paling dekat kan bukan gue. Carine dulu bukannya deket banget sama Arman ya?”, tanya Lego.

“Nah ni contoh orang yang mikirnya positif. Kalaupun elo menomor duakan dia pun, ya nggak masalah. Nggak semua orang harus menomor satukan kita kan”, Arya mengomentari Lego.

“Mmmmmmm mmmmmmm”, Carine kehilangan kata-kata. Carine itu sebenarnya yang paling lama berteman dengan si kembar tiga. Orang tua mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama. Sejak mereka mau masuk Taman Kanak-kanak, mereka sudah berteman. Namun Carine memang tadinya tidak terlalu dekat dengan Arya dan lebih sering bercerita kepada Arman. Baru sejak mereka SMU, Carine akhirnya mulai dekat dengan Arya.

“Jadi sebenarnya nggak rela gue pindah ke sini Rin?”, tanya Lego masih tersenyum geli.

“Relaa siiiii. Cumaa yaa itu sempet mikir Arya jadi kurang deket sama gue sejak ada elu”, jelas Carine. “Iya ya tapi dulu gue sama Arman hampir kayak elo sama Lego. Lengket. Cuma nggak berkegiatan aneh-aneh aja. Eh tapi memang kalian nggak pernah mikir negative kayak gue gitu?”, kata Carine.

“Ya pernah tapi elo yang kadarnya paling parah. Dan elo masalahnya nggak ngomong, tapi dipendem sampe lamaa banget.. Well gue ngaku deh, kadang gue sempat jealous juga kok sama elo sama Arman. Arman kan is my hero. Tapi gue cerita ke dia dan gue tau kalau gue sama elo bukan rival. Ya beda aja. Gue saudara dan elo sahabatnya dia”, cerita Arya.

“Awhhh you’re jealous of me? I’m so flattered!!”, Carine memeluk Arya.

“Udah lain kali makanya nanya dulu. Jangan ngambek dulu ya”, ujar Lego.

“Dasar cewek!”, Joker memutar matanya.

“Perempuan!”, Fahri juga mendengus.

*1 : Thanks to Krisna for the quote.

*2 & 3 : Lagi-lagi kata-kata dari Monda. Makasih udah ngejejelin gue film ini.

*4 : PTT singkatan dari Pegawai Tidak Tetap. Maksudnya pegawai di lingkungan dinas kesehatan namun belum mendapatkan status sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s