Asal Mula dari Projek Cari Pacar untuk Arla

ALL CAST (Minus Arman)

“Lo nggak bakal percayaaaaaaaa sama apa yang barusan dilakukan adek loooo!!!!!”, Carine memasuki rumah lor dengan marah. Setelah membuka pintu dengan kasar, ia menepuk kaki Fahri yang sedang tidur di sofa. Fahri terbangun gelagapan.

“Sanaan Ri”, Carine menyuruh Fahri memberikan tempat baginya untuk duduk.

“Kenapa si Arla?”, tanya Arya.

“Tanya sendiri tuh sama dia”, Carine menunjuk kepada Arla yang baru saja menyusul Carine ke rumah lor. Arla dan Arya adalah saudara kembar. Mereka masih memiliki satu saudara kembar laki-laki bernama Arman. Arman tidak begitu mirip dengan Arla dan Arya, salah satunya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.

“Aku bikin salah ya?”, Arla bertanya.

“Pake nanya lagi! Ya iyalah!!”, Carine berteriak.

“Tenang Rin tenang, ada apa sih?”, tanya Fahri.

“Kalau lihat reaksinya Arla barusan, kayaknya dia nggak tau kesalahan yang telah dia perbuat. Kayaknya mending gue tanya ke elo deh permasalahannya”, tanya Lego. Lego, Carine, dan Arya adalah teman satu rumah. Mereka membayar sewa untuk tinggal di sebuah paviliun yang sebenarnya agak sempit untuk ditempati bertiga. Paviliun itu merupakan bagian dari rumah utama yang dimiliki oleh Arla. Arla memang jauh lebih kaya dibandingkan teman-temannya. Sebenarnya rumah itu milik nenek Arla, tetapi dibeli Arla dengan harga yang tergolong sangat murah. Paviliun itu sering disebut rumah lor, yang artinya rumah di utara. Penamaan itu dikarenakan letaknya berada di utara rumah utama. Fahri adalah teman mereka yang sering menginap di rumah lor. Selain Fahri ada juga teman mereka lainnya di ruangan tersebut yang bernama Joker.

“Jadi tadi ada orang yang pesen jahitan baju ke gue, namanya Bu Siska. Hari ini dia mau ngasih bahan, dan sekalian gue ngukur badan dia. Nah rumah kita kan lagi berantakan banget. Udah gitu tadi si Fahri masih tidur di sofa. Gue jadinya nggak ngukur di sini. Gue tadi numpang ngukur baju di rumah Arla”, Carine memulai ceritanya. Sehari-hari Carine bekerja tetap di sebuah toko baju di daerah Melawai sebagai designer pakaian dan aksesoris wanita. Di samping itu, terkadang ia menerima pesanan untuk menjahit baju.

“Bu Siska itu ibu rumah tangga. Deskripsi lebih jelasnya adalah dia itu orang yang kegiatan sehari-harinya nyasak rambut sampe tinggi dan milih motif binatang apa yang bakal dijadikan corak bajunya. Favorit dia itu motif macan. Udah nggak ngerti lagi deh ada berapa jenis macan yang dia punya bajunya. Hari ini dia bilang bajunya itu bermotif macan tutul Jawa, dan celananya bermotif macan tutul Salju.

Nah si Ibu ini pekerjaan sampingannya itu ngomongin orang. Orang favorit dia untuk diomongin adalah dirinya sendiri. Suaminya posisinya tinggi di sebuah perusahaan swasta. Tetapi masih terhitung pegawai, bukan direktur. Mapanlah. Menengah atas. Tapi nggak yang kaya-kaya banget. Nah si Bu Siska ini ibu-ibu yang suka pamer ini itu. Pamer kerjaan suaminya, pamer tas barunya, pamer jalan-jalan kemana, tapi sebenarnya yang dia pamerin nggak segitunya. Banyak orang yang masih lebih tajir dari dia. Misalnya waktu itu dia pamer tas Kate Spade-nya yang harganya beberapa juta. Ya mahal sih, tapi kan banyak tas yang kelasnya di atas itu. Gue males dengerin orang pamer. Bos gue yang harga tasnya lebih mahal dari harga mobil aja biasa-biasa aja. Tapi berhubung dia customer, kalau dia cerita ini itu jadinya gue dengerin aja. Meski gue sebenarnya lebih seneng kalau dia cepet-cepet pulang.

Hari ini nggak terkecuali. Awalnya dia pamer karena baru nonton di velvet room-nya Blitz. Dia nanya gue pernah nonton di situ atau enggak. Gue jawab kalau gue jarang nonton di situ. Lalu mengocehlah dia :

Ya emang sih agak tinggi harganya, tapi enak lho nonton di situ. Tante juga tadinya nggak mau nonton di situ. Tapi suami Tante maksa sih. Namanya kita istri kalau sama suami kadang suka nggak enak. Apalagi suami tante kan suka beliin Tante barang yang mahal-mahal. Masa nonton juga harus yang mahal. Tapi mungkin suami Tante juga udah naik gaji ya, jadi bisa nraktir nonton yang mahalan’”, Carine bercerita dengan gaya bicara yang dibuat berlebihan.

“Gue bukannya nggak punya duit. Cuma gue lebih deket nonton di PIM daripada ke Blitz”, Carine berkata kepada teman-temannya dengan nyinyir.

“Harga diri tercoreng nih si Carine”, kata Lego.

“Cakep nggak tante-tantenya?”, tanya Joker.

“Nggak!”, Carine berkata judes.

“Oke-oke terus apa ulahnya si Arla?”, tanya Arya.

“Habis itu dia ngasih liat gue foto dia di velvet room. Dia lagi tiduran gitu di tempat tidurnya yang ada selimutnya dengan tulisan velvet room. Pokoknya dia menekankan sekali kalau di foto itu dia benar-benar ada di velvet room. Pake ngunjukin tiketnya juga yang dia simpen. Duile Buuuu. Gue langsung sms Arla yang kebetulan saat itu ada di belakang gue. Gue sms :

Ya orang juga nggak bakal ada yang ngira kalau itu ruang tamu dia sik

“Aku tadi itu nggak paham maksudnya. Soalnya aku kan nggak dengerin kalian mengobrol. Aku itu lagi baca jurnal penelitian”, kata Arla.

“Terus yang bikin lo marah sama Arla apa?”, tanya Joker.

“Bentar. Gue akan sampai ke situ tapi sebelumnya gue harus cerita soal si ibu-ibu pamer ini dulu. Naa sehabis si Bu Siska cerita soal velvet room, penderitaan gue masih berlanjut. Jadi dia itu jahit baju untuk wisuda anaknya yang baru kelar S2. Ceritalah dia soal mahalnya biayain sekolah anaknya, soal kegigihan anaknya nyelesaiin skripsi, soal gimana anaknya pinter, gimana soal dia yang ngasih dukungan terus ke anaknya, dan soal gimana banyaknya perempuan yang ngejar-ngejar anaknya. Dia bilang gue pasti naksir sama anaknya, karena selain pintar anaknya juga ganteng. Bah belum pernah lihat Arman sih si Bu Siska”, cerita Carine. Arman memang sering dibilang orang tampan. Tubuhnya sangat tinggi yang sayangnya tidak menurun ke Arya atau Arla. Badannya tidak padat berotot seperti Fahri, bahkan agak sedikit bungkuk. Tetapi gesture berdirinya rupanya disukai beberapa perempuan. Matanya berwarna cokelat terang dan terkesan misterius. Namun para wanita akan segera meleleh saat matanya berubah hangat begitu ia melihat langsung ke arah lawan bicaranya. Ibu Arman suka menyebut Arman sebagai ‘anakku yang ngganteng’.

“Nah terus Bu Siska bilang kalau dia nggak sembarangan pilih menantu. Harus ini, harus itu, pokoknya yang harus pantas untuk anaknya yang dia banggakan itu. Terus dia interogasi gue seolah-olah gue ini bakal jadi salah satu perempuan yang akan berminat sama anaknya. Nah dia itu agak meremehkan gue karena menurutnya gue cuma penjahit. Jadi gini kira-kira percakapan gue sama dia :

Kalau Carine sih cantik ya. Pasti banyak yang naksir. Kamu dulu kuliahnya apa sih?’.

Gue jawab ‘Saya kuliahnya fashion business Tante. Di La Salle. Tapi habis itu sempet ngambil course fashion design di Esmod

Komentar dia selanjutnya asli bikin gue sebel. Lo semua..lo semua harus liat ekspresi dia. Ngeremehin gue banget. Dia bilang ‘Oh cuma kuliah ngejait’”

It’s getting hot in hereee..”, Fahri menyanyikan lagu lama dari Nelly.

“Anyeeeng (*1). Terus terus lo gimanaaa?”, Arya bertanya.

“Ya gue pasti menahan diri. Biar gimana juga dia ini sumber pemasukan gue. Toh gue juga kan nggak tiap hari ketemu dia, jadi nggak apa-apalah sekali-kali pura-pura manis. Gue lanjutin cerita gue ya. Terus gue bilang :

Kalau nggak kuliah jahit mungkin saya nggak bisa jahitin bajunya Tante’, gue manis-manis itu gue ngomongnya.

Si Tante itu terus bilang ‘Tapi ya nanti Carine susah nggak ngimbangin pembicaraannya anak Tante?

Kalau anak tante mengerti fashion sih nggak bakal susah.’

Ya masa ngomongin fashion melulu. Kan jadi orang pengetahuannya mesti luas dong. Perempuan-perempuan yang deket sama anak Tante itu ujung-ujungnya pada kabur karena minder sama anak Tante.”

Gue cuma bisa senyum-senyum manis aja pas dia ngomong gitu. Tapi gue gatel banget untuk nggak komentar. Gue sms lagi si Arla. Gue pikir nggak bakal jadi masalah, soalnya pas pertama kali gue sms dia, si Arla kan dia diem-diem aja tuh. Gue sms Arla :

Alah paling pada kabur gara-gara ogah punya mertua kayak dia.

“Kayak apaan sih orangnya. Jadi pingin liat gue”, komentar Fahri.

“Alah nggak penting untuk dilihat. Super nyebelin. Lanjut ke cerita ya. Abis dia puas bangga-banggain anaknya, si Bu Siska pamit”, Carine menarik nafas sejenak setelah berbicara panjang lebar.

“Heran deh si Carine itu ngapain sms aku. Pertama jelas-jelas aku di belakang dia. Tinggal ngomong kan bisa. Kedua, kenapa sih kalian itu kadang kalau ada yang ingin disampaikan ke seseorang itu nggak berani menyampaikan langsung”, Arla menjawab.

“Mmh gue tau nih lanjutannya”, Lego berusaha menahan tawa.

“Arla pasti bacain isi smsnya di depan si Bu Siska deh”, Arya menebak. Carine mengangguk dengan pasrah.

“Arlaaaaaaaaaaaaaaaa”, Joker berteriak dan tertawa guling-guling.

“Ciyuss dibacain? Ih terus gimana?”, Fahri bertanya sambil tertawa. Fahri ini sering diejek banci oleh teman-temannya meski gayanya sebenarnya tidak melambai. Lego berusaha menarik nafas sambil menggigit bibirnya supaya bisa menahan tawa.

“Si Bu Siska mukanya langsung berubah jadi monster. Mending dia cuma bacain sms yang kedua. Yang pertama dibacain juga. Arla bilang :

Bu Siska katanya Carine itu nggak bakal salah kira kalah foto di hp Ibu itu ruang tamu ibu. Emang pernah ada orang yang berpikir gitu Bu? Rin kenapa harus sms sih? Bilang saja sama Bu Siskanya langsung’. Kayak gituuuu si Arla ngomong. Kayak gituuuuuuu!!! Mampus nggak sih gueeee!! Mampussssss gue!!!”, Carine menjerit-jerit. Semua yang ada di rumah lor kecuali Arla, tertawa terbahak-bahak. Lego pun akhirnya tak kuasa menahan tawa.

“Nggak lucu tau nggak siiihh!!! Tau nggak dia langsung batalin jahitannya”, Carine berkata kesal.

“Ya udah biarin aja Rin. Cuma satu customer doang. Toh lo jahit juga jarang-jarang kan. Lagian ibu-ibunya nyebelin gitu. Bagus deh dia denger”, kata Fahri

“Tos dulu dong La!!”, Joker memberikan tangannya kepada Arla. Arla hanya melihatnya dengan bingung. Joker kemudian mengambil tangan Arla dan memukulkan tangan Arla ke tangannya. Tos yang dipaksakan.

“Gue sih seneng Arla kayak gitu hahahaha. Lagi lo betah-betahan banget sih senyum-senyum manis sama orang kayak gitu”, kata Arya.

“Bukan masalah nggak berani Arlaa. Ini namanya menjaga hubungan baik”, kata Carine.

“Aku nggak ngerti kenapa saat kamu nggak berani jujur ke orang yang bersangkutan itu dianggap sebagai sebuah hubungan yang baik”, kata Arla.

“Namanya jaga nama baik. Dia sekarang bisa aja ngomongin gue ke ibu-ibu lain yang jelek-jelek. Gue kan punya bisnis. Harus menjaga pemasukan gue”, Carine masih kesal.

“Aku hampir tidak pernah pura-pura manis di depan teman kerjaku. Kalau mereka bikin kesalahan, aku tegur. Dan pemasukanku lebih besar dari kamu”, Arla berkata tanpa perasaan bersalah sama sekali.

“Aaaaah jlebbb!!!!”, Fahri mengejek Carine dengan menunjukkan gesture seolah ada pisau yang tertancap di dadanya. Carine semakin kesal. Mukanya memerah karena marah.

“Haruskah aku sekarang minta maaf?”, Arla melihat ke arah Arya.

“Maaf maaf! Maaf nggak mengubah apa-apa”, kata Carine.

“Ya itu juga yang aku pikir pada awalnya. Tapi kalian kan mengatakan itu kalau berbuat kesalahan”, Arla mencari buku catatannya dan membuka-buka halamannya. Arla memang sering kesulitan mengetahui hal-hal tidak tertulis dalam berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu ia terkadang mencatat poin-poin penting yang perlu diketahui saat harus berhubungan dengan orang lain.

“Nih aku pernah catat, ‘Jika kita gagal dalam memenuhi ekspektasi seseorang, katakan saja maaf. Ternyata seringkali itu lebih efektif daripada mencoba mencari hal lain yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahan’”, Arla membacakan catatannya.

“Teori darimana lagi itu?”, Carine berkata judes.

“Iya aku perhatikan kalian kok, dan juga orang lain. Kadang-kadang kalau ada sesuatu yang tidak/lupa dilakukan seseorang, apa pun yang dia lakukan seperti percuma selama dia belum minta maaf. Kamu kok waktu itu pernah bilang. Nih aku catat ‘Emang sih si Arman kemarin udah baik-baikin gue, tapi dia belum minta maaf tuh’”. Lalu Joker juga pernah cerita sewaktu ada perempuan yang marah-marah sama dia, yang aku nggak tau apa masalahnya. Joker bilang ‘Ya gue udah minta maaf. Mau gimana lagi?’”, Arla membacakan catatannya kepada semuanya. “Benar kan? Saat bergaul, kata maaf itu lebih penting daripada perbuatan ?”, Arla bertanya lagi.

Yang lain saling melirik.

“Iya bener kalau lo bener-bener tulus mengatakannya”

“Kalau bilang maaf yang tulus itu yang seperti apa?”

“Elo bener-bener ngerasa salah dan mau memperbaiki”

“Aku nggak merasa kalau aku salah, tetapi aku tau aku bikin kamu marah sama aku. Dan aku ingin kamu nggak marah lagi sama aku”, kata Arla.

“Nggak salah gimanaaa. Arlaa lo tuh bisa bikin gue dihujat ibu-ibu satu arisan tau nggak?”

“Kalau begitu seharusnya dari awal kamu tidak sms aku dong. Kalau cuma kamu yang simpan pendapat tersebut, kan si ibu itu tidak akan tau apa yang kamu pikirkan”

“Arggghhh nggak tau ahhhhhh gue sebel sama looooo!!!! Dan elo harusnya tersinggung saat gue ngomong ginii. Lo harusnya sedih karena gue marahh sama elo”, Carine menunjuk-nunjuk Arla.

“Aku enggak sedih tuh”, Arla menjawab dengan enteng.

“Iya gue tau elo enggak sedih! Elo tapi harusnya sedih!!”

“Kenapa?”, Arla masih ebrtanya.

Carine memutar bola matanya. “Arla! Gue nggak mau tau, pokoknya lo harus mau cari pacar!”

“Hah kenapa tiba-tiba jadi harus punya pacar? Apa hubungannya?”, Arla berkata bingung.

“Biar belajar tau petunjuk-petunjuk yang tersirat tau nggak. Belajar berinteraksi sama orang dengan emosi. Temenannya sama bakteri terus sih. Dan kita-kita ini udah terlalu maklum sama lo. Bikin hubungan baru. Gue cariin cowok. Nggak mau tau. Lo mau gue maafin kan? Lo nggak boleh nolak!”

“Kenapa harus pacar? Kalau cuma cari hubungan baru kan kamu bisa mencarikan aku teman saja.”

“Bisa sih, tapi gue sendiri kesulitan mencari teman. But boys, they are my area of expertise”, jawab Carine.

“Bukannya temen lo banyak ya. Apalagi itu tuh, geng-geng cewek-cewek populer lo itu? Yang arisan melulu. Yang cantik-cantik tapi nggak pernah mau lo kasih ke gue”, jawab Joker.

“Yahh kami perempuan-perempuan menarik. You know, we understand each other, and we also hate each other. Anyway, back to Arla. Mulai hari ini gue punya projek baru. Projek cari pacar untuk Arla”, Carine berkata dengan dramatis.

“Aku nggak boleh nolak?”

“Nggak”

“OK berapa lama projek ini akan berlangsung?”

“Ya nggak ada bates waktunya”, kata Carine.

“Sepertinya itu tidak adil”, jawab Arla.

Ya udah gue marah terus sama lo

“Kalau begitu mungkin sudah waktunya kamu pergi dari rumah ini”

“Uuuuu seremmmmmm”, Fahri menirukan suara-suara di film horor. Yang lain terdiam dan saling melirik. Carine langsung salah tingkah.

“Ehhh Arla jangan gitu dong”, Carine mendadak ramah. “Oke deh kasih gue kesempatan ngenalin lo sama cowok 10 kali. Gimana?”, Carine mengajukan penawaran.

“Kebanyakan. Tiga kali aja”, Arla menawar.

“Tujuh deh”, Carine masih berusaha.

“Tiga kali”

“Lima deh”

“Tiga”

“Oke tiga deh. Tapi ada syaratnya. Gue boleh Intervensi”, kata Carine.

“Apa lagi itu?”, Arla bertanya tak paham.

“Gue boleh mutusin lo pake baju apa, gue boleh nanya-nanya kalian ngapain aja, sekali-kali gue boleh tau kalian ngomongin apa aja, dan lo minimal harus jalan tiga kali sama cowok itu sebelum lo memutuskan untuk nggak melanjutkan”, Carine menjabarkan syaratnya.

“Ah rumit sekali. Terserah kamulah. Pokoknya tiga kali ya. Habis itu jangan ganggu kehidupan pribadiku”, Arla lalu beranjak kembali ke rumahnya.

“Asiiiiik”, Carine melompat senang.

*1 : Maksudnya anjing. Tapi biar lebih halus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s