Menang? Penting Nggak?

ALL CAST (Minus Carine dan Lego)

Ditujukan untuk yang menonton Breaking Bad.

*Spoiler Alert buat yang belum nonton Breaking Bad.

“Jesse Pinkman is the maaaan!!!Wuaaa!!!” Arya berteriak saat mereka baru saja selesai menonton kedelapan episode di season 5 dari film Breaking Bad.

“Salut sih sama Pinkman. Salut salut”, ujar Fahri. “Manis ya dia. Baik banget gitu sama anak kecil.”

“Arggghhh masih Juli 2013 lanjutannya argggh!!”, Arya guling-guling di lantai. Saat itu Arya, Arman, Fahri, dan Joker sedang berada di ruang tengah rumah lor. Selama beberapa waktu sebelumnya mereka memang selalu menonton Breaking Bad bersama-sama. Mereka semua tergolong terlambat menyadari adanya fil ini. Seminggu terakhir ini mereka menghabiskan season 4 dan setengah dari season 5.

“Keren banget sih cara penyampaian transformasi si Walter White yang tadinya protagonis sampai jadi antagonis”(*1), komentar Arman lagi . “Ngeri ya kalau punya kekuasaan yang nggak diimbangi kebaikan.”

”Kayak Orang Kaya Baru yang kampungan si Walter White. Tapi ini Orang Baru Ngerasain Punya Kontrol”, sahut Arya.

“Keren bo! Lumayan sport jantung gue! Seru. Apalagi pas mau ngeledakin si Gus. Jantungan! Pas ngebantai 9 konconya si Mike di penjara juga ngeri abis deh”, Fahri mengelus-elus dadanya.

“Kenapa pada suka Pinkman sih? Gue malah suka banget Gus”, tukas Joker.

“Idih gue malah paling nggak suka sama Gus. Bukan tipe orang kesukaan gue”, ujar Arya. “Gue nggak gitu suka orang yang kebanyakan persona. Macam James Bond gitu. Kebanyakan pencitraan ah! Capek!”

“Pencitraan gimana?”

“Ya lagaknya sih tiap hari kayak orang baik. Afek datar. Semua emosi ditekan. Emang sih untuk menutupi bisnis ‘kotor’nya. Tapi sebenarnya nggak harus gitu juga kan? Liat si Tuco? Meski dia jahat„ dia tuh genuine. Nah si Gus kan kesehariannya pura-pura baik melulu. Kebayang nggak siiih capeknya jadi orang kayak gitu. Gue aja capek ngeliatnya.”

“Ya justru itu kerennya. Rapih. Profesional”, ujar Joker.

“Dari sisi itu emang benar. Nah tapi resikonya orang yang kebanyakan represi emosi ye, akhirnya nggak punya emosi. Mana coba keputusan dia yang landasannya itu karena perasaan? Semuanya praktikal dan semuanya untuk uang. Ada orang yang membahayakan bisnisnya langsung dibunuh. Lagaknya sih menghormati Walter White. Eh gara2 sekalii aja si Walter White bertindak nggak sesuai keinginan dia, langsung loh dia nggak mau ketemu Mr. White lagi. Cewek aja ambegannya nggak segitu. Udah gitu mentang-mentang si Pinkman akhirnya dirasa ‘berguna’, langsung loh si Mr.White dibuang gitu aja. Makan tuh hormat.! Hormat sama duitnya doang. Sah aja sih orang kayak gitu, tapi nggak admirable untuk gue.”

“Si Walter White kan dibuang bukan karena sekali kejadian. Tetapi karena dia akhirnya menyebabkan Hank mengetahui keberadaan mereka”, bela Joker.

“Ya mau sekali dua kali, intinya Gus itu orang yang nggak oke dalam penyelesaian konflik dengan orang lain. Kalau nggak berkenan tembak aja. Matiin aja. Berkuasa sih, tapi imbasnya liat deh, orang juga hormat sama dia karena dibayar. Ada gitu yang bener-bener loyal sama dia? Yang care sama dia? Semua ada di pihak dia karena duitnya. Orang yang mentingin duit doang, akhirnya dihargai karena duit doang. Buat gue lebih susah ngebangun rasa hormat yang tidak disertai rasa takut. Walter White itu gue nggak suka juga sih, karena dia sangat mementingkan pride-nya. Tapi meskipun begitu, dia masih bisa lho membangun loyalitas di diri Pinkman. Dan itu lebih susah daripada sekedar menarik orang dengan uang atau hal-hal materiil.”

“Iya bener.Tapi keren abis gitu yang pas dia udah kena ledakan tapi masih sempet betulin dasi. Keren man!”

“Ya itu dia. Persona kan? Udah sakit mau mati sih mati aja. Siapa sih yang peduli dasinya rapih apa enggak. Sama kayak orang nggak peduli rambut lo bagus atau enggak”, ejek Arya.

“Sekarang coba kita telaah Jesse Pinkman. Dari semua karakter dia tuh yang paling mikirin orang. Yang paling altruis. Gue suka banget transformasi dia dari anak muda yang kesannya egois, tapi sebenarnya sensitif banget. Care sama anak kecil. Iya dia memang kurang bertanggung jawab, dan kurang oke dalam perencanaan. Tapi fakta kalau dia itu bersedia kehilangan nyawa, kehilangan duit demi orang lain itu top abiss! Gue suka banget pas dia nggak mau masak meth kalau Mr White dibunuh. Bahkan dia itu udah cross batas kemampuannya dia. Dia yang pada dasarnya nggak mau membunuh orang, akhirnya mau membunuh si Gale untuk menyelamatkan Mr. White. Hebat kan? Dia tuh orang yang paling tau apa yang penting buat dia. Mr. White kan sempet lupa tuh sama apa yang penting buat dia. Bilangnya sih keluarga yang paling penting, tapi ujung-ujungnya kehilangan keluarga demi pride. Dan Pinkman yang menyadari hal ini. Inget kan percakapan mereka saat si Pinkman bilang kalau $5 juta dolar itu udah jauh melebihi duit yang tadinya Mr. White butuhkan. Kenapa nggak merasa cukup aja dengan duit segitu. Keren kan?Keren kan?”, Arya berkoar-koar.

Joker belum sempat mendebat saat Arla tiba-tiba mengetuk pintu. Pintu samping rumah lor terbuat dari kaca sehingga mereka bisa melihat keluar.

“Ga dikunci”, sahut Arya. Arla kemudian memasuki rumah lor.

“Eh Arla, udah punya pacar belom?”, goda Joker. Pertanyaan Joker dibalas oleh lirikan dingin dari Arla. Arla, adik kembar Arya, seumur hidupnya memang belum pernah pacaran sehingga terkadang menjadi bahan guyonan teman-temannya yang lain.

“Habis nonton apa sih?”, tanya Arla.

“Breaking Bad. Soal guru kimia yang butuh uang, kemudian jadi membuat formula untuk meth gitu. Tapi methnya dia ini juara punya”, jelas Joker.

“Oh Breaking Bad. Tau kok. Udah nonton juga. Kalian udah selesai?”, jawab Arla.

“Sampai mid season 5 udah. Belum ada lagi”, kata Arya.

“Rajin banget nontonnya. Thesis gimana?”, tanya Arla. Arya saat ini sedang mengambil program profesi sekaligus s2 jurusan psikologi klinis dewasa. Ia sudah memasuki semester terakhir di mana ia tinggal mengambil kuliah minor dan menyelesaikan thesis.

“Ya belomlah”, Arya menjawab santai.

“Nggak mau diselesaiin?”, tanya Arla lagi.

“Selesaiin dong Arla”, jawab Arya kurang ajar. Arla hanya bisa memutar bola matanya. Arla terkadang cukup kagum bahwa sampai detik ini Arya tetap bisa memenuhi tuntutan hidup dengan gaya hidup dan pola perilaku yang menurut Arla asal-asalan. Arya belum pernah terkena cekal, belum pernah terancam drop out, dan bahkan dahulu menyelesaikan s1nya tepat waktu, meski kerjaannya sebagian besar adalah main-main.

“Anyway aku mau ngasih tau kalau aku masak untuk kalian. Kalau mau makan ke rumah saja ya”, kata Arla.

“Bawa ke sini aja La”, ujar Fahri.

“Boleh saja, tapi pakai piring dari rumah lor ya?”, ujar Arla. Arla paling anti meminjamkan barang-barangnya kepada orang lain. Terutama kepada makhluk beringas di rumah lor. Setiap hari ia memeriksa peralatan memasak dan makannya. Yang lain selalu memutuskan untuk tidak membantah Arla dalam hal ini. Arla hendak kembali ke rumahnya, namun ditahan oleh Joker.

“La jangan balik dulu. Lo nonton breaking bad kan? Masa dia nggak suka sama Gus deh”, Joker menunjuk ke arah Arya.

“Gustavo? Dia kuat sih. Profesional, terencana, mengamankan posisinya di masyarakat dan dunia,. Memiliki kekuasaan yang besar. Bisa memberikan uang yang banyak untuk keluarganya, untuk dirinya. Laki-laki yang bertanggung jawab dan mungkin nilainya besar di kultur yang menganut budaya patriarki, terlepas dari halal atau tidaknya cara yang dilakukan”, jelas Arla.

“Maksud gue juga geto!”, Joker berkata senang.

“Aku bisa membayangkan rasanya jadi Gustavo. Hanya.. kadang ingin tahu rasanya jadi orang seperti Pinkman, atau Walter White sewaktu belum berkuasa”, Arla melanjutkan.

“Maksudnya?”, tanya Joker.

“You know, they were pretty much a loser at first. But they have each other. And they stand for each other. Kadang pingin tau rasanya masih punya orang yang setia saat nggak punya apa-apa.”

“Arla lo nggak mikir kalau kita main sama lo itu karena duit lo kan?”, ujar Joker. Arman menoleh ke arah Arla.

“Nggak secara eksplisit duit, tapi kenyamanan. Kaya misalnya rumah ini. Honestly sometimes I can’t help to think what would have happened if I lost everything”, kata Arla dengan datar.

“That’s the most ridiculous statement I’ve ever heard!!”, Arya berteriak. “You’re my sister, of course I love YOU. Nggak tau deh kalau ni makhluk due”, Arya menunjuk ke arah Joker dan Fahri.

Jawaban tersebut sepertinya kurang meyakinkan Arla, tetapi Arla tersenyum tipis sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan kembali ke rumahnya.

“Kembali ke perdebatan!”, Joker memulai. “Elu gimane?”, Joker bertanya pada Arman.

Arman menghela nafasnya. “Kenapa sih kalian itu suka berantem untuk nentuin siapa yang menang atau kalah. Cuma urusan breaking bad lagi. Orangnya bahkan nggak nyata”. Arman berkata tenang sambil geleng-geleng kepala.

“Tau tuh kenapa sih lo!”, Arya menoyor kepala Joker.

“Yeee elo juga tuh!”, Joker balas mendorong Arya.

“Baaang Joker jahat nih. Pecat aja jadi teman”, Arya meminta bantuan Arman.

“Joker sit!”, Arman meniru gaya seorang tuan yang memberikan perintah pada anjingnya.

“Oke jadi gitu cara lo Man. Oke oke”, Joker berkata keki.

“Ya kalau menurut gue simpel. Arya mementingkan loyalitas di atas uang, dan buat Joker lebih penting untuk bisa bertanggung jawab secara finansial dan punya posisi yang aman. Itu aja.”

“Man gue jadi malu nih. Bener juga lo”, Joker garuk-garuk kepala.

“Ih pinter ya si Arman”, Fahri tersenyum manis. Bikin jijik.

“Kalian ada samanya dengan Walter White. Lupa tujuan awal”, Arman berkata sambil kemudian tiduran di sofa dan memejamkan mata tanda dirinya undur diri dari perdebatan.

“Tujuan awal ngasih opini, sekarang kita berantem siapa menang siapa kalah gitu?”, Arya mencoba mengkonfirmasi.

“Elo kan mau jadi psikolog Dek, pasti ngertilah”, Arman membuka matanya kembali dan melihat ke arah Arya.

“Karena gue saben hari dengerin orang cerita melulu makanya gua butuh penyaluran agresiiiiiii!!!!!! Arggggghhhh!!!!!”, Arya menyambar Joker dan mencekiknya sambil menggoyang-goyangkan badannya “Bilang Pinkman keren! Ini loyalitas gue terhadap Pinkman!! Bilang nggak?! Bilang! Bilang! Bilang!!”

*1 Thanks to Monda for the quote

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s