Pertama

ALL CAST (minus Arla)

Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan hidup  berlimpahkan kekayaan. Karena ia senang berfoya-foya, akhirnya seluruh hartanya habis. Elizabeth, nama perempuan itu, tidak pernah bekerja. Saat wafat, ayahnya meninggalkan harta dan sebuah kutukan. Elizabeth memiliki kemampuan untuk mengambil keremajaan. Sebuah kutukan yang sering membuatnya lupa diri.

Banyak orang menginginkan keremajaan. Oleh karena itu Elizabeth akhirnya mengambil keremajaan dari gadis-gadis muda dan anak kecil, untuk kemudian dijualnya kepada orang lain. Sapuan tangannya pada wajah para gadis membuat mereka menjadi tua. Dengan hal itu Elizabeth tetap muda dan juga tetap berlimpahkan harta.

Keberuntungan Elizabeth rupanya tidak berlangsung selamanya. Para penduduk desa akhirnya mengetahui hal ini. Mereka kemudian menyerbu rumah Elizabeth sehingga ia terpaksa melarikan diri membawa sejumlah uang yang cukup banyak dan sedikit dari persediaan keremajaannya. Malang bagi Elizabeth uang yang banyak tersebut tidak dapat digunakannya. Tak ada toko yang aman untuk ia kunjungi. Oleh karena itu berjalanlah Elizabeth meninggalkan kota tempat tinggalnya dan bersembunyi.

Elizabeth tidak ingat berapa lamanya ia telah mengasingkan diri. Elizabeth melihat kotak tempatnya menyimpan keremajaan yang sudah kosong. Ia dapat merasakan kulitnya yang mulai mengeriput dan badannya yang terasa renta. Beruntung baginya, Elizabeth mampu untuk melangkahkan kakinya sampai tiba di kota lain. Saat itu hari sudah malam.

Elizabeth berjalan memasuki kota tersebut sambil menggenggam erat tali tasnya yang berisi uang. Elizabeth melihat sekeliling untuk melihat keadaan. Malang bagi Elizabeth, seseorang tiba-tiba menarik tasnya. Elizabeth berusaha sekuat mungkin mempertahankan tasnya sehingga ia tersungkur saat si perampok terus memaksa menarik tasnya.

“Hey nenek tua! Berikan barang milikmu!”, ujar si perampok. Elizabeth tidak mampu menjawab. Mukanya menghantam tanah. “Berikan!”, perampok tersebut hendak menendang tangan Elizabeth, saat sebuah suara menghardiknya.

“Hey lepaskan barang nenek itu!”, ujar sebuah suara yang ternyata adalah milik seorang gadis yang sangat cantik. Gadis tersebut memegang tongkat dan mengacungkannya kea rah perampok tadi. “Jika kau beruntung aku hanya akan berteriak, tetapi aku bisa saja memutuskan untuk mengayunkan tongkat ini ke mukamu, dan percayalah aku tidak akan gagal”, ujar perempuan tersebut.

Meski si perampok terlihat lebih kuat, hatinya ciut juga diancam dengan tongkat. Perampok itu pun berlari tanpa berkata apa-apa lagi dan melepaskan tas si nenek. Gadis cantik itu datang menghampiri Elizabeth.

“Nenek, mengapa engkau jalan sendirian malam-malam?’, ujar seorang gadis yang sangat cantik.

Panggilan nenek tersebut membuat Elizabeth merasakan kesedihan. Pasti wajahnya saat ini sudah terlihat buruk rupa. Sayangnya hal tersebut tak menjadikan Elizabeth lebih baik hati. Elizabeth hendak mengambil keremajaan gadis tersebut.

“Nenek mau pergi kemana?”, ujar gadis tersebut.

“Aku tidak tahu. Aku tidak berasal dari kota ini”, sahut Elizabeth.

“Apakah nenek tersesat?”

“Iya aku tersesat. Tahukah kau kiranya di mana aku bisa tinggal?”

“Hmm aku mungkin memiliki ide. Kalau nenek mau aku bisa mengantarkan nenek ke kastil matahari. Di kastil tersebut terdapat sebuah keluarga yang memiliki tiga putri cantik yang masih kecil. Semua orang menjauhi kastil tersebut karena ketiga putri tersebut memiliki penyakit. Semua orang takut akan tertular. Tak ada yang mau bekerja kepada keluarga itu. Padahal penyakit mereka sebenarnya tidak menular. Buktinya aku tidak tertular sama sekali.”

“Apakah kau bekerja di sana?”, tanya Elizabeth.

“Aku mengajar anak-anak tersebut. Setahuku mereka sedang membutuhkan pengasuh. Jika nenek mau aku bisa mengantar nenek ke sana.”

Elizabeth menerima tawaran tersebut dengan hati senang. Mendadak niat jahatnya muncul dengan kuat. Ia membayangkan akan menjadi muda lagi dan mungkin masih memiliki banyak keremajaan yang bisa ia simpan untuk dijual. Elizabeth tidak hanya berpikir untuk mengambil keremajaan ketiga putri yang diceritakan tersebut, tetapi ia tega untuk berniat mengambil keremajaan gadis yang baru saja menolongnya.

Setelah beberapa lama mereka berjalan, Elizabeth dan gadis tersebut akhirnya sampai pada kastil matahari.

“Nenek kita sekarang sudah sampai. Silahkan masuk duluan”, tutur perempuan cantik itu. Dengan penuh semangat Elizabeth membuka pintu kastil. Di depannya ada tangga menurun yang sangat panjang. Elizabeth tidak dapat melihat dasarnya. Elizabeth hendak menaruh kakinya pada undakan pertama ketika secara mendadak ia merasakan dorongan keras pada pundaknya.

“Kau pantas mendapatkan ini!”, teriak perempuan cantik itu saat mendorong Elizabeth dan menyambar kantungnya yang berisi uang.

Elizabeth terjatuh terguling-guling di antara anak-anak tangga tersebut. Ia berteriak melolong. Di tengah-tengah jeritannya ia berkata “Kamu akan mendapat balasannya perempuan celaka! Kamu akan mendapat balasannya!”

“Kamu yang saat ini mendapat balasannya nenek tua! Mendekamlah di sana sampai mati”, balas perempuan cantik tersebut sambil tertawa terbahak-bahak.

Tidak ada yang tahu apakah Elizabeth pernah berhasil keluar dari kastil tersebut atau tidak. Yang orang tahu, setiap melewati kastil tersebut selalu ada suara gedoran pintu.

______________________________________________________________________________________

End of story!”, kata seorang gadis bernama Arya. Arya baru saja menceritakan kisah yang baru saja dibuatnya. “Kastilnya digembok sama si perempuan cantik, jadi si Elizabeth nggak bisa keluar.”

Creepy”, komentar Carine. Carine adalah sahabat Arya yang sekaligus merupakan teman serumahnya.

“Lho kenapa? Kan penjahatnya akhirnya terhukum.”

“Iya tapi si perempuan cantik nggak terhukum.”

“Dia representasi dari karma”, jelas Arya.

Like it really exist, doh!”, Carine berkata nyinyir. “Anyway si nenek itu kok mirip si ibu tiri di film Snow White yang paling baru ya? Mirip Charlize Theron, bisa ngambil keremajaan.”

“Ah shit! Eh padahal gue nggak niru tuh! Bodo ah! Beda juga sih ceritanya.”, Arya menggerutu. Arya kemudian mencolek Lego, sahabatnya “Gimana man?”

Lego merupakan penduduk kamar atas rumah mereka. Lego sudah mengenal Arya sejak mereka di SD. Di samping Lego duduk kakak kembar laki-laki Arya bernama Arman yang sedang membaca.

“Soal karma?”, tanya Lego.

“Bebas komentar sih soal sisi apa aja dari dongeng yang barusan gue tuturkan.”

“Hmm..”, Agak berat tanggung jawab dalam pesan yang lo coba sampaikan. Tadi kan dia bilang ‘You deserve this’. Nggak tau ya, menurut gue tanggung jawab seorang manusia untuk menentukan apa yang manusia lain pantas dapatkan itu agak besar lho.”, ujar Lego.

“Ya itu hanya cerita”, jawab Arya.

“Cerita itu mengirimkan pesan. Does people actually really deserve something?”, ujar Lego.

“Emangnya enggak?”, Arya bertanya balik.

“Gue percaya semua orang itu berhak akan sesuatu. Hanya saja menurut gue manusia nggak punya cukup kebijaksanaan untuk bisa menentukan apa yang orang lain berhak dapatkan. Kalau kata gue manusia cuma bisa berusaha sebaik mungkin. Rejeki abis itu nyusul”, jelas Lego.

“Kalau ada anak belajar yang rajin banget, lalu dia bisa dapet A, itu kan sebenarnya bisa dibilang kalau dia berhak dapat nilai A itu. Karena dia udah berusaha keras.”, Arya berargumen.

“Yet ada orang yang usahanya lebih kecil tetapi dia mendapatkan hasil yang sama. Kalau gitu kan kita nggak bisa bilang kalau orang yang lebih santai nggak berhak mendapatkan hasil tersebut? Ya nggak?”, Lego berkata sabar.

So what’s your point man!”, tanya Arya, mulai mengkaji ulang posisi Lego sebagai teman terbaiknya.

My point is your story is good. Hanya saja penampilan karakter yang menentukan apa ganjaran yang sesuai untuk Elizabeth agak mengganggu gue. Gue lebih senang kalau pembaca dibiarkan saja untuk berasumsi kalau si Elizabeth lagi sial, atau menjadi korban, atau mendapat karma. Serahkan itu pada kekuatan lain yang lebih besar dari manusia.”

“Man sejak kapan lo jadi kayak bapak-bapak?”, Arya mengernyit. “Woy Arman ngomong dong! Butuh sedikit dukungan gue”, Arya memanggil kakaknya yang sedari tadi asyik membaca. Arya selalu merasa bahwa Arman memiliki penilaian lebih baik daripada siapa pun. Biasanya Arman hanya bicara jika diperlukan.

“Jujur gue lebih suka redemption, but couldn’t have happen to a nicer person”, Arman berkata dengan suara baritonnya. Ia tidak melepaskan pandangannya dari buku yang dibacanya. “Nggak ada yang lebih patut mendapatkan nasib itu daripada  si nenek. “

Thank you”, ujar Arya.

“Hey, gue nggak bilang kalian salah. Tadi kan elo nanya opini gua. Ya gua paparkan opini gua. Kalau ada yang setuju ya nggak apa-apa. Ini bukan soal siapa di pihak siapa Aryaa”, Lego seolah berbicara kepada anak kecil. Ia tersenyum maklum terhadap tingkah sahabatnya.

“Karena Lego yang  ngomong, so I don’t mind”, sahut Arya. Arya sudah menganggap Lego sebagai saudaranya sendiri.

“Menurut gua si cewek cantik banget yang nyuri itu pasti keren banget. Gue malah pengen tau dia siapa dan nasibnya gimana”, Carine menyahut.

“Ya justru itu kan, sebuah cerita bisa aja diinterpretasikan berbeda-beda sama pembacanya. Justru jadi bagus karena bisa menjadi bahan diskusi. Gimana dengan penjelasan gua barusan? Puas kamu Ya?”, ujar Lego sambil mengusap rambut Arya. Arya tak sempat menjawab karena mereka kedatangan dua orang tamu.

Hey gank!!! Whatsaappp niiii”, ujar sebuah suara cempreng dan sedikit terdengar menyebalkan meskipun pemiliknya sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Ia adalah Joker, teman satu sekolah Arman di SMP dan SMU.

“Yooo Fahri, Joker!”, sambut Arya.

“Hmm rame deh nih”, sahut Carine sambil manyun.

“Kenapa sih lo nggak seneng banget ada kite!”, sahut Joker dengan menunjukkan gesture tangan seperti rapper.

“Ya gimana nggak seneng, orang makanan pasti amblas”, Carine berkata sengit.

“Ga ada kita ga rame.Kalau nggak rame itu jadi sepi. Dan kesepian…bisa membunuh”, ujar Fahri sok puitis.

“Wo banci. Kekurangan makanan juga bisa bikin mati. Dan kita terancam kaya gitu kalo lo berdua keseringan maen ke sini!”, Carine berkata sengit.

“Kan ada nyonya besar di rumah sebelah”, Joker menunjuk tangannya ke rumah yang terlihat dari jendela rumah mereka. Mereka membicarakan mengenai Arla yang merupakan saudara kembar Arya dan Arman yang lain. Arman, Arya, dan Arla adalah kembar tiga. Arla merupakan kembar yang lahir terakhir. Mereka masih memiliki dua orang adik lagi bernama Sidney dan Sky yang juga kembar serta dua orang kakak bernama Rifat dan Gloria. Saudara-saudara mereka yang lain tidak tinggal bersama mereka.

Arla tinggal bersama Arman di rumah yang terletak persis di depan rumah yang didiami Arya. Sebenarnya seluruh rumah tersebut milik Arla. Di antara mereka semua, memang Arla yang paling kaya. Bahkan termasuk amat kaya mengingat usianya masih muda. Nggak usah dipikirin dulu gimana caranya Arla bisa sekaya itu sampai mampu membeli rumah yang cukup besar dan berlokasi di tengah kota.

Arya, Carine, dan Lego tinggal di sebuah paviliun mini yang dibangun di halaman rumah tersebut. Karena paviliun tersebut terletak di utara rumah utama, mereka menyebutnya dengan rumah lor. Sudah tidak terhitung berapa kisah dan curhatan yang telah mereka bagi di rumah lor. Rumah lor, meski jauh lebih kecil, tetapi terasa hangat.

“Ya kenapa lo pada ga ke sebelah aja?’, tanya Carine.

“Yang di sebelah nggak kangen sama kita. Kangennya sama …ah nggak tau deh sama siapa. Kalau kalian kan butuh kami”, ujar Joker yang mau berusaha sebagaimanapun akan tetap terdengar menyebalkan.

“Kalau kita kepepet sih kita tetep bakal main ke sana. Tapi sekarang kan belum kepepet”, ujar Fahri tidak tahu malu. Fahri ini sebenarnya memiliki suara yang serak-serak basah. Suaranya berat dan enak didengar, sayang sikapnya sering minus, mengikuti jejak teman baiknya si Joker, yang membuat teman-temannya kadang berharap mendingan ia tidak bicara.

Fahri sering disebut banci oleh temannya lantaran kebiasaannya untuk selalu memperhatikan penampilan. Meskipun demikian, ia selalu berjuang keras mempertahankan pernyataannya bahwa ia laki-laki sejati.

“Lagi ada gosip apa nih btw”, sahut Fahri.

“Nggak ini tadi lagi dengerin cerita Arya”, ujar Lego.

“Cerita apaan?”, tanya Joker.

“Ada dongeng. Tapi males gue ceritain ulang. Ntar gue bikin cerita baru lagi aja. Tunggu yaa!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s