Tempat Kopi ‘Terbaik’

LEGO

Do you believe in destiny? Fate? Atau apalah sebutannya. Kalau untuk gue sih takdir itu bukan untuk dipercaya saja sih, tetapi untuk dicari dan didengarkan. Gue ingin berbagi cerita mengenai pengalaman gue dengan takdir.

Mungkin ini menjadi sesuatu yang dapat lo semua coba. Waktu itu gue sama Arya lagi merasa garing di rumah. Arya kepingin pergi ngopi, tapi biasa deh kita berdua menganut paham terserah. Arya bilang terserah mau kemana, gue juga terserah Arya mau kemana. Ya pasti kalian pada tau bahwa kadang-kadang kita bilang terserah karena masing-masing nggak tau sebenarnya mau kemana dan berharap teman kita yang dapat mengambil keputusan.

Arya lalu memiliki ide untuk pergi ke sebuah tempat yang takdir tunjukkan. Gimana caranya kita mendengarkan takdir? Begini langkah-langkah yang kami berdua lakukan :

1. Arya mengirim pesan ke Arla : “La kanan, kiri, apa lurus? Nggak usah banyak mikir!”

2. Arla menjawab : “Kiri”

3. Gue mengirim pesan ke salah satu teman gue dengan pertanyaan yang sama.

4. Teman gue menjawab “Lurus”.

5. Arya dan gue melakukan hal yang sama kepada 49 teman kami lainnya (Jadi total 50 masing-masing).

6. Kami membuat daftar nomor 1-100 dan mengisinya dengan jawaban teman-teman kami. Jawaban Arla ditaruh di nomor 1, kemudian jawaban teman pertama teman gue ditaruh di nomor 2. Jadi cara ngurutin isi jawabannya adalah teman Arya 1, teman Lego1, teman Arya 2, teman Lego 2. Gitu deh.

7. Kami kemudian mendapatkan 100 suruhan untuk pergi ke kanan, kiri, atau lurus. Itulah yang menjadi peta kami untuk menemukan tempat ngopi.

 

Keterangan : Tempat ngopi yang dimaksud tidak selalu harus sebuah coffee shop. Misalnya di tempat yang dituju tidak ada sebuah kopi (misal sebuah taman), maka mungkin saja kami membeli kopi di mini market dan duduk-duduk di taman tersebut.

Begitulah cara kerjanya. Kami pun melaksanakan misi tersebut. Pada awalnya kami sempat berputar-putar di tempat yang sama. Namun dasar takdir, kami akhirnya memasuki jalan besar. Kami akhirnya sampai di sebuah jalan perumahan yang cukup kecil. Salah satu rumahnya ternyata sedang mengadakan pesta pernikahan. Rumahnya sih sederhana banget. Mereka masang tenda di jalan karena rumahnya terlalu kecil untuk menampung semua tamu. Kami berdua untungnya mengenakan sepatu dan celana panjang, meskipun celana jeans. Gue memakai t-shirt sementara Arya memakai sebuah blus warna hitam. Kalau melihat kesederhanaan pestanya sih, kami nggak saltum-saltum banget.

Arya saat itu memiliki pemikiran yang sama dengan gue, bahwa pesta pernikahan itulah yang akan menjadi tempat kami untuk minum kopi. Pertanyaannya adalah gimana kita bisa gabung dalam acara tersebut?

Tak kurang akal Arya menyuruh gue untuk pasang badan dan berbicara dengan si empunya rumah. Karena di janur nggak ada nama pengantinnya, maka ide untuk pura-pura jadi teman mempelai kandas sudah. Untung bagi kami, rupanya yang nikah orang Betawi dan mereka mempertontonkan musik debus. Gue berencana untuk menjadikan musik tersebut sebagai niatan gue masuk ke rumah itu. Karena gue pengen nonton.

Rupanya salah satu tamu di situ nggak curiga apa-apa dan mempersilahkan kami masuk. Pas kami mengisi buku tamu dan diberi tanda terima kasih, barulah gue dapet informasi bahwa si pengantin itu namanya Eja dan Queen. Gaya juga nih nama mempelai perempuannya.

Kami lalu masuk ke dalam rumah. Gue dan Arya masih nggak punya ide siapa yang sebenarnya adalah tuan rumah. Sempat bingung juga sih pas kita masuk rumah taunya ada pelaminan di ruang tamu. Arya dengan tololnya main masuk aja dan menyalami pengantin. Mungkin nggak tolol sih soalnya si Bapak dan Ibu serta si mempelai manggut-manggut saja. Di pernikahan yang sederhana pun rupanya pengantin tetap keder mengetahui mana yang penyelundup dan mana yang bukan. Lucunya setelah menyalami, kami langsung diminta berfoto. Ya kami punya pilihan apa? Tetapi kami benar-benar tulus mendoakan mereka.

Akhirnya kami keluar rumah dan menuju garasi rumah tersebut yang telah disulap menjadi tempat menaruh makanan. Daaaan ada kopi!!!!! Bahagianya hati kami. Arya sampai melompat-lompat karena senang. Kami pun akhirnya minum kopi disuguhi oleh musik debus yang disajikan. Ada ibu-ibu yang nanya “Teman-temannya Queen ya? Atau Eja?”.

“Kita teman dua-duanya Bu! Saya doain mereka bahagia”, ujar Arya. Ibu-ibu itu pun mempersilahkan kami menikmati sajian dan pertunjukkan. Untung saja dia tidak bertanya lebih lanjut.

Nggak disangka kami betah juga di sana. Orang-orang sempat menari Zapin bersama-sama. Kami pun dengan cueknya ikut menari. Arya sih senang banget malam itu.

Itulah kisah sebuah takdir akhirnya menghantarkan kami pada bergelas-gelas kopi gratis dan makanan yang diminta salah satu tante Eja/Queen untuk kami bawah pulang. Gue rasa kita dikira kere banget karena pakai baju santai ke pernikahan. Gue sih akhirnya masukin duit untuk angpau. Yah itung-itung biaya kopi. Hari yang lumayan menyenangkan sih bagi gue.

Pada akhir hari itu gue tidur dengan sebuah pertanyaan mengenai gimana reaksi mereka saat sama-sama melihat foto-foto pernikahan dan akhirnya menyadari bahwa kami ini nggak diundang.

(Thanks to Andra yg pernah melakukan ini bersama gue. Meski kami nggak numpang ke nikahan orang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s